http://www.klik-galamedia.com
">


Ratusan Pria Ditinggal Istri Tertular Penderita HIV/AIDS 445 Orang
Tanggal: Wednesday, 26 October 2011
Topik: HIV/AIDS


Galamedia, 26 Oktober 2011

SUBANG - Kasus human immunodeficiency virus dan acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) di wilayah Subang setiap tahunnya terus meningkat, bahkan daerah ini tercatat peringkat 4 setelah Kota Bandung, Kota Bekasi, dan Kota Bogor. Jumlah penderita yang terdata hingga akhir September 2011 mencapai 445 kasus, 94 orang di antaranya meninggal dunia.

Aktivis Komite Penanggulangan AIDS (KPA) Kab. Subang, Ririe Purwitasari, S.Psi. didampingi Staf Sekretariat KPAD Subang, Opik di sela-sela pertemuan rutin pengurus dan anggota Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kab. Subang di RM Hegarsari, Dawuan, Subang, Selasa (25/10), mengatakan, angka tersebut merupakan kumulatif sejak ditemukannya kasus HIV/AIDS yang terdiri dari 195 HIV dan 216 AIDS.

"Selama tahun 2010 saja, tercatat 62 kasus dengan resistensi orang yang terserang HIV/AIDS saat ini mencapai 3.650 orang serta 2.870 orang di antaranya berada di kalangan pekerja seks komersial," jelasnya.

Disebutkan, orang yang paling dominan tertular HIV/AIDS karena berperilaku seks bebas dan ternyata hasil zero survei dari tahun ke tahun angkanya terus mengalami peningkatan. "Hasil zero survei kami menunjukkan kalangan PSK cukup mendominasi, bahkan sekarang ratusan pria ditinggal istri (PDI) tertular dan menularkannya ke istri mereka hingga ada bayi yang terkena HIV/AIDS dengan jumlah mencapai 12 balita," kata Ririe.

Kondisi ini sangat memprihatinkan sehingga diperlukan peran dan kesadaran semua pihak, apalagi Subang terkenal juga dengan buruh migran. Belum lagi usia yang terkena kebanyakan usia produktif mulai 17-20 tahun mencapai angka 300-an sehingga aktivitas hidupnya jadi menurun.

"Kalaulah ada anggapan bergaul dengan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) akan tertular, itu jelas tidak benar, termasuk munculnya isu ada ditularkan lewat tusuk gigi karena virus HIV hanya bertahan di udara bebas sekitar 3-5 menit. Jadi aman saja bila kita berenang bersama mereka," ungkap Opik.

Agar penderita HIV/AIDS tidak bertambah banyak, maka diperlukan tindakan preventif mulai dari keluarga hingga masyarakat luas. Jauhkan pergaulan bebas yang terjadi di kalangan remaja, sebab para remaja masih memiliki pendirian yang labil. Sehingga mudah dibujuk oleh hal-hal yang negatif.

"Selain itu, perkuat dengan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan. Tanamkan pemahaman terhadap para remaja, bahwa pergaulan bebas tersebut sangat bertentangan dengan norma-norma agama. Selain akan membawa penyakit, juga akan berdosa jika melakukan perbuatan yang tidak terpuji tersebut," papar Opik.

Kepedulian dari semua pihak sangat diharapkan karena semua data tercatat dari hasil zero survei yang pelaksanaannya selalu terbentur anggaran. Sedangkan rekan-rekan yang peduli tetap bekerja pendampingan bagi penderita yang sadar, sementara dukungan dana selalu minim bahkan negara pendonor dari luar pun sudah lama terhenti.

"Kalau persoalan ini dibiarkan, suatu saat akan meledak karena merupakan fenomena gunung es," jelas Opik. Penyebaran virus itu terjadi secara merata hampir di semua kalangan, tidak terkecuali pejabat dan anggota TNI/Polri, mahasiswa dan pelajar, pegawai swasta. (B.76)**

Sumber: http://www.klik-galamedia.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5041