http://www.jpnn.com
">


592 Warga Jakbar Terjangkit HIV Butuh Peran Aktif Masyarakat untuk Mencegahnya
Tanggal: Monday, 10 October 2011
Topik: HIV/AIDS


JPNN.com, 07 Oktober 2011

JAKARTA - Sedikitnya, 592 orang warga Jakarta Barat dinyatakan positif terjangkit HIV/AIDS. Angka tersebut berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jakarta Barat selama 2010 yang diperoleh dari rumah sakit dan laporan LSM yang berkecimpung dalam masalah HIV/AIDS.

”Jumlah tersebut berasal dari catatan rumah sakit, yakni sebanyak 327 orang. Sedangkan sisanya diperoleh dari laporan LSM yang konsentrasi dalam masalah HIV/AIDS. Sementara untuk jumlah penderita HIV/AIDS di DKI Jakarta berdasarkan data dari tahun 1987 hingga Desember 2010 mencapai 8.549 orang,” terang Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Jakarta Barat Fauzal Kahar, Kamis (6/10).

Untuk Jakarta Barat, penderita HIV/AIDS terbanyak berada di Kecamatan Tambora, Grogol Petamburan, Cengkareng, Tamansari, Kebon Jeruk, Palmerah dan Kalideres. Sedangkan, jumlah terkecil berada di Kecamatan Kembangan. ”Sedangkan wanita berisiko tinggi jumlahnya sekitar 4.200 orang. Penyakit ini ditularkan melalui jarum suntik dan hubungan seks bebas. Jakarta Barat memang banyak jumlah tempat hiburan sekitar 90 tempat,” tambah Fausal.

Sementara, Wakil Walikota Jakarta Barat Sukarno meminta kepada para pengurus RT dan RW yang ada di wilayahnya untuk mewaspadai perilaku hidup masyarakat di sekitarnya yang dapat mengakibatkan penyebaran penyakit HIV/AIDS. “Karena jumlah penderita penyakit HIV/AIDS di Jakarta Barat cukup banyak,” kata Sukarno ketika membuka kegiatan Pembinaan Teknis RT-RW tingkat Kota Jakarta Barat tahun 2011.

Sukarno juga meminta pengurus RT dan RW untuk tidak segan-segan dan tidak henti-hentinyanya melakukan sosialisasi kepada warga agar tidak berperilaku yang dapat mengakibatkan terkena HIV/AIDS. “Karena Penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan. Kalaupun diobati untuk bertahan hidup,” tukasnya.

Untuk melakukan mencegahan penyebaran penyakit ini, 6 puskesmas tingkat kecamatan sudah bisa memberikan pelayanan menangani penderita HIV/AIDS. Yakni, di Puskesmas Kecamatan Tambora, Tamansari, Grogol Petamburan, Cengkareng, Kebon Jeruk. ”Kecuali Puskesmas Kecamatan Palmerah dan Kembangan belum ada,” jelas Sukarno.

Kepala Sudin Kesehatan Jakarta Barat Parwathi menjelaskan, untuk pengobatan HIV/AIDS di 6 puskesmas di Jakarta Barat, retribusinya ditetapkan Perda nomor 1 tahun 2006. Pemeriksaannya dilakukan secara berjenjang melalui Valentry Conseling Testing (VCT). ”Karena inkubasi penyakit ini cukup lama sekitar 5 sampai 6 tahun. Setelah kekebalan tubuh makin menurun dengan gejala diare atau batuk tidak sembuh-sembuh,” jelasnya.

Kabid Promosi dan Pencegahan KPAP DKI John Alubwaman mengatakan, untuk menangani masalah HIV/AIDS di ibu kota dibutuhkan kesadaran masyarakat. Terutama tokoh masyarakat, tokoh agama serta perangkat pemerintahan hingga unit terkecil. “Karena mereka ujung tombak. Agar pemahaman masyarakat bisa utuh. HIV/AIDS ini belum ada obatnya. Yang harus gencar dilakukan bagaimana pencegahannya agar tidak meluas serta menangani bagi yang sudah terkena. Bukan lantas mendiskreditkan mereka yang terkena. Ini butuh peran aktif masyarakat,” katanya. (yay)

Sumber: http://www.jpnn.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4911