http://www.equator-news.com
">


Kalbar Peringkat Ketujuh HIV/AIDS se-Indonesia
Tanggal: Monday, 03 October 2011
Topik: HIV/AIDS


Harian Equator, 30 September

Pontianak - Laju penderita HIV/AIDS di Provinsi Kalbar ini patut mendapat penanganan serius dari pemerintah provinsi hingga ke pemerintah daerah kabupaten/kota. Provinsi ini berada pada peringkat ke 7 dari 33 provinsi di Indonesia.

Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya, mengungkapkan, Kalbar peringkat 7 dari 33 Provinsi di Indonesia. Pemprov Kalbar sendiri dalam menekan lajunya epidemi HIV/AIDS melalui program di seluruh SKPD terkait dengan berbagai pendekatan strategis struktural dan melibatkan peran aktif semua sektor.

“Menindaklanjuti aksi nasional, Komisi Penanggulangan AIDS Kalbar melalui strategi rencana aksi daerah 2010-2014 yang bersifat sistematis dan komprehensif dilaksanakan pada wilayah yang terfokus di daerah epidemi HIV,” katanya di sela rakor Komisi Penanggulangan AIDS se-kabupaten/kota di Balai Petitih, Kantor Gubernur, Kamis (29/9).

Menurut Christiandy, diadakannya rakor kali ini merupakan salah satu program pemerintah dengan penanggulangan HIV/AIDS yang diselaraskan dengan strategi aksi tahun 2010-2014 melalui rencana kerja SKPD terkait. Meningkatnya peran SKPD ini salah satu upaya dalam mengupayakan penurunan tertularnya HIV/AIDS kepada seluruh masyarakat Kalbar.

Pada kesempatan itu, Perwakilan Menkes dr Honggo Simin, MKes menerangkan, prevalensi HIV sendiri kurang dari 0,5 persen pada usia 15-24 tahun, dan untuk penggunaan kondom pada hubungan berisiko terakhir pada usia 15-24 tahun sebesar 50 persen.

Dia menambahkan, proporsi usia 15-24 tahun yang mempunyai pengetahuan komprehensif dan benar tentang HIV-AIDS sebesar 80 persen, proporsi orang dengan HIV lanjut yang akses terhadap pengobatan ARV sebesar 80 persen.

Selain itu, Honggo Simin memaparkan, pada mulanya perawatan ODHA hanya sekadar suportif, simptomatis dan penanganan IO, ilmu yang didapat dari literatur dan internet, Mei 2004, beberapa dokter dan perawat mengikuti pelatihan VCT oleh Depkes di Bogor.

Kemudian, sambung dia, pada 2004 beberapa RS mulai membentuk Pokja HIV-AIDS. Akhir 2004 pelatihan VCT & CST oleh Depkes di Bogor. Juli 2005 mendapat bantuan dari GF-ATM untuk setup VCT dan CST sampai sekarang.

“Masyarakat yang sangat berisiko tertular HIV/AIDS, yaitu Pekerja Seks Komersial (wanita, laki-laki dan waria) beserta pelanggannya, lelaki suka seks lelaki (LSL), pengguna napza suntik (penasun) dan pasangannya serta anggota masyarakat yang terkait langsung dengan populasi risiko tinggi,” tuntas Honggo Simin. (jul)

Sumber: http://www.equator-news.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4837