http://lampung.tribunnews.com
">


Buka Diri untuk Melayani
Tanggal: Tuesday, 18 October 2011
Topik: Narkoba


Tribun Lampung, 17 Oktober 2011

Komplain, kritik pedas dan bahkan dianggap seperti budak, disuruh-suruh seenaknya seringkali dihadapi pekerja di bidang pelayanan ini. Kendati demikian, Viva, panggilan akrab Ns Viva Magdalena S.Kep berusaha mendengar apa yang menjadi keluhan pasiennya.

Ibu dua anak kelahiran Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran ini menganggap perlakuan tersebut merupakan risiko profesinya sebagai perawat yang digeluti sejak 15 tahun lalu.

"Biarkan saja, kita dengarkan saja. Jangan ditanggapi dengan emosi, jika kita sudah sesuai prosedur. Setelah itu baru dijelaskan, pasti mereka mengerti," ucap Kepala Tim Perawat Ruang VIP A Rumah Sakit Umum Daerah dr Hi Abdul Moeloek (RSUDAM) ini.

"Jika memang saya yang salah, saya membuka diri menerima kritikan. Karena itu bisa membangun," kesannya. Yang jelas, menurut Viva, untuk pekerjaannya yang utama adalah komunikasi.

Baik komunikasi dengan pasien, rekan seprofesi, maupun pimpinan. "Kalau komunikasinya baik, mereka juga bisa terima," jelasnya. Viva mengawali profesinya di salah satu rumah sakit swasta Bandar Lampung tahun 1996.

Itu setelah menyelesaikan studi akademi keperawatan di Pantikosala Surakarta 1995. Menjadi perawat sebenarnya bukan menjadi cita-citanya. Kendati demikian, tiga tahun pendidikan akper terlampui.

Setelah orangtuanya mengarahkan Viva mendaftar di akper tahun 1992. Viva patuh atas keinginan orang tuanya tersebut, sehingga bagi perempuan yang memiliki background ilmu biologi ini tidak sulit masuk pendidikan perawat.

Orangtuanya ingin, anak bungsu dari lima bersaudara ini bisa diandalkan ketika sakit. Oleh karenanya, hingga kini Viva tinggal bersama ibu dan ayahnya di Gedong Tataan. Ilmunya selain diterapkan di rumah sakit, juga digunakan untuk mengurus orang tuanya.

Dua tahun bekerja di rumah sakit swasta Viva tertarik pegawai negeri sipil (PNS). Dia pun turut seleksi dan lolos menjadi PNS di RSUDAM hingga sekarang. Awalnya dia menjadi perawat biasa, kini dia telah mengambil gelar profesi perawat di Universitas Malahayati.

Saat ini dia telah menjabat kepala tim perawat. Konselor HIV/AIDS ini mengaku, tantangan menjalani profesi tersebut yakni selalu menjaga higenitas diri. Sebab pekerjaan itu berkecimpung dengan penyakit, berpotensi tertular.

"Protect diri kita harus tinggi, sebab cukup tinggi tertular infeksi," ungkapnya. Viva mengakui, meski perawat mengabdi untuk pelayanan ada saja pasien yang mengeluh tidak puas. Menurutnya, itu tidak lepas dari individu masing-masing.

Normatif, sebagai manusia pasti ada kekurangan. Kendati demikian, perempuan yang hobi menyanyi ini mengaku, menjadi perawat itu harus sepenuh hati. "Tidak semua orang bisa melayani dengan baik jika mereka tidak menjiwai," ungkapnya.(didik)

Sumber: http://lampung.tribunnews.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4973