http://health.kompas.com
">


60 Persen Penduduk Pakai Kontrasepsi
Tanggal: Tuesday, 27 September 2011
Topik: Narkoba


Kompas.com, 26 September 2011

Jakarta - Informasi yang tepat dan akurat mengenai berbagai pilihan alat kontrasepsi diharapkan menepis mitos yang salah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan keluarga. Saat ini penggunaan kontrasepsi di Indonesia baru mencapai 60 persen dan didominasi kontrasepsi jangka pendek.

"Setiap masyarakat memerlukan informasi yang akurat agar mereka bisa memilih kontrasepsi yang tepat. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan, karena itu harus diinformasikan dengan benar, tidak perlu ada yang dilebih-lebihkan atau ditutupi," kata Dr.Sugiri Syarief, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam acara jumpa pers hari kontrasepsi sedunia di Jakarta (26/9).

Menurut Tod Callahan, country director DKT Indonesia, organisasi sosial yang berfokus pada penggunaan kontrasepsi dan pencegahan HIV/AIDS, dibandingkan dengan negara berkembang lainnya jumlah cakupan KB di Indonesia termasuk tinggi.

"Jumlah akseptor KB di Indonesia jauh lebih tinggi dari pada Filipina yang hanya 30 persen, atau Turki," kata Tod dalam kesempatan yang sama.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 menyebutkan angka kehamilan yang tidak diinginkan sebesar 9,1 persen atau terjadi pada 9 juta perempuan setiap tahunnya. Sementara itu jumlah penduduk yang memakai kontrasepsi jangka panjang baru 10,3 persen.

"Kontrasepsi jangka panjang sangat membantu menurunkan angka kematian ibu dan kehamilan yang tidak diinginkan serta aborsi," kata Sugiri. Sayangnya menurut dia, baru 39 persen wanita muda yang mengetahui kontrasepsi jangka panjang.

Untuk mendukung pemerintah meningkatkan peran serta masyarakat dalam program KB, BKKBN bekerjasama dengan DKT Indonesia melakukan inisiatif untuk mempromosikan kontrasepsi jangka panjang dan permanen seperti tubektomi, vasektomi, dan IUD (KB spiral).

Dalam inisiatif tersebut DKT Indonesia mengundang pakar kontrasepsi dari Bangladesh dan Inggris untuk menciptkan model promosi kontrasepsi jangka panjang. Selain itu DKT juga bekerjasama dengan Ikatan Bidan Indonesia mengadakan program beasiswa untuk mahasiswi kebidanan berprestasi.

Menurut Harni M.Kusno, Ketua Ikatan Bidan Indonesia, program beasiswa tersebut diharapkan bisa meningkatkan kualitas bidan. "Bidan memiliki kewenangan dalam menolong persalinan hingga pelayanan kontrasepsi. Para bidan saat ini juga sudah mendapatkan pelatihan mengenai kontrasepsi sehingga mereka bisa menjelaskan kepada masyarakat," katanya.

Sumber: http://health.kompas.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4797