Uni Eropa Tak Teruskan Program HIV-AIDS Jawa Barat
Tanggal: Thursday, 29 September 2011
Topik: HIV/AIDS


TEMPO Interaktif, 28 September 2011

Bandung - Program Integrated Management for Prevention and Control and Treatment of HIV/ AIDS (Impact) yang didanai Uni Eropa akan berakhir November 2011. Program yang hanya menangani masalah HIV/AIDS di Jawa Barat itu sudah berjalan lima tahun sejak Desember 2006. "Sudah cukup panjang dan hasilnya sudah bagus," kata Manajer Program Impact Lucas Pinxten saat mengunjungi SMPN 4 Bandung, Rabu, 28 September 2011.

Dana untuk program tersebut mencapai 3 juta euro untuk lima tahun. Di Jawa Barat, program dilaksanakan oleh para dosen Universitas Padjadjaran, Bandung, di antaranya dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi, serta dokter dan Rumah Sakit Hasan Sadikin. Adapun materi program bekerja sama dengan Redbond University Nijmegen The Netherland, Masstricht University The Netherland, dan Universiteit Antwerpen Belgia.

Hasilnya, materi pencegahan HIV/AIDS kini telah masuk kurikulum di 10 sekolah menengah pertama negeri di Kota Bandung. Sasaran ke pelajar SMP ini, kata Lucas, karena berdasarkan survei yang menyebutkan anak usia 14-15 banyak yang telah mengenal narkoba dan memakai jarum suntik.

Menurut Guru Bimbingan Konseling SMPN 4 Ema Amalia, materi bagi siswa kelas VIII itu tentang narkoba di semester ganjil dan kesehatan reproduksi pada semester dua. "Anak-anak antusias ingin tahu risikonya," katanya di sekolah, Rabu, 28 September 2011.

Bagi guru, materi itu membuat cara mengajar bertambah kreatif sebab siswa didorong aktif tak hanya mendengar teori, misalnya dengan metode permainan, diskusi, dan debat. "Kami juga libatkan orang tua, misalnya membuat surat tentang masalah haid untuk anaknya," kata dia.

Walau tak lagi bernama Impact, kata Lucas, program itu akan dilanjutkan oleh Unit Pelayanan Kesehatan Universitas Padjadjaran, Bandung. Tiga lembaga donor baru akan menjadi penyandang dana. "Tahun depan ditargetkan materi pencegahan HIV/AIDS masuk ke 52 SMP negeri," ujarnya.

Selain itu, program konseling di Klinik Teratai yang khusus melayani orang dengan HIV/AIDS di RS Hasan Sadikin, Bandung, bisa menekan angka pasien yang meninggal. Awalnya, kata Lucas, sekitar 25 persen pasien klinik itu meninggal dalam kurun 6 bulan. "Sekarang tinggal 4 persen yang meninggal dalam setahun," katanya.

Adapun di penjara Lembaga Pemasyarakatan Banceuy, jumlah pesakitan dengan HIV/AIDS yang meninggal turun drastis. "Kematian sekarang nol, dan mereka bisa hidup lebih baik," ujarnya.

ANWAR SISWADI

Sumber: http://www.tempointeraktif.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4817