Cewek Bau Kencur Banyak Jadi Pelacur
Tanggal: Monday, 17 October 2011
Topik: Narkoba


Pos Kota, 17 Oktober 2011

JAKARTA – Cewek-cewek bau kecur yang terjerumus menjadi wanita penghibur akhir-akhir ini semakin menjamur. Keberadaan mereka bisa dilihat di sejumlah tempat hiburan malam kawasan Mangga Besar, Taman Sari, Jakarta Barat. Remaja putri tersebut membaur di antara wanita pelacur senior. Mereka mejeng di dalam ruangan bar, karaoke, maupun klab malam untuk siap digaet pria hidung belang.

Istilah cewek bau kencur (CBK) menunjukkan usia mereka yang masih berkisar 13-16 tahun. Meski terlihat belia, mereka ternyata berani melayani pria yang sudah manula atau sebaya dengan kakeknya. “Yang penting dibayar,” ujar Mami Sri, germo, tempat hiburan di Jalan Mangga Besar, Tamansari.

Di tempat hiburan jenis bar dan musik hidup itu, di dalamnya terdapat hampir 100 wanita, termasuk di antaranya sejumlah CBK. Keberadaan mereka umumnya berstatus free-lance alias pekerja bebas yang oleh pemilik tempat dikategorikan sebagai tamu.

Ada pula di antara mereka yang menjual diri di bawah kendali germo. Umumnya mereka datang ke tempat tersebut sekitar pukul 14:00 hingga 19:00. Beberapa di antaranya ada yang baru pulang sekolah. Baju seragam mereka masukkan ke dalam tas.

“Jangan salah, kelihatannya saja mereka masih anak-anak. Tapi untuk urusan memuaskan syahwat, bisa mengejutkan,” kata Andi, satu tamu.

DATANG BERGEROMBOL

Pos Kota yang memantau perilaku para CBK di tempat hiburan tersebut, menyaksikan gayanya menjerat pelanggan seolah-olah sudah profesional. Dalam ruangan yang menyajikan hiburan musik itu, sekelompok CBK duduk-duduk di sebuah sudut yang agak gelap. Sesekali mereka mengirimkan ‘sinyal ajakan’ dengan melempar senyum kepada tamu pria yang sedang menikmati alunan musik sambil menenggak minuman keras.

Beberapa di antaranya ada yang terlihat sibuk melayani tamu minum-minum.Setelah ngobrol, sejumlah pasangan bergeser ke kamar tempat msum. CBK ainnya yang belum dapat mangsa, agar tidak kelihatan bengong memainkan handphone yang umumnya merks BlackBerry.

“Nggak tahu siapa yang memulai. Saat saya kerja di sini sudah banyak anak bau kencur, terutama pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Mereka kadang datang sekitar sepuluh orang,” ujar Mami. Ia menjelaskan, untuk tarif kencan dengan CBK per satu jam Rp 290 ribu. Kamar kencan berukuran 1,5 M X 2 M sudah disiapkan pengelola di gedung yang sama.

KELUARGA MISKIN

Kenekatan remaja putri ini kemungkinan tidak diketahui orangtuanya. Mereka pamit pergi ke rumah teman untuk belajar kelompok. Nggak tahunya main kelompok dengan kakek-kakek. Mereka datang ke tempat hiburan untuk mendapatkan sekali dua kali booking-an. Sekali kencan sedikitnya satu CBK mengantongi Rp 180 ribu, belum termasuk uang tips. Anak sekecil itu sudah punya penghasilan besar. “Uangnya untuk beli HP, pakaian, maupun sepeda motor,” kata Mami.

CBK yang mangkal di tempat hiburan mesum pada umumnya masih duduk di bangku SMP – SMA. Ada juga yang drop-out lantaran orangtua tak mampu menyekolahkan. Hampir semuanya berasal dari keluarga miskin yang tinggal di lingkungan kumuh seperti pinggiran Kali Duri, Kelurahan Angke, Tambora, Kalianyar, Tanah Abang, Koja, Tanjung Priok, Pademangan, dan lingkungan padat lainnya.

Secara terpisah Camat Tamansari, Imron, mengatakan wilayahnya ada tempat hiburan malam yang banyak didatangi CBK. Mereka tinggal di kawasan padat hunian. “Kami bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatanterdiri dari Polsek dan Koramil akan menggelar razia,” ujar Camat Imron.

Pengurus RT/RW diminta camat agar meningkatkan kamtibmas di lingkungan masing-masing. “Pemilik rumah kontrakan dan usaha kos-kosan hendaknya selektif saat menerima calon penghuni agar tidak merugikan lingkungan sekitar,” kata Imron. Orangtua juga diharapkan lebih meningkatkan pengawasan kepada anak-anaknya, terutama yang mulai tumbuh besar.

Wakil Camat Tambora Ali Maulana Hakim juga mempertegas bahwa wilayahnya, terutama Kelurahan Angke, Kalianyar, maupun Krendang banyak rumah petak yang dikontrak wanita ‘nakal’, termasuk CBK. “Kami sudah melakukan beberapa antisipasi antara lain menggalakkan program Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji. Melalui pembinaan keagamaan diharapkan dapat memberantas kemaksiatan,” kata Ali.

Aparat Kecamatan Tambora bersama petugas puskesmas dan Komisi Penanggulangan AIDS/HIV (KPA) Jakarta Barat juga menggelar penyuluhan bahaya AIDS salah satunya dalam rangka memerangi prostitusi. “Kader PKK dilibatkan memberikan pengarahan kepada ibu-ibu yang memiliki anak remaja,” tambahnya.

DIAJAK KOMUNIKASI

Rekasi Sekjen Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) M Ihsan ketika dihubuni mengatakan peran serta keluarga mengatasi masalah tersebut sangat penting. Orangtua perlu memahami perilaku sang anak baik di dalam maupun di luar rumah. Anak mulai menginjak remaja sebaiknya lebih sering diajak komunikasi sehingga dapat segera diketahui setiap perubahan dalam diri anak tersebut.

“Orangtua sabagai pengasuh perlu memahami perkembangan anak, jangan sampai anak dibiarkan pergi tanpa adanya tujuan yang jelas,” ungkap Ihsan.

Jika anak melakukan tingkah laku yang aneh, orangtua harus segera menyelidikinya. Lwat cara itu perkembangan sang buah hati setiap saat bisa terpantau.”Waspadai jika ada hal yang tiba-tiba aneh dari perilaku anak. Orangtua kan yang mengasuh sejak kecil sehingga akan mengetahui jika anaknya ada perubahan perilaku,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua PB Al Washliyah, Drs.H.Masyhuril Khamis, maupun sejumlah ulama, mendesak pemerintah untuk menertibkan tempat-tempat maksiat seperti pelacur. Tindak tegas pengelola dan penggunanya agar jera. Selain itu, kata dia, untuk mencegah perbuatan maksiat adalah menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai agama, yakni keimanan, ketaqwaan kepada Allah sejak dini di tengah keluarga. “Ingat azab Allah SWT.”

(joko/adin/sir)

Sumber: http://www.poskota.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4970