http://www.pontianakpost.com
">


Sarana Pelayanan Bagi ODHA
Tanggal: Thursday, 29 September 2011
Topik: Narkoba


Pontianak Post, 29 September 2011

PONTIANAK – Bantuan luar negeri untuk program penanggulangan human immunodeficiency virus dan acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) akan berakhir pada 2015. Pemerintah Indonesia diminta segera membuat kebijakan yang strategis agar penanganan dan pencegahan HIV/AIDS bisa dilakukan secara terintegrasi.Menurut Aktivis The Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria Program Kalimantan Barat Rizal Ardiansyah, pemerintah baik pusat maupun daerah mesti mempersiapkan infrastruktur pelayanan kesehatan bagi masyarakat pengidap HIV/AIDS.“Harus segera membuat langkah strategis. Ini penting jika negara donor tidak lagi melanjutkan program tersebut, maka Indonesia sudah siap melakukan penanganan secara mandiri,” katanya di Pontianak, kemarin. Ia menambahkan, infrastruktur kesehatan tak hanya sarana pelayanan, juga sumber daya yang terlatih dalam menangani pengidap HIV/AIDS. Hal ini perlu agar stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS tidak lagi terjadi. “Pemahaman masyarakat terhadap HIV/AIDS masih perlu ditingkatkan. Bukan hanya di lingkungan sekitar ODHA, pada sarana pelayanan kesehatan juga masih perlu diberikan pemahaman,” kata Rizal.

Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kalimantan Barat Syarif Toto Thaha Alkadrie mengungkapkan, infrastruktur jalan di provinsi ini menjadi kendala dalam upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS. Sebab, masih banyak daerah-daerah yang sulit terjangkau lantaran akses jalan belum terbangun. “Keterbatasan dana juga menjadi kendala. Hal ini berimplikasi pada penyederhanaan tenaga penjangkau. Walau ada sharing dana dari daerah, tetapi sangat terbatas,” kata Toto, kemarin.

Saat ini, tambah dia, pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten hanya mampu menyediakan anggaran sebesar sepuluh persen dari total kebutuhan terhadap penanggulangan HIV/AIDS. “Ini berdampak pada turunnya temuan kasus. Akan tetapi, kinerja relawan dan penjangkau tetap meningkat,” ujarnya. Dinas Kesehatan Kalimantan Barat melansir data kasus HIV/AIDS hingga Juli 2011. Sejak ditemukan pertama kali pada 1993, jumlah pengidap HIV positif mencapai 3.151 kasus, sedangkan AIDS mencapai 1.539 kasus, dengan jumlah yang meninggal sekitar 369 kasus. Kota Pontianak masih memiliki jumlah pengidap tertinggi, yakni 1.566 kasus untuk HIV positif dan 1.003 kasus untuk AIDS, dengan jumlah meninggal 131 kasus. Kemudian disusul Kota Singkawang, Sambas, dan Kabupaten Pontianak. Kayong Utara memiliki jumlah pengidap terendah, yakni satu kasus HIV positif dan satu kasus AIDS. (mnk)

Sumber: http://www.pontianakpost.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4830