Pasukan Penjaga Perdamaian Rentan Terjangkit
Tanggal: Monday, 19 September 2011
Topik: Narkoba


Seputar Indonesia, 18 September 2011

Para peacekeepers di wilayah konflik tidak saja menghadapi ancaman berupa serangan bersenjata,mereka juga dinilai rawan terhadap kemungkinan terjangkit virus HIV/AIDS. Situasi ini menjadi perhatian serius bagi seluruh pasukan.

Di Lebanon, penyuluhan tentang HIV/AIDS merupakan kerja rutin yang dilakukan Unit HIV/AIDS training UNIFIL Head Quarter Naqoura.“Kami ditempatkan di sini,di wilayah konflik,jadi kami harus sepenuhnya peduli pada masalah ini,”kata konselor HIV/AIDS di unit itu Basundhara Barati.

Basundhara yang dari India pada Selasa–Rabu (13–14/9) mengadakan penyuluhan AIDS kepada prajurit Indobatt di Markas Batalion UN Position 7-1, Adshit Al Qusayr,Lebanon Selatan.Unit ini bekerja sama dengan tim kesehatan Satgas Yonmek Konga XXIIIE/ UNIFIL atau Indonesian Battalion (Indobatt) yang diprakarsai oleh Lettu CKM Paulus Dimu,Lettu Kes Bhayu Rizallinoor,dan Lettu CKM Aziz Mubarraq.

Menurut Basundhara, peacekeepers atau pasukan penjaga perdamaian cukup rentan untuk terjangkit virus mematikan ini.Sebab,wilayah penugasan mereka yang jauh dari keluarga memiliki kerawanan timbulnya transaksi seksual,terutama pada korban konflik yang membutuhkan uang atau makanan untuk bertahan hidup.

Apalagi,rata-rata mereka bertugas pada masa usia produktif. Lewat program ini, prajurit diharapkan mendapat pengetahuan yang lebih lengkap tentang HIV/AIDS sehingga mereka dapat menghindari stigma dan diskriminasi terhadap para pengidap HIV/AIDS.“Mereka (pengidap) memiliki hak yang sama untuk bekerja sepanjang dia mampu dan secara medis dinilai belum terjangkit infeksi oportunis yang dapat dengan mudah menular kepada rekan-rekan kerjanya,”lanjut Basundhara.

Komandan Indobatt Letkol Inf Hendy Antariksa didampingi Wadan Satgas Letkol Mar Harnoko mengatakan,konseling dibagi menjadi dua sesi.Pertama berupa diskusi tentang seputar masalah HIV-AIDS seperti tentang definisi,cara penularan,pencegahan dan pengobatan,serta kebijakan PBB terhadap masalah HIV/AIDS.

“Sesi kedua adalah pemeriksaan darah cepat untuk virus HIV bagi para peserta konseling,”kata Hendy. Menurut dia,antusiasme para peserta yang diwakili 153 prajurit Indobatt cukup tinggi. Ini terlihat dari jalannya diskusi yang berlangsung secara aktif dan lancar.

“Tingkat pemahaman dari peserta terhadap materi yang diberikan juga cukup tinggi,” urai dia. Kegiatan ini,sambung Hendy,sangat positif untuk pencegahan dini terhadap kemungkinan tertularnya virus yang sangat mematikan itu.”Dengan mengenal lebih dalam apa yang dinamakan HIV/AIDS serta memahami upaya pencegahannya,kita akan terhindar dari penyakit ini,”terangnya.

Tidak saja di Lebanon, pemeriksaan tentang HIV/AIDS juga digelar bagi prajurit Paskhas TNI Angkatan Udara di Markas Komando Korpaskhas. Pemeriksaan oleh Dinas Kesehatan Korpaskhas ini juga untuk mencegah adanya penyalahgunaan obat-obatan terlarang oleh personel.

Kepala Dinas Kesehatan Korpaskhas Letkol Kes P Aribowo mengatakan, kegiatan yang rutin dilakukan dalam setiap tahun ini untuk deteksi dini sekaligus mencegah prajurit Korpaskhas terjangkit penyakit HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba. ●FEFY DWI HARYANTO

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4741