Pengetahuan Remaja Tentang HIV/ AIDS Masih Minim
Tanggal: Thursday, 22 September 2011
Topik: HIV/AIDS


TRIBUNJOGJA.COM, 21 September 2011

YOGYA - Pengetahuan dan pemahaman tentang HIV/ AIDS, khususnya pada kalangan usia 15 tahun ke atas, saat ini terbilang masih minim. Hal itu dimungkinkan terjadi karena kordinasi antarstakeholder yang belum terjalin dan berjalan kurang lancar.

Hal tersebut disampaikan oleh dr Yanri Soebroto kepada wartawan dalam acara jumpa pers Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS IV, di ruang Bima hotel Inna Garuda Yogyakarta, Rabu (21/9/2011). Menurutnya, pemahaman dasar terkait bahaya HIV/ AIDS dan penanggulangannya sangat dibutuhkan bagi semua orang, khususnya remaja.

"Tentunya dibutuhkan peran serta masyarakat, termasuk juga lembaga pemerintah dan pihak terkait lainnya," terang Yanri.

Ia menilai, ajang Pernas AIDS ini merupakan momentum yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Pasalnya dalam acara akan digelar pada 3-6 Oktober mendatang itu, pihak panitia juga akan mengundang Menteri dalam Negeri, Menteri Kesehatan, gubernur, bupati dan wali kota seluruh Indonesia.

Dengan demikian, lanjut Yanri, para pejabat tersebut nantinya akan dapat memfokuskan pada upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/ AIDS di wilayah masing-masing. Ia pun berujar, sudah saatnya para pemerintah daerah tersebut tidak menutup mata terkait HIV/ AIDS ini.

"Sudah saatnya kita semua, terutama para pemimpin daerah juga aware dan concern terhadap upaya penanggulangan HIV/ AIDS ini, agar tidak semakin meluas dan jumlahnya bertambah," tutur dokter dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta ini.

Ia pun menuturkan, sistem layanan kesehatan, mulai tingkat Puskesmas hingga rumah sakit milik pemerintah dan swasta dipandang perlu untuk peduli pada penanganan penderita HIV/ AIDS. Upaya pencegahan lain, semisal pemberian pemahaman dan edukasi seks, penggunaan kondom serta penggunaan jarum suntik yang steril dan tidak dipakai bergantian, juga merupakan langkah yang diperlukan.

"Melalui ajang Pernas AIDS ini, kita bisa melihat fenomena yang terjadi lima tahun ke belakang dan akan bagaimana langkah yang dapat ditempuh ke depannya," tambah Yanri.

Sddangkan Riswanto dari KPAP DI Yogyakarta menambahkan, masa inkubasi HIV/ AIDS berkisar antara lima hingga 10 tahun. Bila mellihat fenomena seks bebas yang mulai marak di kalangan remaja, misalnya pelajar SMP, bisa jadi mereka baru akan positif terkena HIV/AIDS saat mereka menginjak usia dewasa.

"Usia mayoritas penderita HIV/ AIDS ini berkisar di usia 20-29 tahun. Besar kemungkinan mereka ini telah melakukan hubungan seks bebas pada saat mereka SMP," katanya.

Ia pun menjelaskan, berdasarkan data survei, umumnya para pengidap HIV/ AIDS terkena virus ini dari heteroseks atau jarum suntik yang dipakai bergiliran. Untuk itu, menurutnya, perlu upaya dari masyarakat luas, terutama para pejabat yang berwenang ,untuk melakukan dan merumuskan langkah-langkah dan upaya penanggulangan meluasnya HIV/AIDS.

Adapun Pernas IV AIDS menurut rencana akan diikuti sekitar 1.500 peserta dari seluruh Indonesia. Secara umum Pernas ini akan melakukan review program penanggulangan HIV/ AIDS selama lima tahun sejak Perpres 75/ 2006 serta konsolidasi upaya penanggulangan lima tahun ke depan.

Sumber: http://www.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4762