''Hebat'' Cegah HIV/AIDS
Tanggal: Thursday, 29 September 2011
Topik: HIV/AIDS


Galamedia, 29 September 2011

SIAPA pun tidak bisa membantah dan merasa khawatir akan penyakit HIV/AIDS, penyakit mematikan yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Satu-satunya jalan yaitu dengan mengurangi jumlah kasusnya. Jalur yang dianggap paling efektif yaitu bidang pendidikan.

Melalui IMPACT atau Integrated Management for Prevention and Control & Treatment of HIV/ AIDS, sejak tahun 2006 program ini sukses dan diakui keefektifannya. Program ini hasil kolaborasi antara Universitas Padjadjaran (Unpad) dan tiga universitas Eropa (Radboud, Maastricht, and Antwerp) di bawah Cordaid dengan didanai Komisi Eropa sebesar 3 juta euro.

Indonesia dengan Jawa Barat di dalamnya menjadi salah satu daerah epidemik HIV tercepat di Asia. Total kasus yang dilaporkan di Jabar hingga Juni 2011 mencapai 3.809 kasus.

Menurut Manajer Program IMPACT, Lucas Pinxten, dengan program ini tingkat kematian pasien HIV di RSHS menurun setelah mendapat perawatan HIV dengan konseling. Dengan disertai pengujian awal dalam setiap periode enam bulan, telah berkurang dari 24% pada tahun 2006 menjadi 4,5% pada 2010.

Siapa nyana, IMPACT pun bisa ditanamkan melalui kurikulum pendidikan di sekolah. Sebelumnya, IMPACT melakukan pengembangan laboratorium dan meningkatkan kualitas layanan untuk pasien HIV/ AIDS di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banceuy.

Sebanyak 10 SMP di Kota Bandung diberi metode pembelajaran Hidup Sehat Bersama Sahabat (Hebat). Tujuannya mengurangi risiko HIV/ AIDS di kalangan remaja. Kesepuluh SMP itu adalah SMPN 1, SMPN 4, SMPN 14, SMPN 18, SMPN 36, SMPN 11, SMPN 20, SMPN 40, SMPN 51, dan SMPN 16.

"Kurikulum ini sudah diimplementasikan sejak 2008 dengan melibatkan 4 ribu pelajar, serta melatih 35 guru pembimbing dan konseling. Ditargetkan akan diteruskan ke semua SMPN di Kota Bandung," ucapnya di SMPN 4, Jln. Samoja, Rabu (28/9).

Pilihan Hebat ini mengingat penderita HIV sebagian besar merupakan pengguna narkoba suntikan (penasun) dan terjadi ketika di bangku SMP.

Kepala SMPN 4, Adang Komara mengaku, metode Hebat menjadikan penurunan tingkah laku negatif yang dilakukan sejumlah siswanya. "Untuk di sekolah, siswa masih bisa tertangani. Namun yang kami khawatirkan justru di lingkungan luar sekolah. Untuk itulah perlu kerja sama dengan pihak lain," ujarnya.

Cindy, siswa kelas 8, mengaku senang atas pembelajaran tersebut. Selain karena tidak ada tes atau ulangan untuk pembelajaran ini, cara/metode pembelajarannya pun menyenangkan. Meski belum pernah melihat dengan mata sendiri bentuk-bentuk narkoba, namun ia kini paham untuk tidak berteman dengan para pelaku narkoba.

"Saya tahu mana orang yang sedang memakai zat terlarang atau tidak. Saya enggak mau pakai narkoba atau melakukan seks sebelum menikah, karena kini sudah tahu bahayanya. Jelas takut," tambahnya. (rinny/"GM")**

Sumber: http://www.klik-galamedia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4828