http://www.jpnn.com
">


KPA Jakut Keluhkan Maraknya Warung Remang-remang
Tanggal: Thursday, 20 October 2011
Topik: Narkoba


JPNN.com, 20 Oktober 2011

KOMISI Penanggulangan AIDS (KPA) Jakarta Utara mengeluhkan maraknya warung remang-remang di wilayah tugasnya. Pasalnya, warung yang disalahgunakan untuk bisnis seks terselubung tersebut rentan menjadi sarang penularan HIV/AIDS.

“Jumlah warung remang-remang di Jakarta Utara yang masuk daerah rawan penyakit infeksi menular seksual terus bertambah. Terus terang hal ini membuat kami bingung dan prihatin,” keluh Kepala Seketariat KPA Jakut Atma Sanjaya, kemarin. “Kenapa kami tahu itu, karena kami sering turun ke kantong-kantong tersebut,” imbuhnya.

Pria berkacamata itu menyayangkan kinerja aparat di kecamatan dan Satpol PP. Pasalnya, kata pria yang pernah menjadi Wakil Walikota Jakut itu, sudah ada dana penguatan untuk hal ketentraman dan ketertiban. “Camat sebagai penguasa wilayah jangan diam saja. Kesannya jadi seperti itu. Padahal camat sudah diberi power, ada pergub yang mengatur tentang ketentraman dan ketertiban,” ujar Atma.

Maraknya warung remang-remang, juga menambah persoalan lain. Seperti rawan perdagangan manusia dan sebagainya. “Tapi kalau kita bekerja sesuai tupoksi, saya yakin Jakarta bisa seperti Singapura,” tegasnya.

Atma menambahkan, di wilayah Jakut tempat-tempat yang rawan menjadi sarang penularan penyakit seksual tersebar di sejumlah titik. Seperti di Mencos, Pela-pela, Taman BMW, Kalijodo, Koljem Cilincing, Rawa Bebek, Jembatan Gantung serta Rawa Malang.

Karena itu, tidak mengherankan jika jumlah penderita HIV dan AIDS di wilayah pesisir itu terus bertambah. Saat ini saja tercatat sudah ada 357 orang yang terkena penyakit mematikan itu.

Parahnya lagi, mereka yang terkena penyakit mematikan itu adalah umur produktif yang berusia antara 25 hingga 44 tahun. “Jumlahnya ada 279 orang,” jelasnya. “Mereka umumnya tertular akibat berhubungan seks,” imbuhnya.

Walaupun kasus terus meningkat, mau tidak mau harus memberikan penyuluhan. Serta menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke klinik. “Jumlah itu hanyalah penderita yang memeriksakan diri ke rumah sakit dan klinik. Seperti ke RSUD Koja dan RSPI Sulianti Saroso,” terangnya.

Atma menambahkan, untuk menekan penyakit tersebut pihaknya mengusulkan adanya kerja sama antarberbagai pihak. Baik itu pihak kesehatan, sosial, Satpol PP dan pariwisata. “Di pariwisata itu ada bagian yang mengurusi pengawasan terhadap tempat hiburan. Harus dioptimalkan lagi,” pungkasnya. (dai)

Sumber: http://www.jpnn.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4997