http://www.surabayapost.co.id
">


15 Anak Lahir Ibu Pengidap HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 19 September 2011
Topik: HIV/AIDS


Surabaya Post, 19 September 2011

KEDIRI – Sedikitnya 15 anak di wilayah Kabupaten Kediri ditengarai lahir dari orang tua (ibu) pengidap HIV/AIDS alias ODHA. Dari senanyak belasan anak tersebut, tinggal enam anak yang kini masih dalam pantauan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri. Sebab, mereka mengikuti program Preventing Mother-to-child Transmission (PMTCT). Sedangkan sembilan anak lainnya tidak mengikuti program PMTCT.

“Anak yang mengikuti program PMTCT bisa terus dipantau kondisinya, termasuk pemberian obat sejak dini dan mengatahui jika mereka positif terinveksi HIV/AIDS. Namun sulit dilakukan bagi sembilan anak yang tidak mengikuti program PMTCT,” kata Nur Munawaroh, Kepala Seksi Pemberantasana Penyakit Menular Langsung (P2ML) Dinkes, Minggu (18/9),

“Mungkin mereka sudah tidak tinggal di Kediri lagi dan kamipun kesulitan untuk mengetahui keberadaannya. Padahal, dengan program PMTCT ini, kami bisa berikan pantauan dan pengobatan sejak dini, jika positif terinfeksi,” terang dia.

Sekadar diketahui, dari enam anak yang kini mengikuti program PMTCT Dinkes, diketahui tiga di antara positif mengidap HIV/AIDS. Sementara sisanya masih belum teridentifikasi, mengingat usia mereka masih belum mencapai 18 tahun. Sedangkan kondisi ketiga anak yang diketahui positif terinfeksi, saat ini masih terlihat normal, dan belum menunjukkan penurunan daya tahan tubuh.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri praktik prostitusi di eks Lokalisasi Semampir Kota Kediri masih cukup besar. Hal itu terkuak dengan masih banyaknya penggunaan, yaitu kebutuhan kondom yang mencapai 600 buah setiap bulannya. Tinggikan kebutuhan kondom seiring dengan padatnya jumlah pengunjung di tempat prostitusi bawah Jembatan Semampir itu. Selain faktor animo pengunjung banyaknya kebutuhan kondom juga tidak lepas dari gencarnya sosialisasi pemakaian kondom oleh Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) setempat.

Ketua RT 2/RW 5 Semampir, Kemi mengungkapkan, kebutuhan kondom yang mencapai ratusan buah setiap bulannya disuplai oleh KPAD setempat secara gratis. Kondom-kondom tersebut mencukupi kebutuhan sekitar 190 Pekerja Seks Komersial (PSK) yang selama ini beroperasi di eks Lokalisasi Semampir. “Bila suplai KPAD tidak mencukupi, biasanya lokalisasi ada yang menjual kondom eceran kepada para pengguna jasa prostitusi. Kebanyakan kondom yang dipakai adalah jenis kondom laki-laki,” ujar Kemi, Minggu (18/9).

Pengurus eks Lokalisasi Semampir sebagian besar berasal dari Kediri. Para PSK kebanyakan datang karena latar belakang himpitan ekonomi, disusul faktor lingkungan dan penyebab lainnya. gim

Sumber: http://www.surabayapost.co.id






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4745