http://www.cenderawasihpos.com
">


Empat Ibu Hamil Ditemukan Positif HIV-AIDS
Tanggal: Monday, 12 September 2011
Topik: HIV/AIDS


Cenderawasih Pos, 12 September 2011

MERAUKE - Penularan HIV-AIDS di Kabupaten Merauke, kini tidak hanya untuk kalangan yang bekerja pada tempat yang beresiko tinggi seperti lokalisasi saja, namun telah masuk ke semua lini profesi. Hal itu dibuktikan ditemukannya 4 ibu hamil yang positif HIV-AIDS di Kabupaten Merauke selama periode Agustus 2011 ini.

‘’Selama periode Agustus kemarin tercatat 4 ibu hamil yang ditemukan positif HIV-AIDS," kata Sekretaris KPA Merauke Heni Astuti Suparman, SH yang juga anggota DPRD Merauke dari Komisi A tersebut, Sabtu (10/9).

Dengan ditemukannya 4 ibu hamil yang positif HIV-AIDS tersebut, ungkap Heni Astuti, jumlah ibu Hamil yang positif HIV/AIDS sudah 8 orang. ‘’Dari 8 ibu hamil itu, mungkin ada yang sudah melahirkan. Hanya persoalannya, anak yang dilahirkan kemungkinan besar terinveksi karena para ibu hamil ini diketahui positif terinveksi setelah perutnya sudah besar. Artinya, tidak ada penanganan secara dini. Kalau sejak awal diketahui terinveksi, tentu ada penaganan secara dini sehingga anak yang dilahirkan tidak ikut teriveksi,’’ katanya.

Ditanya, dari 8 ibu yang hamil positif terinveksi HIV-AIDS tersebut, Heni Astuti mengaku belum mengetahui secara pasti apakah suaminya juga sudah positif. ‘’Itu saya belum sempat tanyakan Ketua Pusat Kesehatan Reproduksi (KPR) RSUD Merauke dr Inge Silvia,’’ jelasnya.

Dijelaskan lebih lanjut, dari 14 yang ditemukan positif HIV-AIDS di bulan Agustus tersebut, selain 4 ibu hamil, juga ditemukan 6 laki-laki beresiko, 1 Wanita Pramuria Seksual (WPS) tidak langsung.

Sedangkan 3 lainnya dari profesi lain. ‘’Setiap WPS Tidak Langsung maupun WPS Langsung yang masuk ke Merauke sebelum bekerja di Merauke harus melalui pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu untuk mengetahui status kesehatannya. Kalau ternyata hasil pemeriksaan itu dia sudah positif terinveksi, maka yang bersangkutan tidak boleh bekerja pada tempat beresiko tinggi,’’ katanya.

Hanya saja, diakui Heni Astuti, larangan untuk tidak bekerja pada tempat beresiko tinggi tersebut tidak ada jaminan jika yang bersangkutan tidak melakukan transaksi karena tidak ada yang mengawasi secara lansung.

‘’Itu kembali kepada yang bersangkutan lagi. Kalau sudah dilarang seharusnya tidak boleh melakukan transaksi apalagi tidak menggunakan pengaman. Karena tidak mungkin kita mengawasi,’’ tambahnya.(ulo/nan)

Sumber: http://www.cenderawasihpos.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4693