http://beritasore.com
">


Dinkes Sumut Teliti Sub Tipe Virus HIV
Tanggal: Tuesday, 25 October 2011
Topik: HIV/AIDS


Berita Sore, 24 Oktober 2011

MEDAN: Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut kini melakukan penelitian terhadap genotipe virus yang ada untuk keselarasan obat yang digunakan bagi orang dengan HIV dan AIDS (ODHA).

“Penelitian sub tipe virus HIV ini untuk mengetahui distribusi virus seperti apa. Faktor risiko dan pola penularan virus tersebut. Soalnya, sekarang ini sub tipe virusnya sudah banyak,” sebut Project Officer Global Fund, Dinas Kesehatan Sumut, Andi Ilham Lubis, ketika dihubungi, Minggu (22/10).

Andi Ilham Lubis menuturkan, penelitian ini nantinya akan mengetahu jenis virus HIV/AIDS yang ada pada ODHA. Sehingga, obat anti retroviral (ARV) akan diselaraskan dengan obat hasil penelitian tersebut untuk menahan laju perkembangan virus.

Jika sudah diketahui sub tipe virus yang tersebar di Sumatera Utara, lanjutnya, maka bisa diketahui sejauhmana efek obat yang diberikan atau kombinasi obat yang patut diberikan. Obat ARV yang selama ini menjadi laju perkembangan virus dan mempertahankan daya tubuh ODHA. Namun, dengan kombinasi obat yang masih diteliti ini, nantinya diharapkan akan lebih memperkuat daya tahan tubuh.

“Walaupun sebenarnya, obat ARV yang selama ini masih efektif untuk mempertahankan daya tahan tubuh Odha. Karena, banyak Odha yang sudah lima tahun mengonsumsi ARV dan hidupnya tetap normal. Artinya, belum terlihat resistensi secara besar-besaran,” jelas Andi.

Begitupun, lanjut Andi, penelitian ini perlu dilakukan untuk persiapan penanggulangan HIV dan AIDS ke depan. Soalnya, penentuan keberhasilan program penanggulangan sangat berhubungan dengan data-data dan survei yang dilakukan selama ini. Survei genotipe virus HIV di Sumut ini, dilakukan dengan metode pengambilan sampel darah 70 ODHA di RSUP Haji Adam Malik Medan. Para ODHA itu sudah diminta persetujuannya demi kepentingan program.

Kemudian, lanjut Andi, penelitian yang diusulkan dr Roselinda dari Litbangkes Kemenkes ini, melanjutkan pemeriksaan darah di laboratorium Kemenkes hingga proses penyaringan subtipe virus HIV yang ada di Sumatera Utara. “Intinya, ini satu bentuk keseriusan pemerintah dalam penanggulangan HIV dan AIDS di tanah air,” jelas Andi.

Sementara itu, Penggiat HIV/AIDS dari Medan Plus Eban Totonta Kaban menuturkan, permasalahan utama bukan terletak pada obat ARV tersebut. Namun, lebih terutama kepada kedisiplinan ODHA minum obat ARV. Hal ini, katanya tidak terlepas tenaga medis yang menanggani ODHA terebut.

Penekanan tenaga medis terhadap ODHA untuk minum obat ARV untuk tingkatkan kepatuhan minum obat. Sehingga mencegah ODHA resistensi obat lagi,” ujarnya. Menurut Eban, resistensi ODHA tersebut kurang patuhnya untuk mengkonsumsi obat ARV secara teratur. Untuk itu, ia mengharapkan petugas medis merujuk ODHA kepada para penggiat HIV/AIDS. Sehingga, dapat dilakukan pendampingan untuk mengonsumsi ARV secara teratur. “Ini karena ODHA tidak patuh. Mungkin karena tidak dapat informasi yang cukup dari tenaga medis,” tandasnya.

ODHA yang didampingi pihaknya, tercatat 20 orang yang sudah resistensi obat ARV. Sehingga, berdampak pada naiknya level konsumsi obat tersebut. “Ada 20 orang yang kita dampingi sudah masuk kebutuhan ARV lini kedua. Yang kita harapkan agar penekanan tenaga medis terhadap ODHA untuk lebih ditingkatkan. Dan juga perhatian kepala daerah akan HIV/AIDS,” pungkasnya. (don)

Sumber: http://beritasore.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5017