http://www.jambi-independent.co.id
">


Jambi 6 Besar Pengguna Narkoba
Tanggal: Thursday, 27 October 2011
Topik: Narkoba


Jambi Indipendent, 27 Oktober 2011

JAMBI - Provinsi Jambi menjadi lahan subur peredaran narkoba. Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), Jambi masuk peringkat enam besar di Indonesia sebagai daerah pengguna narkoba. Data tersebut diperoleh dari hasil penelitian (survei) BNN bersama Universitas Indonesia (UI) dengan sample usia produktif 10-59 tahun.

Sampai akhir Maret 2011 ini, pengguna narkoba di Jambi tercacat sebanyak 50.420 orang. Angka tersebut naik tajam dari 44.627 pengguna pada tahun 2008. Dalam kurun waktu dua tahun saja, kenaikan pengguna narkoba di Jambi mencapai 5.793 orang.

Data tahun 2008, urutan pertama pengguna narkoba ditempati adalah DKI Jakarta, yakni 286.494 pengguna dengan populasi usia produktif 10-59 mencapai 6.980.700 jiwa. Lalu disusul DI Yogyakarta dengan jumlah pengguna 68.980 (populasi 2.537.100) jiwa. Di urutan ketiga Maluku dengan jumlah pengguna 25.302 orang dari populasi penduduk produktif 968.900 jiwa.

Di urutan keempat, Maluku Utara dengan jumlah pengguna 15.699 jiwa. Lalu Gorontalo di urutan kelima dengan jumlah pengguna 14.306 dari populasi penduduk produktif 666.400 Jiwa. Sementara itu, Jambi populasi penduduk produktif mencapai 2.104.000 Jiwa, untuk peredaran narkoba, masuk dalam rangking 16 se-Indonesia.

Sedangkan jumlah kasus yang diproses Direktorat Narkoba dan jajaran, tahun 2006; 270 kasus, 2007; 219 kasus, 2008; 175 Kasus, 2009; 266 kasus dan tahun 2010 mencapai 277 kasus.

Sementara itu, data tahun 2010 yang terkena virus HIV /AIDS akibat pengguna narkoba yang berobat dan tercacat di Dinas Kesehatan sebanyak 492 orang. Angka tersebut naik menjadi 506 orang sampai bulan Maret 2011.

Kepala BNNP Provinsi Jambi Drs Mohammad Yamin Sumitra mengatakan, maraknya pengguna narkoba di Provinsi Jambi disebabkan berbagai faktor. Salah satunya faktor ekonomi “Narkoba kan dibeli dengan uang, jadi perekonomian Jambi bagus,” terangnya.

Selain faktor ekonomi, penggunaan narkoba berasal dari diri individu. “Kita sendiri yang bisa mengendalikan diri,” ujarnya. Selain itu, karena posisi daerah yang cukup strategis, yakni sebagai pintu gerbang keluar masuk ke negara tetangga membuat Jambi menjadi salah satu daerah yang diincar mafia narkoba. “Setidaknya Jambi masuk daftar sebagai daerah tujuan mafia narkoba,” katanya.

Sebagai ibu kota provinsi, Kota Jambi menjadi kawasan yang paling banyak terjadi kasus tindak pidana narkoba. Dalam kurun waktu delapan bulan saja, angka tindak pidana narkoba telah mencapai 82 kasus. Salah satu tersangkanya adalah Joni Ruso, bandar besar narkoba yang beromzet miliaran rupiah.

Seperti diketahui, Joni Ruso digerebek di rumahnya, Jalan Fatah Leside, No.02, Kelurahan Handil Jaya, Kecamatan Jelutung. Bersama Joni, polisi menyita barang bukti sabu-sabu sebanyak 800 gram atau senilai Rp 1,6 miliar. Kepada polisi, Joni mengaku barang bukti sabu itu dikirim seseorang dari Jakarta lewat jalur darat.

Joni, diyakini polisi sebagai anggota sindikat narkoba internasional yang beroperasi di Jakarta. Atas perbuatannya, Joni divonis 14 tahun penjara oleh hakim pengadilan negeri Jambi. Kini dia tengah menjalani hukuman di Lapas Jambi.

Setelah Kota Jambi, daerah yang menjadi sasaran peredaran narkoba adalah Kabupaten Bungo. Menurut catatan BNP, dalam kurun delapan bulan, di daerah ini terjadi 11 kasus narkoba.

Selain Bungo, Kabupaten Kerinci dan Tanjab Barat juga terbilang tinggi angka kasus narkobanya, yakni masing–masing 10 kasus. Lalu, Kabupaten Merangin dan Sarolangun masing-masing sembilan kasus. Kasus selanjutnya, Muarojambi dan Tebo lima kasus.

Daerah paling timur Provinsi Jambi, Kabupaten Tanjab Timur juga tak luput dari kasus narkoba. Sampai dengan Agustus 2011, setidaknya ada tiga kasus narkoba di daerah itu.

Jenis narkoba yang banyak beredar di Jambi terdiri dari berbagai jenis. Di antaranya sabu-sabu, ganja, pil ekstasi dan putaw. Para pelakunya pun beragam. Mulai dari pengusaha, PNS, mahasiswa, bahkan ada juga polisi yang terlibat. Selain pengguna, banyak pula para pengedar atau kurir yang ditangkap. Namun bandar besarnya masih jarang tersentuh.

Menurut Kombes Pol Mohammad Yamin Sumitra, untuk mencegah peredaran narkoba yang makin meluas, pihaknya terus melakukan upaya sosialisasi ke masyarakat, kantor pemerintahan dan swasta serta sekolah-sekolah. Pengunaan narkoba di Jambi, kata dia, salah satu disebabkan faktor ekonomi. Untuk membeli narkoba diperlukan uang. “Jadi hanya orang yang punya uang yang bisa membeli,” katanya.

Selain faktor ekonomi, pergaulan juga menjadi hal yang sangat penting. Dengan pergaulan yang salah orang akan terjerumus. “Cara menghindari narkoba adalah berasal dari individu masing-masing,” jelasnya.

Sumber: http://www.jambi-independent.co.id






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5055