http://www.jpnn.com
">


Posisi Wakil Menkes Menuai Kritikan
Tanggal: Monday, 17 October 2011
Topik: Narkoba


JPNN.COM, 16 Oktober 2011

JAKARTA - Di detik-detik akhir reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II, Presiden SBY membetuk pos baru. Yaitu pos wakil menteri kesehatan yang bakal diisi oleh Ali Gufron, Dekan Fakultas Kesehatan UGM. Kebijakan ini dinilai praktisi kesehatan sebagai langkah yang kurang tepat, dan kurang efektif menyelesaikan persoalan kesehatan di Indonesia.

Diantara kritik terhadap kebijakan Presiden SBY ini dilontarkan oleh Pengurus Besar Persatuan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PABDI). Ketua Bidang Advokasi PB PABDI Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH menjelaskan, posisi wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) sejatinya bukan pos baru di lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Sebelumnya sudah pernah SBY menunjuk Fahmi Idris sebagai wakil Menkes. Tapi tidak kunjung dilantik karena terkendala golongan kepangkatan," tutur dosen Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (FKUI) itu. Ari menuturkan, sesuai dengan UU Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara dan Perpres Nomor 47 Tahun 2009, dinyatakan jika wakil menteri berasal dari pejabat karier yang telah menduduki jabatan struktural eselon 1A.

Sebagai dekan, Ali Gufron disebut belum menduduk jabatan struktural eselon 1A. Di tingkat kampus negeri, jabatan rektor baru setara dengan posisi jabatan struktural eselon 1A.

"Mudah-mudahan SBY sudah memastikan jika Ali Gufron sudah eselon 1A," tambah Ari. Dia juga menegaskan, Ali Gufron ini adalah pejabat karir di bawah struktur Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) bukan Kemenkes. Ari berpendapat, orang nomor dua di Kemenkes bakal dipandang sebelah mata jika datang diluar kementerian berslogan Bakti Husada itu.

Kekacauan SBY dalam menunjuk Fahmi Idris sebagai calon Wamenkes dan akhirnya batal dilantik itu, menurut Ari tidak boleh terulang lagi. Sebab, bisa beresiko menjadi memperlemah kinerja Kemenkes saat ini. Apalagi, Ari menuturkan tahun ini merupakan tahun terberat ujian Kemenkes untuk urusan memperbaiki kualitas kesehatan bangsa.

Dia lantas mengurai persoalan kesehatan yang cenderung menurun di negeri ini. Misalnya yang paling gres adalah pernyataan Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih yang menyebut 30 provinsi menjadi endemis penyebaran penyakit flu burung. Selain itu, baru-baru ini di Provinsi Jawa Timur ditetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri.

Khusus kasus KLB Difteri di Provinsi Jawa Timur, Ari mengatakan perlu ditelusuri apakah pasien yang terdapat itu mendapatkan imunisasi atau tidak. Sebab, dia tidak memungkiri jika hingga saat ini masih ada pandangan miring masyarakat terhadap imunisasi difteri. Sehingga, ada sebagian masyarakat yang tidan mendapatkan imunisasi difteri.

Sebaliknya, jika setelah didata ternyata angka penduduk yang menerima imunisasi difteri tinggi, penyebab bisa berubah menjadi kerusakan vaksin yang digunakan untuk imunisasi. "Jika vaksin sudah rusak, maka tidak efektif peran imunisasinya," jelas Ari. Untuk mengurai KLB difteri di Provinsi Jawa Timur, Ari mengatakan perlu ada kajian dan analisis yang mendalam.

Ari menjelaskan, sejatinya jika Kemenkes bisa bergerak efektif harusnya bisa menekan penyakit golongan tropic infeksi seperti malarian dan penyakit sejenis lainnya. Ari juga mengatakan, angka penderita HIV AIDS di negeri ini bukan menurun, tetapi malah meningkat. "Angka balita atau bayi kurang gizi juga masih tinggi," tandasnya. Masih belum cukup, Ari juga mengatakan nagka kematian bayi dan ibu bersalin juga belum menunjukkan angka penurunan.

Kelemahan selanjutnya yang masih terjadi di Kemenkes adalah, penyebaran tenaga medis yang belum merata. Dokter yang pernah berdinas di Puskesmas pedasaan di luar pulau Jawa itu mengatakan, program dokter internship yang digagas pemerintah belum berjalan dengna baik.

Sebaliknya, beberapa rumah sakit yang dijadikan tempat praktek dokter internship, menganggap peran dokter internship sebagai beban keuangan. "Orientasi pembangunan kesehatan yang dijalankan Kemenkes masih lebih pada pengobatan, tidak pada pencegahan," pungkasnya. (wan)

Sumber: http://www.jpnn.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4967