Angka Fertilitas Stagnan
Tanggal: Thursday, 27 October 2011
Topik: Narkoba


Kompas, 27 Oktober 2011

Jakarta - Prestasi, kemunduran, dan paradoks menandai populasi dunia tujuh miliar yang diperkirakan tercapai akhir Oktober 2011. Di Indonesia, angka fertilitas diperkirakan tidak akan turun, dan sekitar 49 persen penduduk berada di wilayah perkotaan.

Demikian benang merah paparan pakar kesehatan reproduksi dari Universitas Indonesia (UI), Dr Meiwita Budiharsana, dan pakar planologi, Tommy Firman, dari Institut Teknologi Bandung. Mereka mengungkapkannya dalam seminar peluncuran Laporan Kependudukan Dunia 2011 di Jakarta, Rabu, yang diselenggarakan Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNFPA) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Kepala BKKBN Dr Sugiri Syarief, dalam sambutannya—dibacakan Sekretaris Utama BKKBN Dr Sudibyo Alimoeso— mengatakan, hasil sementara Sensus Penduduk 2010 menunjukkan perkiraan tingkat kesuburan (TFR) 2,3-2,5 anak per perempuan. Pada tahun 2012 jumlah penduduk diperkirakan mencapai 245 juta. Saat ini, jumlah penduduk diperkirakan lebih dari 240 juta.

”Proporsi kaum muda meningkat lebih dua kali dibandingkan kaum lanjut usia,” ungkap Meiwita, mengutip hasil riset Departemen Biostatistik dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.

Kepala Perwakilan UNFPA di Jakarta, Jose Feraris, menambahkan, jumlah orang muda berusia 10-24 tahun mencapai 64 juta, atau 27 persen dari populasi. ”Meski jumlahnya besar, akses atas informasi dan pendidikan sangat kecil, apalagi akses pada pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual yang sangat penting untuk melindungi mereka dari kehamilan tak direncanakan, dan infeksi HIV/AIDS,” ujarnya.

Perubahan profil demografi atau piramid kependudukan di Indonesia, lanjut Meiwita, berimplikasi besar, khususnya lapangan kerja, ketidakmampuan negara menyediakan fasilitas pendidikan secara kuantitas ataupun kualitas, putus sekolah, dan jatuh ke jebakan kemiskinan, serta potensi keresahan sosial.

Kesenjangan

Tommy Firman mengungkapkan, tingkat urbanisasi terus meningkat, dari 5,8 persen penduduk bermukim di perkotaan tahun 1920 naik 42 persen antara tahun 1980 dan 1990. Sensus Kependudukan 2010 memperlihatkan 49 persen (sekitar 120 juta) penduduk bermukim di perkotaan. Sektor informal meruyak.

Jumlah penduduk dunia meningkat signifikan sejak 1987. Peningkatan menjadi dua miliar dari satu miliar penduduk dunia tahun 1804 butuh 123 tahun pada tahun 1927, dan butuh 32 tahun untuk mencapai tiga miliar tahun 1959. Untuk mencapai enam miliar tahun 1987 hanya butuh 12 tahun, dan untuk mencapai tujuh miliar juga hanya butuh 12 tahun.

Laporan Perkumpulan Prakarsa, Rabu (26/10), mengungkapkan, kemiskinan di Indonesia melonjak dan jurang kesenjangan melebar. Jumlah kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia setara kekayaan 15 juta keluarga atau 60 juta jiwa warga termiskin.

Menurut majalah Forbes, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia naik rata-rata 80 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan ekonomi hanya enam persen. Konsentrasi kekayaan di Indonesia tiga kali lebih tinggi dibandingkan Thailand, empat kali dibanding Malaysia, dan 25 kali dibanding Singapura. (MH)

Sumber: http://health.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5052