Menkes: Daerah Wajib Anggarkan Dana Penanggulangan HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 04 October 2011
Topik: HIV/AIDS


Harian Analisa, 04 Oktober 2011

Yogyakarta: Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih menyebutkan, akhir tahun ini Kemenkes akan meluncurkan program "Aku Bangga Aku Tahu" di 100 kabupaten/kota. Program yang dimulai November 2011 ini akan diluncurkan serentak di 1000 sekolah. "Program ini untuk meningkatkan pemahaman anak sekolah bagaimana cara melindungi diri dari penularan HIV dan AIDS. Program ini akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan yang ad," kata Menkes saat simposium pada pembukaan Pertemuan Nasional (Pernas) IV AIDS 2011 di Hotel Inna Garuda, Senin (3/10).

Program ini dibuat, katanya, Karena berdasarkan riset komprehensif yang menanyakan empat masalah soal HIV dan AIDS ke anak usia 15 tahun, ternyata hanya 11,4 persen yang bisa menjawab benar. Selebihnya dinilai masih belum memahami betul tentang HIV dan AIDS.

Program ini, katana, bagian dari komitmen Kemenkes untuk program penanggulangan HIV dan AIDS untuk program promotif dan preventif selain meningkatkan terus sarana dan prasarana kuratif.

Sejak lima tahun terakhir ini, tambahnya, program penanggulangan HIV dan AIDS di tanah air sudah berjalan bagus walaupun masih terdapat beberapa masalah.

Saat ini, katanya, sudah ada 388 Klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) dan 277 sudah mampu memberikan pelayanan dukuganngn dn pengobatan. Sudah tersedia juga layanan untuk harm reduction (HR) untuk pengurangan dampak buruk pengguna narkoba suntik berupa program terapi rumatan metadon (PTRM) yang tersebar di 68 tempat (24 di rumah sakit, 34 di Puskesmas dadn 10 Rutan dan Lapas.

Selain itu, lanjutnya, sudah ada 194 Puskesmas yang melayani layanan jarum suntik steril (LJSS). "Jumlah ini masih sedikit, karena kita memiliki 9000 Puskesmas di Indonesia," ungkapnya.

Untuk Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS), jelasnya, saat ini sudah ada 643 klinik dan 81 rumah sakit yang sudah menjalankan program prevention mother to child transmission (PMTCT) atau program pencegahan penularan dari ibu ke anak.

Menyangkut ketersediaan obat Anti Retroviral (ARV), memang diakuinya masih belum menyeluruh. Soalnya, dari 25.500 orang terinfeksi yang sudah masuk pengobatan ARV, baru terlayani 77 persen. Namun Menkes member jaminan pada 2012 nanti ketersediaan ARV sudah terjamin dalam APBN.

Berbagai masalah dalam penanggulangan HIV dan AIDS, menurutnya, masih dijumpai masyarakat yang pengetahuan HIV-nya rendah karena setiap saat generasi baru terus datang. Selain itu, rendahnya partisipasi pria berisiko tinggi menggunakan kondom. Ke depan bagaimana membudayakan kalau masuk ke tempat berisiko secara otomatis menggunakan alat pelindung (kondom).

Selain itu masih adanya stigma di kalangan dokter dan medis yang harus terus diminimalisir, meningkatkn terus partisipasi masyarakat serta jaminan keberlangsungan prograam.

Dirjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Ayip Muflih mengakui, program penanggulangan HIV dan AIDS harus menjadi perhatin lintas sektoral. Sejalan dengan itu, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga diharus memberikan perhatian dan anggaran khusus untuk penanggulangan HIV dan AIDS dalam APBD.

Sebab, katanya, program penanggulangan HIV dan AIDS salah satu bagian penting dalam percepatan MDGs dan rencana strategi pembangunan nasional.

Pengaturan anggaran untuk penanggulangan HIV dan AIDS, katanya, selain berdasarkan Perpres 75/2006, juga UU Otda 32/04 dan Permendagri 22/11 tentang pedoman penyusunan APBD yang berkaitan dengan hal-hal khusus. "Artinya, pemerintah daerah harus mensinerjikan program pembangunan di daerah dengan program pembangunan nasional dan MDGs," jelasnya.

Acara dibuka Menko Kesra HR Agung Laksono yang juga Ketua KPA Nasional. Agung menegaskan, daerah wajib berkomitmen untuk penanggulangan HIV dan AIDS. "Karena percepatan program MDGs tahun 2015 harus menjadi tanggungjawab kita bersama," ucapnya.

Soalnya, kata Agung, temuan kasus HIV dan AIDS di Indonesia terus meningkat, bahkan mencapai 50 persen lebih dari estimasi nasional. Dari kasus yang ada, tingkat penularan lewat transmisi seksual tertinggi mencapai 57,7 persen, pengguna narkoba suntik 36,2 persen, perinatal 2,8 persen dan transfusi darah 0,2 persen.

"Sebenarnya, penularan bisa nol persen dengan syarat mampu mengubah prilaku seks berisiko. Ini perlu kerja keras pemerintah, masyarakat, LSM, tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk menekan laju infeksi HIV," jelas Agung.

Di acara itu, perwakilan forum komunitas baik Forum Komunitas Pekerja Seks, GWL, Buruh Migran, Mantan Pengguna Narkoba serta Forum Komunitas Remaja menyampaikan rekomendasi di antaranya selain mendukung upaya penanggulangan HIV/AIDS dan layanan kesehatan serta kesetaraan gender dalam HAM. (nai)

Sumber: http://www.analisadaily.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4881