Berdayakan Masjid, Cara Thailand Perangi Narkoba
Tanggal: Thursday, 29 September 2011
Topik: Narkoba


Fajar Online, 28 September 2011

BANGKOK -- Cara pemerintah Thailand dalam memerangi narkoba patut dicontoh. Negara ini tidak main-main memerangi narkoba. Thailand sudah banyak menghukum mati pengedar narkotika. Pusat rehabilitasi korban narkotika pun didirikan untuk memutus mata rantai peredarannya.

Hal ini dikatakan Direktur Yayasan Kajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) Sulsel, Mulijadi, kepada FAJAR dari Thailand, melalui surat elektronik, Minggu, 25 September. YKPM bersama sejumlah organisasi lembaga nirlaba diajak Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu'mang, ke Thiland.

Mulijadi menjelaskan, dalam kurun waktu 52 tahun ini, tercatat sudah ada 3000-an orang yang ditembak mati karena mengedarkan narkotika di Thailand.

Bahkan, pemerintah Thailand memprioritaskan aksi memerangi peredaran gelap narkotika, di awal tahun ini. Walhasil, angka peredaran narkotika pun turun dari 100 persen menjadi 20 persen. "Sebelumnya, narkotika dapat dengan mudah didapat lorong-lorong kota bangkok. Saat ini, ketatnya pengawasan dari aparat membuat narkotika sangat sulit didapatkan," kata Mulijadi.

Membasmi narkoba, kata dia, harus sampai akar-akarnya. Maka untuk memutus mata-rantai peredarannya, Thailand mendirikan Institut Thanyarak. Lembaga yang berdiri sejak 1959 ini, telah menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan Thailand memerangi narkoba.

Menurut Deputi Direktur Thanyarak Institut, Dr Anggun, lembaga ini tengah menangani 770 ribu lebih korban dari 8500 kasus. Dari jumlah tersebut, delapan persen di antaranya terinfeksi HIV/AIDS.

Thanyarak memiliki 563 staf dan 18 dokter. "Menariknya, baik dokter maupun staf, semuanya sosial worker," tambah Mulijadi.

Menurut Anggun, ada tiga klasifikasi korban yang ditngani. Ketiganya antara lain, pertama, korban yang sadar dan datang sendiri berobat. Ada juga yang datang karena dipaksa. Selain itu, korban yang tercatat sebagai tahanan. Beberapa di antara mereka menerima narkotika yang diselundupan ke rutan.

Memutus mata rantai peredaran narkotika juga dilakukan dengan menjalin kerjasama yang baik dengan pemuka agama. Di wilayah provinsi Thailand, terdapat sebuah masjid yang juga menjadi pusat penanganan narkoba. Masjid ini juga ikut menangani penyebaran HIV AIDS.

Di provinsi yang penduduknya mayoritas muslim tersebut, pemerintah memberi dukungn penuh. Pemerintah memberikan dukungan penuh berupa pendanaan dan training kepada para imam masjid. Saat ini, ungkap Mulijadi, sudah ada 40 masjid yang menjadi pusat pelayanan penanganan narkotika. (sbi/yun)

Sumber: http://www.fajar.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4824