http://batam.tribunnews.com
">


Waspada.. 812 Warga Tanjungpinang Penderita HIV AIDS
Tanggal: Wednesday, 19 October 2011
Topik: HIV/AIDS


TRIBUN, 18 Oktober 2011

TANJUNGPINANG - HIV AIDS atau Human immunodeficiency virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome semakin menjadi penyakit yang paling ditakuti. Pasalnya hingga kini belum ditemukan obat untuk penyakit yang menyerang kekebalan tubuh penderitanya ini. Sejak 2002 hingga 2011 ini, tercatat ada 812 orang penderita HIV AIDS di Tanjungpinang.

Paling banyak adalah penderita HIV yaitu sebanyak 546 orang dan 266 orang penderita AIDS. Sebanyak 116 orang meninggal dunia karena kedua penyakit ini sejak 2002 hingga 2011 ini. Temuan terbanyak ada pada 2010 lalu, dengan 143 terjangkit HIV, 37 orang terkena AIDS dan 212 orang meninggal dunia. Sedangkan selama 2011 ini, terdata sebanyak 116 orang penderita HIV, 30 orang terjangkit AIDS dan sembilan meninggal dunia karenanya. “Itu temuan setiap tahun, jadi bukan akumulasi dari tahun sebelumnya. HIV AIDS ini sebenarnya seperti fenomena gunung es, karena lebih banyak lagi yang belum terdata karena takut dan malu,” ujar A Yani, Kadis Kesehatan Kota Tanjungpinang, Senin (17/10) malam.

Untuk menekan angka penularan dan untuk membantu penderita HIV AIDS, sebenarnya sudah tersedia Klinik Kemuning di RSUD Tanjungpinang dan juga di Puskesmas Pancur. Para penderita dapat berkonsultasi dan juga menerima pengobatan secara gratis.

Malah, masyarakat juga dapat memeriksakan darah mereka untuk mengecek apakah tertular atau tidak. Pemeriksaan darah ini tidak dipungut biaya atau gratis. Utamanya disarankan bagi mereka yang beresiko tinggi untuk tertular.

“Yang beresiko tinggi itu para pekerja seks komersil dan pelaku seks bebas,” ujar Yani. Memang secara administrative, tidak ada lokalisasi di Tanjungpinang namun prakteknya masih marak. Yang cukup terkenal yaitu di Batu 15. Yani mengaku pihaknya sudah menjangkau hingga ke lokasi tersebut. Pihaknya sudah mendata jumlah PSK dan mereka juga diberi penyuluhan tentang HIV AIDS dan cara penularannya. Disamping itu mereka juga dibagikan kondom, untuk pencegah penularan.

Setiap waktu tertentu, para penyuluh akan mendata jumlah kondom yang tersisa dan dicocokan dengan jumlah pelanggan. Ditekankan, setiap PSK menggunakan kondom setiap kali berhubungan intim. Tingkat kepatuhan ini mencapai 90 persen.

Memang penularan dengan heteroseksual atau hubungan intim masih menjadi cara penularan tertinggi di Tanjungpinang, dibandingkan dengan cara penularan lain. Namun penyuluh justru kesulitan dengan PSK freelance yang tidak terlokalisasi.

Jika ada pengidap HIV AIDS yang hamil, juga dilakukan penyuluhan agar tidak terjadi penularan pada bayinya. Termasuk mengingatkan agar tidak dilakukan persalinan secara normal, juga tidak menyusui bayinya.

“Tapi ada juga ibu hamil yang lari. Kalau seperti itu kami lacak terus sampai dapat,” ujar Yani.

Ia berharap, masyarakat tidak lagi menganggap pengetahuan tentang HIV AIDS sebagai hal yang tabu untuk diketahui. Jangan pula pada pengidap menyembunyikan diri dan menolak untuk mengkonsumsi obat. Keluarga dan teman dekat juga diminta mendukung, khususnya secara moril. Jika pengidap HIV AIDS ditangani dengan baik, bukan tak mungkin bisa bertahan hingga belasan tahun.(opi)

Sumber: http://batam.tribunnews.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4978