Penjual Obat Tipu PSK
Tanggal: Monday, 26 September 2011
Topik: Narkoba


Pontianak Post, 26 September 2011

KETAPANG - Seorang penjual obat keliling, Ur, 22, warga Sungai Kinjil, tampak gelagapan saat dipergoki petugas Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Ketapang, usai menjual obat ke PSK di sebuah kafe di kawasan Kolam, sekitar pukul 15.00, Jumat (23/9).Dua orang petugas KPA, Acik dan Dani, semula mendapat laporan dari dua PSK yang mangkal di kolam. Kedua PSK tersebut menceritakan bahwa ada petugas KPA yang menjual obat ke mereka. Wajar saja Acik dan Dani, heran. Terlebih nama ‘petugas KPA’ yang disebutkan PSK tersebut terasa asing. “Saat kami mau mengantarkan kondom ke sana (Kolam,red)), mereka (PSK) datang dan menanyakan apakah ada petugas KPA yang namanya Ur. Kami bilang tidak ada. Mereka bilang kalau Ur, datang mengaku sebagai petugas KPA dan Dinkes Ketapang. Ur, menjual obat,” kata Dani.

Penasaran, Acik dan Dani kemudian meminta jenis obat yang sempat dibeli dari Ur. Anehnya, obat jenis kapsul yang dijual tersebut tak tertera hanya dibungkus tabung plastik polos. Tidak tertera nama, aturan makan maupun bahan-bahan yang terkandung dalam kapsul tersebut. Acik kemudian membawa kapsul tersebut ke RSUD Agoesdjam untuk dicek. “Acik yang membawa ke RSUD Agoesdjam di bagian pengecekan darah. Setelah diperiksa rupaya kapsul itu hanya jamu herbal semata. Sedangkan Ur, mengatakan kepada para PSK, bahwa obat itu untuk mencegah HIV. Terlebih Ur, membawa tensi (alat pengecek tekanan darah),” jelas Dani.

Singkat cerita, Acik dan Dani kemudian meminta salah seorang PSK mendatangkan Ur. Setelah ditelepon dengan alasan sakit kaki, Ur. Tak lama berselang Ur, pun datang. Berlagak seperti dokter, ia kemudian mengatakan bahwa PSK tersebut terkena asam urat. Geram dengan ‘gaya’ petugas KPA gadungan itu, Acik dan Dani pun kemudian menghampiri.Setelah memperkenalkan bahwa mereka adalah petugas KPA, UR, langsung gelagapan. Meski dipergoki begitu, UR, masih sempat-sempatnya berkilah bahwa dirinya tak pernah mengaku sebagai petugas KPA maupun Dinkes. Mendengar itu, Acik sempat emosi dan melemparkan kapsul yang dijual ke wajah UR. “Mbak-mbak di sini (kolam, red) bilang kalau kamu mengaku petugas dari KPA Ketapang. KPA hanya memberikan penyuluhan dan kondom. Itupun gratis,” kata Acik.

Di hadapan petugas KPA, para PSK dan penjaga Kolam, UR, tetap menyangkal. Ia mengatakan bahwa ketika menjual obat ia mengaku dari penyalur multivitamin di Jalan R Soeprapto Ketapang. Ia juga mengaku telah lima kali datang ke kolam untuk menjual obat. Di hadapan para PSK dan petugas KPA itu pula Ur, mengaku kapsul yang dijualnya itu adalah obat penurun kadar lemak. “Obat itu saya beli di apotek Asia Jaya di Jalan Merdeka. Harganya Rp 26 ribu dan saya jual Rp 80 ribu. Bungkusnya memang ada tapi entah kemana,” aku pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga SMP itu.Namun salah seorang PSK, yang membeli obat tersebut langsung menyela. Ia mengaku bungkus kapsul itu polos. Tak ada keterangan aturan pakai, komposisi obat maupun apatah lagi resep dokter. PSK tersebut mengaku percaya kepada UR, lantaran mengaku dari KPA Ketapang.

“Dia (UR, red) bilang ini obat untuk mencegah HIV. Saya percaya saja, karena saya baru di sini (Kolam, red). Bungkus obat juga polos, tidak ada kotaknya atau ketarangan aturan pakai. Ini lah yang dijual ke saya,” ujar PSK seraya menunjukkan tabung plastik obat warna putih.Pengakuan juga datang dari Yl, salah seorang PSK. Yl, mengaku membeli obat menggugurkan kandungan dari Ur, seharga Rp 350 ribu. Ia mengaku UR, sempat menjanjikan jika tak ada reaksi dalam seminggu uang akan kembali. Tapi nyatanya sudah tiga Minggu tak ada reaksi apa-apa.Menanggapai kejadian tersebut, Pengelola Program KPA Ketapang, Zulfahmi, berencana akan melaporkan ke pihak berwajib. (ash)

Sumber: http://www.pontianakpost.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4793