http://www.tempointeraktif.com
">


SPG dan Pemandu Lagu Rawan Tularkan AIDS
Tanggal: Tuesday, 25 October 2011
Topik: Narkoba


TEMPO Interaktif, 23 Oktober 2011

Tulung Agung - Sebanyak 107 wanita pekerja seks komersial (PSK) di Kabupaten Tulungagung dinyatakan mengidap penyakit HIV/AIDS. Sales promotion girl (SPG), pemandu lagu, dan pekerja cafe termasuk di dalamnya karena melakukan bisnis seks terselubung.

Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Tulungagung, Didik Eka, mengatakan para pekerja cafe dan SPG menyumbang kontribusi besar dalam penularan penyakit mematikan ini.

Mereka diketahui melakukan aktivitas prostitusi terselubung di luar pekerjaan sehari-hari. "Mereka menyumbang 70 persen dalam kelompok rawan penyebar AIDS," kata Eka, Minggu (23/10).

Banyaknya pelaku seks terselubung atau tidak langsung ini membuat Dinas Kesehatan cemas. Sebab, mereka justru sangat susah dipantau karena profesinya yang bukan terang-terangan sebagai PSK. Belum lagi sikap pemilik usaha toko, cafe, dan tempat karaoke yang menolak dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap pekerja mereka karena alasan bisnis.

Beberapa kali upaya pemeriksaan yang dilakukan di tempat karaoke Tulungagung, seperti Radja Karaoke, Yess Karaoke, Dinasty Karaoke, Bharata Karaoke, dan Hotel Narita mendapat penolakan dari pengelola. Mereka berdalih kegiatan itu akan mengancam kredibilitas usaha. "Kami juga tak bisa memaksa," kata Eka.

Kondisi ini, menurut Eka, sangat membahayakan masyarakat, sebab intensitas kunjungan pada tempat karaoke dan interaksi dengan SPG cukup tinggi. Hal ini membuka penularan HIV/AIDS secara besar-besaran jika terjadi praktek prostitusi.

Kekhawatiran ini setidaknya cukup terbukti dengan tingginya jumlah masyarakat pengidap HIV/AIDS dari kalangan hidung belang. Kelompok wiraswasta dari kalangan kelas menengah dan profesional pengidap AIDS saat ini mencapai 116 orang.

Dari penelitian Dinkes, intensitas kegiatan seks mereka dengan PSK cukup tinggi. Bahkan dalam semalam seorang PSK bisa melayani 4-5 pelanggan. Angka yang sama juga dilakukan para PSK terselubung. "Kami imbau gunakan kondom," kata Eka.

Bunga, salah satu PSK mengaku enggan menggunakan kondom karena kurang disukai pelanggan. Alat ini dianggap bisa mengurangi kenikmatan berhubungan yang berdampak penurunan pendapatan. "Saya sih sudah menyarankan, tapi mereka tak mau," katanya.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5012