KPAN: Fokus Penanggulangan HIV Ditujukan ke Lelaki
Tanggal: Tuesday, 04 October 2011
Topik: HIV/AIDS


Harian Analisa, 03 Oktober 2011

Yogyakarta: Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV dan AIDS Nasional (KPAN) Dr Nafsiah Mboi SpA MPH menegaskan, prevalensi ke depan penularan HIV terbanyak terjadi bagi kalangan laki-laki. Soalnya, hasil survei terbaru setidaknya ada 12 juta pelanggan pekerja seks yang ada di Indonesia. Untuk mencegah penularan baru HIV bagi laki-laki yang berisiko tersebut, kata Sekretaris KPAN, maka perlu kondomisasi 100 persen. "Bayangkan bagaimana kalau 12 juta laki-laki pelanggan pekerja seks tidak menggunakan kondom, bagaimana jadinya epidemi HIV ke depan," ungkap Dr Nafsiah saat jumpa pers di Media Center Pernas AIDS IV 2011 di Hotel Garuda, Yogyakarta, Minggu (2/10).

Para laki-laki pembeli seks tersebut, lanjutnya, berada di ribuan pelabuhan, lokasi tambang, terminal, perkebunan dan illegal logging yang tersebar di seluruh Indonesia. Di lokasi yang terdapat para lelaki produktif tersebut, tetap ada pekerja seks.

"Di lokasi-lokasi itu tidak ada kondom. Jika tidak diintervensi sekarang, maka ke depan penularan baru HIV terus terjadi. Tidak saja bagi laki-laki tersebut, tapi juga bagi pasangan lelaki itu termasuk istri dan bayinya," ucap Nafsiah.

Laporan sementara, katanya, baru 30-60 persen yang mau menggunakan kondom. Jadi, masih perlu sosialisasi secara maksimal untuk kondom sebagai salah satu cara efektif memutus penularan HIV bagi lelaki berisiko. "Jangan stigma kondom. Karena tak ada jalan lain untuk mencegah penularan HIV dari seks yang berisiko," tegas Nafsiah Mboi.

KPAN, lanjutnya, sudah membuat rancangan program bagaimana meminimalisir agar prilaku seks berisiko bisa dihindarkan. Mulai dari bekerjasama dengan berbagai perusahaan untuk membuat rekreasi sehat.

"Soalnya, lelaki pekerja selain tidur dan bekerja, dia membutuhkan istirahat. Istirahat termasuk rekreasi. Jadi, harus dibuat rekreasi sehat agar pikiran pekerja tidak terfokus ke seks berisiko," ungkapnya.

Kalaupun tidak bisa,lanjutnya, maka perlu ada program penambahan layanan Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) di lokasi-lokasi tersebut hingga program kondom 100 persen.

Menurutnya, selama lima tahun ini program penanggulangan HIV sudah sangat dirasakan. Terbukti dari berbagai kemajuan mulai dari temuan kasus hingga peningkatan kualitas hidup Odha. Penularan HIV yang menurun di kalangan pengguna narkoba suntik (Penasun) dari 54,42 persen di 2006 di Juni 2011 hanya 16,3 persen.

"Sebaliknya, penularan tertinggi HIV terjadi bagi heteroseksual. Di 2006 penularan HIV melalui heteroseksual 38,5 persen, meningkat menjadi 76,3 persen di Juni 2011. "Peningkatan ini sangat berpengaruh pada meningkatnya perempuan yang terinfeksi seperti ibu rumah tangga dan bayi. Di Papua, malah 50 persen lebih sudah terinfeksi," sebut Dr Nafsiah.

Sebuah LSM yang peduli pencegahan HIV dan AIDS melalui kondom dan KB untuk kehamilan yang tidak diinginkan, DKT, turut menjadi sponsor dalam kegiatan Pernas AIDS IV di Yogya. Menurut Manajer DKT, setiap tahun mereka melakukan penelitian tentang penggunaan kondom di Indonesia (khusus yang dijual). Hasilnya, tingkat penggunaan kondom di Indonesia meningkat 7 kali lipat disbanding lima tahun lalu.

"Tahun ini saja setidaknya 140 juta kondom terjual. Padahal, di beberapa tahun sebelumnya penggunaan kondom hanya 20 juta unit per bulan. Untuk negara yang besar seperti Indonesia, jumlah itu masih jauh dari sedikit," ungkapnya.

Sesuai penelitian, katanya, para pria tidak menggunakan kondom karena beralasan tidak nyaman dan bau. Untuk itu, perusahaan penyedia kondom diajak untuk mengembangkan inovasi rasa. Saat ini, setidaknya ada 28 rasa kondom di antaranya strawberry, kelapa, cocacola dan lain sebagainya. (nai)

Sumber: http://www.analisadaily.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4870