Kasus Lima Pasien Taiwan yang Ditransplantasi Organ Terinfeksi HIV Stabil, Statu
Tanggal: Tuesday, 06 September 2011
Topik: HIV/AIDS


Radar Jogja, 05 September 2011

TAIPEI - Lima pasien yang menjadi korban malapraktik di Taiwan hingga dalam kondisi stabil. Tapi, belum semuanya diberi tahu bahwa organ baru yang ditransplantasikan ke tubuh mereka mengandung HIV.

Empat orang di antara lima pasien tersebut dirawat di National Taiwan University Hospital (NTUH), sedangkan satunya lagi di National Cheng Kung University Hospital (NCUH). Dua rumah sakit itu berada di Kota Hsinchu.

’’Tim medis NTUH akan menyediakan segala bentuk dukungan dan perawatan yang dibutuhkan para pasien,’’ kata pihak NTUH dalam rilis resminya sebagaimana dikutip China Post.

Meski sadar akan besarnya perhatian terhadap kasus yang menghebohkan Taiwan tersebut, NTUH meminta publik menghormati privasi lima pasien itu dan keluarga mereka. ’’Sebab, mereka dalam tekanan yang sangat besar,’’ lanjut NTUH dalam rilisnya.

Atas persetujuan keluarga mereka, selain pengobatan anti penolakan setelah transplantasi, sejak 26 Agustus lalu lima pasien itu juga menjalani perawatan antiviral. Pengobatan anti–HIV itu membutuhkan waktu setidaknya tiga bulan.

Mengenai apakah mereka sudah tertular HIV, menurut Shih Wen-yi, wakil direktur Pusat Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Taiwan, baru bisa diketahui paling cepat enam bulan sesudah program pengobatan anti-HIV selesai. Itu berarti baru 25 Mei mendatang status mereka jelas: tertular atau tidak. Asalkan pengobatan dijalankan secara disiplin, terbuka kemungkinan lima pasien itu terbebas dari HIV. Contohnya sudah ada di Taiwan 11 tahun silam.

Menurut Liao Hsueh-tsung, direktur Pusat Terapi AIDS di Taipei Medical University Hospital, ketika itu seorang pasien yang secara tak sengaja ditransfusi darah terinfeksi HIV juga menjalani perawatan khusus anti-HIV.

’’Hasilnya, saat dites enam bulan kemudian setelah pengobatan selesai, dia negatif,’’ katanya kepada Taipei Times.

Karena itulah, Kementerian Kesehatan berjanji bakal memantau secara intensif perawatan lima pasien yang identitasnya dirahasikan itu. Untuk melakukan tugas tersebut, Kementerian Kesehatan telah membentuk tim konsultasi yang beranggota sembilan pakar dengan beragam latar belakang. Mulai psikolog, pekerja sosial, hingga pakar medis dan obat-obatan. Salah seorang di antaranya, David Ho. Ho merupakan akademisi terpandang yang pakar mengenai HIV/AIDS. Dia adalah warga Amerika Serikat keturunan Taiwan.

’’Kami berkonsultasi dengan pakar-pakar asing, termasuk Ho, agar bisa mendapat hasil terbaik bagi lima pasien,’’ ujar Chang Feng-yee, direktur jenderal Pusat Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Taiwan.

Picu Munculnya Ide Diskriminatif

SELAIN menimbulkan keprihatinan mendalam, skandal transplantasi organ terinfeksi virus HIV di Taiwan itu memicu kemarahan aktivis HIV/AIDS. Gara-garanya, ide kontroversial yang berangkat dari kasus yang menimpa lima pasien di dua rumah sakit terpandang di negeri bekas jajahan Jepang itu, National Taiwan University Hospital dan National Chen Kung University Hospital.

Ide yang diapungkan sejumlah legislator itu berupa pencantuman status HIV/AIDS seseorang di kartu asuransi kesehatan mereka. Warga Taiwan memang dilindungi jaminan kesehatan lewat program Asuransi Kesehatan Nasional dan setiap kali berobat harus membawa kartunya.

Ivory Lin, sekretaris jenderal Asosiasi Pembela Hak-Hak Warga dengan HIV/AIDS Taiwan, menentang keras ide tersebut. Dia menganggapnya sangat diskriminatif. ”Itu sama saja menstigmatisasi mereka yang hidup dengan HIV/AIDS,” katanya kepada China Post.

Selain itu, dengan mencantumkan keterangan apakah seseorang menderita AIDS di kartu asuransi mereka sama sekali tak akan mencegah calon pasien transplan terhadap kemungkinan tertular. Sebab, banyak calon donor yang tidak sadar bahwa di tubuh mereka tekah bersarang virus mematikan tersebut. ”Jadi, tetap saja rumah sakit harus menjalankan tes untuk memastikan si calon donor terinfeksi HIV atau tidak,” kata Ivory.

Secara terpisah, seorang aktivis HIV/AIDS lain dari Taiwan Tong-zhi Hotline Association yang mengidentifikasi dirinya sebagai Goffy menambahkan, sekarang saja diskriminasi sudah kerap dialami penderita AIDS. ”Banyak rumah sakit yang menolak merawat teman-teman yang menderita AIDS meski mereka memiliki asuransi,” kata Goffy.

Sebenarnya, ide kontroversial serupa pernah muncul di Indonesia. Pada 2008, seorang legislator di Papua, John Manangsang, mengusulkan peraturan daerah tentang penanaman chip kepada penderita HIV. Juga pemberian kartu HIV/AIDS bagi yang telah terinfeksi yang harus diperbarui tiap bulan.

Usul tersebut akhirnya kandas karena ditentang banyak kalangan. Melihat respons serupa di Taiwan, bisa jadi ide diskriminatif tadi juga bakal tumbang. (c2/ttg)

Sumber: http://www.radarjogja.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4674