http://www.tribunnews.com
">


Panda Nababan Terbitkan Buku, Putra Menangis
Tanggal: Thursday, 20 October 2011
Topik: Narkoba


TRIBUNNEWS.COM, 19 Oktober 2011

JAKARTA - Anggota non-aktif Komisi 3 DPR RI, Fraksi PDIP, Panda Nababan, meluncurkan buku karya tulisannya dari balik jeruji besi berjudul Melawan Peradilan Sesat.

Peluncuran bukunya tersebut, digelar di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, hari ini, Rabu (19/10/2011).

Hadir dalam acara tersebut, anggota Komisi 3 Fraksi PDIP, Trimedya Panjaitan, anggota Komisi 3 Fraksi PPP, Achmad Yani, anggota Komisi 3 Fraksi Golkar, Azis Syamsudin, Sekretaris Fraksi Hanura, Syarifudin Suding.

Namun, Panda Nababan sendiri tidak hadir dalam acara tersebut. Tapi, ia memberikan sambutan "Surat dari Salemba" yang dibacakan oleh seorang putranya, Putra Nababan.

Buku yang ditulis Panda, mengisahkan perjuangannya melawan vonis Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, terhadap dirinya, dalam kasus dugaan penerimaan suap cek perjalanan di balik terpilihnya, Miranda Goeltom, menjadi Deputi Gubernur Senior BI di tahun 2004.

Menurutnya hakim menjatuhkan vonis terhadap dirinya, kendati Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tidak bisa membuktikan Panda, menerima cek perjalanan tersebut.

"Dipenjarakan dinistakan untuk perkara yang tidak jelas. Dituduh suap, siapa yang menyuap, siapa yang disuap, dimana penyuapannya tidak jelas," tuturnya.

Panda, mempertanyakan sikap ketua majelis hakim tipikor yang terkesan mengabaikan perbedaan pandangan yang disampaikan dua anggota majelis hakim.

"Ada dua hakim berpendapat bahwa saya, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Sikap dan argumentasi yang detail dari kedua hakim ini tidak dibahas oleh ketua majelis. Secara gegabah ketua majelis, Eka Budiprijanta dalam putusannya tidak ada menyinggung sedikit pun pendapat kedua hakim yang berbeda itu," paparnya.

"Nasib keadilan cukup di voting, pendapat kedua hakim itu hanya dianggap angin lalu saja. Dengan enteng Eka Budiprijanta menjatuhkan hukuman satu tahun lima bulan. Hanya hitung detik, setelah membaca putusan, ketua majelis hakim buru-buru meninggalkan ruang sidang," lanjutnya.

Hidup di dalam penjara, akibat perbuatan yang dinilai Panda tak pernah dilakukannya, dirasakan menyiksanya.

"Hidup dipenjara selama 259 hari bukanlah hal yang mudah. Bagaimana membunuh kebosanan, kemudian membunuh keresahan jiwa. Penjara yang kapasitasnya untuk 900 jiwa, saat ini dihuni oleh 3000 jiwa dan berpenghuni 150 orang penderita HIV/AIDS," ujar Panda.

Ketika membacakan surat ayahnya, terlihat air mata menetes dari mata Putra Nababan. Ucapannya terdengar terbata-terbata ketika hampir tuntas membacakan surat ayahandanya.

"Mohon maaf, tolong jangan diberitahukan ke ayah saya," ujar Putra.

Sebagaimana diketahui, di akhir Juni lalu, Panda telah divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor dalam perkara suap pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Miranda Gultom.

Ia divonis selama 1 tahun lima bulan, dan mendekam di Rutan Salemba. Panda pun sudah mengajukan banding terhadap putusan tersebut, dimana Pengadilan Tinggi Jakarta, menguatkan vonis yang dikeluarkan oleh Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.

Sumber: http://www.tribunnews.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4992