http://beritajatim.com
">


Ratusan Waria Kediri Ogah Pakai Kondom saat Layani Pelanggan
Tanggal: Thursday, 20 October 2011
Topik: Narkoba


beritajatim.com, 19 Oktober 2011

Kediri - Pencegahan penyakit mematikan HIV/AIDS melalui penggunaan kondom di kalangan waria yang ada di Kota Kediri masih sangat minim. Faktor penyebabnya ternyata bervariatif. Para kaum lelaki yang berperangian wanita dalam kehidupan sehari-harinya itu mengaku, karena banyak memperoleh komplin dari pelanggannya, sulit memasangnya, menyakiti hingga resiko tertinggal di dubur saat berhubungan seksual.

Demikian sejumlah alasan yang dilontarkan oleh beberapa waria ketika mengikuti kegiatan sosialisasi bahaya HIV/AIDS yang diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kediri di Hotel Lotus Garden, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Kediri. Sehingga akhirnya banyak yang memilih untu menyimpan, daripada kehilangan penghasilan.

"Hampir seluruh pelanggan saya menyatakan menolak ketika saya tawari memakai kondom. Bahkan ada satu pelanggan yang sudah memakai, kemudian lepas saat berhubungan karena ukuran kondomnya yang terlalu besar dibandingkan alat vitalnya. Selain itu, rasanya juga sakit dan tidak enak," ujar Dina, salah seorang waria ketika diminta menceritakan persoalan dalam memakai kondom ketika berhubungan seksual, Rabu (19/10/2011).

Menjawab berbagai persoalan yang dihadapi rekan-rekannya, Soris Monica, selaku Petugas Lapangan Kesehatan Reproduksi HIV/AIDS KPAD mengatakan, sedikitnya ada tiga penyebab, sehingga timbul masalah-masalah tersebut. Antara lain karena kesalahan dalam tehnik memasang kondom. Kemudian, trik merayu pelanggan dan posisi salah saat berhubungan seksual.

"Harus bisa merayu dengan berbagai cara, sehingga pelanggan tidak sadar sudah mengenakan kondom ketika berhubungan seksual. Atau istilahnya adalah trik negosiasi kondom. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana memasang kondom dengan benar. Sering kali, kita asal pasang, sehingga bagian pelumas berada didalam yang akhirnya bisa tertinggal di dubur ketika berhubungan," terang Soris yang mengaku kenyang dengan pengalaman mengikuti pelatihan khususnya mengenai kondom.

Kemudian, imbuh dia, posisi berhubungan yang aman sering kali diabaikan. Padahal, kesalahan dalam memposisikan diri bisa berakibat batal. Biasanya, karena terburu-buru, dan saking bernafsu, terusnya, waria tidak mau ribet dengan pemakaian kondom. Padahal, kodom merupakan tiga dari lima jurus terpenting dalam upaya pencegahan dan penularan HIV/AIDS serta Infeksi Menular Seksual (IMS) di kalangan masyarakat resiko tinggi, seperti halnya waria dan pelacur alias Pekerja Seks Komersial (PSK).

Soris menjelaskan, empat jurus penting lainnya selain penggunaan alat kontra sepsi adalah, pertama abstan yang artinya tidak melakukan hubungan seks sama sekali. Kemudian, setia dengan pasangan, tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, dan yang terakhir adalah edukasi atau pendidikan, seperti yang tengah mereka lakukan saat ini (pelatih dan workhsop).

Terpisah, Ketua Persatuan Waria Kota Kediri (Perwaka) Ike Fradasari mengakui, bahwa kesadaran menggunakan kondom anggotanya masih relatif minim. Tetapi, dia selalu mendorong agar anak buahnya semakin sadar pentingnya penggunakan alat kontra sepksi dan fungsi bagi diri waria sendiri, karena dampak terburuknya adalah kematian.

"Pemeriksaan VTC itu pun sangat perlu. Saya sering sekali melakukan himbauan kepada anak-anak yang memang khawatir akan kesehatannya. Pemeriksaan rutin, menjaga kebersihan setiap saat dan budaya menggunakan kondom semata-mata adalah kebutuhan mereka sendiri. Kita tetap ingin bisa hidup panjang dan berguna bagi masyarakat sekitar," pintanya.

Alasan itulah, katanya, yang melatar belakangi Eks Lokalisasi Semampir Kota Kediri melakukan kampanye penggunaan kondom secara besar-besaran. Bahkan, mereka memasang spanduk berukuran besar "No Kondom, No Seks". Pihaknya juga berniat turun jalan dan melakukan kampanye pada saat hari HIV/AIDS sedunia nantinya.

Sekarang ini ada sekitar 100 waria yang tergabung dalam Perwaka Kota Kediri. Sebagian besar mereka beroperasi sebagai penjaja seks, dan tenaga trampil di salon kecantikan. Ada pula yang menjadi pengurus sayap partai Golkar Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR).

Pengelola Program KPAD Kota Kediri Ardi Bastian menyebut, kaum waria merupakan kelompok berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Ssuai data, hingga bulan september tahun ini tercatat 124 kasus HIV/AIDS. Lima diantaranya waria dan sudah meninggal dunia. [nng/kun]

Sumber: http://beritajatim.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4988