http://www.pontianakpost.com
">


Napza Sintetik Lebih Berbahaya
Tanggal: Wednesday, 05 October 2011
Topik: Narkoba


Pontianak Post, 05 Oktober 2011

YOGYAKARTA — Ketua Pusat Penelitian HIV/AIDS Universitas Katolik Atma Jaya Irwanto menyebut tantangan dalam menekan laju peredaran narkotika, psikotropika, dan zat aditif lainnya datang dari jenis obat yang sintetik. “Lokasi pembuatan juga hanya sederhana seperti laboratorium kecil yang tempatnya ada di tengah-tengah masyarakat, seperti pemukiman warga,” kata Irwanto saat menjadi pembicara dalam Pernas AIDS 2011 di Hotel Inna Garuda, Selasa (4/10). Selain Irwanto, hadir juga panelis lain seperti Kuswanto, perwakilan Badan Narkotika Nasional. Ada juga Nafsiah Mboi, sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Ketiganya berbicara mengenai Intervensi Struktural untuk Pencegahan HIV dan AIDS secara Komprehensif. Kegiatan ini dihadiri sekitar 500 orang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Irwanto, zat sintentik yang beredar di pasaran dibuat dengan bahan legal, yang tersedia di pasar dan bisa dibeli dengan jumlah yang tidak terbatas. “Pembuatannya sangat sederhana. Tidak perlu ada ahli kimia. Teknologinya juga sederhana, hasil penjualan bisa lebih banyak. Bahkan kemasan juga dibuat lebih menarik,” katanya. Kata Irwanto, amfetamin biasanya digunakan pada tempat-tempat hiburan, hotel, atau fasilitas pribadi. Padahal, penggunaan amfetamin yang disebut juga ATS tersebut sangat berbahaya. Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Nafsiah Mboi mengungkapkan, Indonesia bakal memiliki enam kawasan ekonomi baru untuk percepatan pembangunan. Enam kawasan ini sangat berpeluang menciptakan lokalisasi baru baik terbuka maupun tertutup. "Setiap ada pertumbuhan ekonomi baru karena pembangunan, cenderung menciptakan peluang lokalisasi baru. Ini tantangan sekaligus kekhawatiran terhadap penyebaran HIV/AIDS," kata Nafsiah.

Nafsiah juga menjelaskan persoalan perilaku masyarakat Indonesia yang cenderung tidak sehat. Itu terlihat dari hasil penelitian yang menunjukkan rendahnya pemahaman warga terkait penyebaran HIV/AIDS. Bahkan pada beberapa daerah ada yang menolak penggunaan kondom. “Ini tugas sekaligus tantangan bersama masa mendatang,” katanya.Di sisi lain, perwakilan Badan Narkotika Nasional Kuswanto lebih menjelaskan penanganan yang dilakukan lembaganya. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah daerah mengalokasikan dana agar bisa melaksanakan Instruski Presiden No. 2/2011 tersebut. (mnk)

Sumber: http://www.pontianakpost.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4894