http://www.balipost.co.id
">


RESAHKAN WARGA Kafe di Sang Hyang Ambu Ditutup
Tanggal: Monday, 17 October 2011
Topik: Narkoba


Bali Post, 13 Oktober 2011

Amlapura - Wakil Bupati Karangasem, I Made Sukerana, S.H., benar-benar tak mentoleransi kafe plus dan yang tak berizin. Sebuah kafe di Sang Hyang Ambu, Bugbug, Karangasem sudah diberikan peringatan dan ditutup Pol. PP Karangasem atas perintah Wabup. Hal itu disampaikan Wabup Sukerana saat menerima rekomendasi hasil seminar dari manajemen Radio SWiB 106,8 FM, Rabu (12/10) kemarin, di ruang kerjanya di Amlapura.

Dikatakannya, kafe itu sempat menjadi pertanyaan dan meresahkan warga, termasuk pengurus PKK Ni Ketut Sumawati, S.E. Sebab, Bupati dan Wabup menyatakan tak memberikan izin kafe plus, tetapi di Sang Hyang Ambu malah ada kafe mirip restoran buka 24 jam dan pada malam hari menggunakan lampu genit (kerlap-kerlip khas di kafe atau tempat dugem). ''Ada protes, saat itu saya langsung perintahkan Pol. PP untuk mengecek apa ada izinnya atau tidak. Ternyata, kafe itu dikelola pria asing yang mengawini wanita setempat, menggunakan bangunan milik warga Bugbug yang dulu pernah terbakar. Pemiliknya sudah diberikan peringatan untuk menutupnya. Tempatnya memang tidak indah bahkan terkesan jorok,'' tegas Sukerana.

Dia mengatakan, kafe plus atau yang rawan menjadi ajang esek-esek, citranya sudah identik dengan tempat minum miras, tindak kriminal, dan transaksi seks bebas. Selain melarang kafe, pihaknya juga tak memberikan toleransi bagi vila yang tak berizin.

Karangasem sudah menutup pembangunan vila, kecuali untuk hotel-hotel berbintang. Sebab, lahan di Karangasem sudah hampir habis dikavling untuk bangunan vila. Masyarakat rugi tak mendapatkan pekerjaan, sementara pemerintah tak mendapatkan pajak.

Sementara itu, lima poin rekomendasi hasil seminar bertema ''Peranan Keluarga Dalam Menghindari Seks Pranikah dan Upaya Membentuk Generasi Berprestasi'' yang digelar bulan lalu itu, di antaranya program penyuluhan atau ceramah-ceramah agama (dharma wacana) perlu terus diintensifkan sampai ke desa atau banjar-banjar. Hal itu penting dalam rangka membangun keluarga dan masyarakat yang harmonis dan berkarakter berdasarkan ajaran agama masing-masing. Dengan begitu, masyarakat dan generasi muda terhindar dari dampak negatif globalisasi seperti seks bebas atau penyalahgunaan nakoba.

Selain itu, agar dihindari adanya lokasi yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat seks bebas, seperti kafe atau warung yang menyediakan layanan WTS dan sejenisnya. Hal ini penting dilakukan pemerintah dalam rangka membentuk keluarga yang harmonis dan menghindari penyebaran penyakit menular seksual seperti HIV/Aids. Rekomendasi hasil seminar itu juga sudah disampaikan kepada Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg, dan Ketua DPRD Karangasem, I Gede Dana. (013)

Sumber: http://www.balipost.co.id






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4957