12 Juta Pria 'Tukang Jajan' Tak Pakai Kondom
Tanggal: Monday, 03 October 2011
Topik: Narkoba


TEMPO Interaktif, 02 Oktober 2011

Yogyakarta: Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) memperkirakan di Indonesia terdapat 12 juta pria pelanggan pelacur yang tidak mau memakai kondom saat berhubungan seks. Sekretaris KPA, Nafsiah Mboi, mengatakan 12 juta pria itu bukan hanya pelanggan pelacur di lokalisasi tetapi juga pelacur yang berkeliaran di ribuan terminal, pelabuhan, lokasi-lokasi perkebunan dan pertambangan.

"Kalau tidak segera ada program khusus penanggulangan AIDS di lokasi-lokasi itu, ledakan penularan HIV bisa terjadi," ujar Nafsiah di sela-sela Pertemuan Nasional IV AIDS, Minggu sore, 2 Oktober 2011.

Menurut Nafsiah, hingga kini baru ada 59 lokalisasi yang menjadi sasaran program penanggulangan AIDS dari KPAN. Programnya mulai dari kampanye penggunaan kondom hingga pemeriksaan rutin terhadap kesehatan PSK. “Tahun depan kita tingkatkan jadi 72 lokalisasi,” imbuhnya.

Dia menambahkan strategi penanggulangan penyebaran virus HIV tidak bisa hanya setengah-setengah. Kampanye penggunaan kondom saja tidak cukup. Menurutnya, perluasan pemahaman tentang HIV dan AIDS harus dilakukan secara besar-besaran oleh pemerintah. Kalau perlu, kata dia, materi AIDS dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional.

“Melihat konteks saat ini, fokus KPAN kepada pria-pria beresiko karena potensi penyebaran AIDS bersumber dari kalangan pria yang suka melakukan seks tidak aman,” ujarnya.

Perusahaan-perusahaan tambang, perkebunan, dan transportasi, lanjut Nafsiah, juga perlu memberlakukan program rekreasi sehat bagi pekerjanya yang mayoritas pria. Menurutnya, dari pantauan KPAN, pekerja-pekerja yang rata-rata jauh dari rumah keluarga rawan punya hobi ‘jajan’. “Kami akan rintis kerja sama dengan perusahaan-perusahaan di bidang itu agar mau mendukung penanggulangan AIDS,” kata dia.

Nafsiah juga mengusulkan pemerintah Indonesia sebaiknya mengeluarkan regulasi tegas yang mengatur lokalisasi. Regulasi ini tidak untuk melegalkan lokalisasi melainkan memudahkan pemantauan persebaran HIV di kalangan pelacur dan penggunanya.

Regulasi itu perlu mewajibkan pemakaian kondom, pelarangan kekerasan pada wanita, dan hukuman tegas bagi pengelola lokalisasi jika ada kasus penularan HIV. “Thailand berhasil, jumlah penularan terus menurun drastis, sementara di Indonesia malah sulit terpantau,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Todd Callahan, Country Director DKT Indonesia (sebuah lembaga yang giat mengampanyekan penggunaan kondom), mengatakan hingga kini penggunaan kondom di Indonesia baru 140 juta dalam setahun. “Di tahun pertama kami beroperasi (1997), penggunaan kondom di Indonesia hanya 20 juta per tahun,” ujarnya.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4852