http://www.riauterkini.com
">


75 Guru SMP dan SMA Rohul Ikuti Sosialisasi HIV dan AIDS
Tanggal: Wednesday, 12 October 2011
Topik: HIV/AIDS


Riauterkini, 11 Oktober 2011

PASIRPANGARAIAN - Sebanyak 75 guru agama, bimbingan dan konseling, PPKN, serta guru Biologi yang mengajar di sekolah tingkat SLTP dan SLTA, Selasa (11/10/11), ikuti Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS di Aula Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rokan Hulu.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut tajaan Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau tahun 2011, kerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Riau di 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau, dan Kabupaten Rokan Hulu dinyatakan sebagai daerah terakhir yang menjadi sasaran sosialisasi penyakit yang perlu diwasdai penyebarannya.

Drs Djojosman, Bagian Pengawas Sekolah Disdik Riau, dalam dunia pancaroba saat ini, guru dituntut lebih banyak lakukan bimbingan seperti ini kepada siswa. Pasalnya, visi pendidikan bukan hanya mengejar cerdas secara intelektual, tapi juga harus cerdas religius, moral, dan cerdas estetika.

Katanya, cerdas estetika setiap guru dituntut bisa ikut sosialisasikan pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS, sebab penyakit ini sudah menyerang sejumlah siswa di Indonesia.

“Guru juga dituntut cerdas secara estetika. Sebab penderita HIV dan AIDS, selain swasta rumah tangga, pelajar dan mahasiswa pun turut menjadi koban, sehingga guru memiliki peranan penting ikut sosialisasikan pencegahan penyakit ini,” jelasnya.

Masih ditempat sama, UPT PMI Riau, Mareno, nyatakan program ini sebagai usaha menekan penderita baru HIV dan AIDS. Katanya, program ini merupakan program seluruh dunia. Sesuai pencanangan Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono, masyarakat berusia 15 tahun keatas wajib mendapatkan sosialisasi HIV dan AIDS. Program ini sendiri sudah diintruksikan untuk rutin dilakukan kepada gubernur dan perangkat pemerintah lainnya.

Angka penderita HIV dan AIDS di Provinsi Riau tahun 2011 terdata sebanyak 600 penderita lebih, yakni 42 persen pria dan 48 persen wanita. Sementara, sesuai data Dinas Kesehatan (Dinkes) Rokan Hulu jumlah penderita di negeri seribu suluk sudah 19 orang, yakni 7 penderita HIV, dan 12 penderita sudah AIDS.

“Pekanbaru tetap menjadi daerah dengan populasi penyebaran tertinggi. Sebab banyak masyarakat daerah memeriksakan diri ke Pekanbaru, apalagi ada stigma (mitos) merasa malu jika diketahui masyarakat tempat tinggalnya,” ujarnya.

PMI Riau sendiri sudah lakukan pemeriksaan HIV dan AIDS ini di beberapa instansi, seperti kepada penghuni Lapas. Kepada penghuni Lapas Klas II B Pasirpangaraian, PMI Riau juga rutin gelar pemeriksaan HIV dan AIDS 3 sebulan sekali.

Penggunaan Pisau Cukur Secara Berulang Berbahaya

Mareno berharap, selain Dinkes dan ulama, ustad juga diharapkan ikut sosialisasikan bahaya HIV dan AIDS dalam bidang pendidikan moral, sehingga masyarakat bisa memproteksi diri dari penyakit ini. Menurutnya, kegiatan-kegiatan besar seperti takbir akbar yang selama ini hanya digelar seremonial, bisa disusupi sampaikan bahaya penyakit ini kepada masyarakat.

Pun, Dinkes Rokan Hulu diharapkan bisa membantu PMI Riau dalam bidang medis, yakni sosialisasi ke salon-salon tentang bahaya penggunaan pisau cukur secara berulang-ulang, sebab berpotensi penularan penyakit ini.

“Selama ini banyak masyarakat tidak mengetahui bahaya pisau cukur yang dilakukan secara berulang. Seharusnya ini bisa menjadi perhatian semua pihak, bahwa penggunaan pisau cukur secara berulang itu membahayakan,” jelasnya.***(zal)

Sumber: http://www.riauterkini.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4939