http://www.equator-news.com
">


Kikis Stigma Negatif, ODHA Jadi PNS
Tanggal: Monday, 03 October 2011
Topik: Narkoba


Harian Equator, 30 September 2011

Pontianak - Stigma atau pandangan negatif terhadap pengidap Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Singkawang, Bengkayang, dan Sambas (Singbebas) nyaris tidak ada. Buktinya, ada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“ODHA yang menjadi PNS itu selama ini menjadi pasien Klinik Mawar Singkawang,” kata dr Budi Enoch SpPD, Pimpinan Klinik Mawar, melalui Media Center, Rabu (28/9).

Budi yang juga Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penanggulangan HIV/AIDS RSUD Abdul Aziz enggan menyebutkan secara mendetail identitas ODHA yang menjadi pasiennya itu.

Dia hanya menyampaikan, kalau adanya ODHA yang menjadi PNS itu menunjukkan kalau stigma terhadap ODHA nyaris tidak ada di wilayah Singbebas.

“Kita harapkan seluruh masyarakat bisa menerima ODHA sebagai masyarakat yang biasa, artinya tidak harus diprioritaskan, juga tidak dikucilkan,” ujar Budi.

Di samping berhasil dengan susah payah menghapus sedikit demi sedikit stigma terhadap ODHA, Tim Klinik Mawar juga berhasil mendorong warga yang berisiko tertular HIV/AIDS untuk memeriksakan diri dan menjadi pasien Klinik Mawar agar mendapatkan perawatan bila positif tertular.

“Pasien kita bukan hanya wilayah Singbebas, bahkan ada juga pasien dari Malaysia,” ungkap Budi.

Di Klinik Mawar itu, pasien akan mendapatkan perawatan intensif, termasuk pemberian ARV, obat yang sanggup menahan perkembangbiakan HIV/AIDS dalam tubuh, sehingga pasien dapat hidup lebih lama.

Terkait pemberian ARV ini, Klinik Mawar pernah mendapat penghargaan tingkat nasional berupa Kimia Farma Award 2010, sebagai Pemberi ARV terbaik di Indonesia. Selain itu, Klinik Mawar juga mendapat perhatian serius dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menjadikannya sebagai salah satu contoh bagi klinik lainnya di Indonesia dalam menangani ODHA.

Kendati mendapatkan berbagai penghargaan, Tim Klinik Mawar tidak berpuas diri, berbagai upaya terus dilakukan untuk menggali “gunung es”, meminjam istilah Sigmud Freud tentang yang muncul ke permukaan lebih sedikit ketimbang yang tidak tampak.

Sejak 2005 hingga 2010, jumlah penderita HIV/AIDS tercatat 771 terdiri atas 58 persen dengan infeksi opurtunis dan 42 persen bukan infeksi opurtunis. “Secara umum penderita HIV yang baru di Singbebas, jumlahnya menurun,” kata Budi.

Tetapi ingat dia, jumlah ODHA dari kalangan ibu rumah tangga justru meningkat. Hal ini tentunya harus diwaspadai. “Hal ini bisa menjadi bom waktu. Oleh karenanya kita tidak bisa berdiam diri, penanganannya harus terintegrasi dengan seluruh stakeholder,” pungkas Budi. (dik)

Sumber: http://www.equator-news.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4842