Pelajaran Bahaya HIV/AIDS Diwajibkan di Sekolah
Tanggal: Monday, 26 September 2011
Topik: HIV/AIDS


Berita8.com, 25 September 2011

Sebagai upaya penanggulangan HIV/AIDS secara dini di kalangan remaja, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mewajibkan sekolah untuk menyisipkan pengetahuan tentang HIV/AIDS di sejumlah mata pelajaran.

Kepala Sub Direktorat Kelembagaan dan Peserta Didik Kemendiknas Sutji Harijanto, dalam "Lokakarya Penanggulangan HIV/AIDS" di Hotel Homann, Jalan Asia Afrika, Bandung, Sabtu (24/9/2011), mengatakan berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, terhitung sejak tahun 1989 hingga Juni 2011 tercatat jumlah penderita HIV/AIDS berasal dari kalangan usia muda, yakni remaja mulai dari 15 hingga 24 tahun.

Kemungkinan resiko terkena HIV/AIDS bagi rentan usia tersebut saat ini mencapai hingga 60 persen, papar dia.

Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Komisi Penanggulangan AIDS memutuskan untuk menentukan rentan usia tersebut sebagai target utama penanggulangan dini.

"Kemendiknas telah memberikan ketentuan pada sekolah menengah untuk menyisipkan wawasan tentang HIV/AIDS dalam beberapa mata pelajaran di sekolah, dalam hal ini SMP dan SMA," kata Sutji.

Mata pelajaran yang diwajibkan tersebut di antaranya, Pendidikan Agama, Kewarganegaraan dan Kepribadian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Seni dan Estetika, dan Pendidikan Kesehatan Jasmani.

Sutji menuturkan, materi tentang bahaya HIV/AIDS memang harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan menengah melalui mata pelajaran yang relevan dengan isu tersebut.

"Setiap guru mata pelajaran wajib setidaknya memasukkan pengetahuan dan wawasan tentang bahaya HIV/AIDS dalam kegiatan belajar mengajarnya. Terserah bagaimana metode dan cara penyampaiannya karena yang terpenting adalah intensitasnya," kata Sutji.

Namun, Sutji menyampaikan, sebaiknya metode penyampaian tersebut disesuaikan dengan karakter target, dalam hal ini remaja.

"Biasanya untuk usia remaja itu dibutuhkan metode yang menarik dan tidak membosankan. Jadi setiap sekolah atau pun guru bisa menentukan cara seperti apa yang kira-kira menarik bagi siswanya," katanya.

Penyampaian wawasan seputar HIV/AIDS di lingkungan sekolah dianggap cukup efektif karena dalam satu hari sebanyak 30 persen waktu remaja dihabiskan di sekolah.

"Meski demikian tetap yang berperan tidak hanya tanggungjawab badan pendidikan saja. Karena faktor yang lebih menentukan justru dari lingkungan bermasyarakat dan lingkungan keluarga di rumah," ujar Sutji.

Selain disisipkan dalam sejumlah mata pelajaran, lanjut Sutji, pembekalan tentang HIV/AIDS ini juga sudah mulai disisipkan dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah menengah.

"Dalam ekstrakurikuler Pramuka misalnya. Materi seperti ini kan bisa disisipkan di materi perlombaan," lanjutnya.

Sutji menambahkan, selain materi tentang HIV/AIDS pihaknya juga sudah telah memberikan ketentuan bagi sekolah-sekolah menengah untuk mengikutsertakan materi tentang bahaya narkoba dan napza di sejumlah mata pelajaran yang sama.

"Tujuan sama, membekali remaja untuk mengetahui tentang bahaya narkoba secara komprehensif dan bagaimana cara pencegahannya," tuturnya.

Selain upaya tersebut, Kemendiknas juga memberikan bantuan sosial pada sekolah-sekolah menengah untuk menyelenggarakan sosialisasi HIV/AIDS dan narkoba melalui komite dan dewan sekolah. (Aef/At)

Sumber: http://www.berita8.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4789