http://pekanbaru.tribunnews.com
">


Orang Berisiko AIDS Tak Sadar Terinfeksi
Tanggal: Saturday, 29 October 2011
Topik: Narkoba


TribunPekanbaru.com, 27 Oktober 2011

Pekanbaru - LAYANAN Voluntary Consulting Test (VCT) di 10 klinik VCT di tujuh kabupaten/kota di Riau ternyata belum banyak diakses oleh kaum berisiko tertular HIV/AIDS. Termasuk tiga klinik VCT yang berada di Pekanbaru, yakni RSUD Arifin Achmad, RS Jiwa Tampan, dan Puskesmas Senapelan.

Klinik VCT yang berada di sejumlah rumah sakit pemerintah tersebut sejak Januari hingga Agustus 2011 hanya dikunjungi 9.768 orang untuk berkonsultasi. Dari total pengunjung VCT jumlah yang melakukan prosedur pelayanan ini juga terus menurun.

Berdasarkan data yang sama, hanya 9.735 orang saja yang mau mengikuti pre tes. Sementara, berdasarkan data estimasi dari Kementerian Kesehatan RI pada 2009 lalu, di Riau terdapat lebih dari 160 ribu orang yang berisiko tertular HIV/AIDS.

Pre tes menurut Kasi Pemberantasan dan Pencagahan penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Drg Duma Ida adalah proses di mana seseorang diberikan pengetahuan mengenai HIV/AID. Mulai dari cara penularan dan siapa saja yang berisiko.

Setelah menjalani proses ini, pengunjung lantas menjalai tes. Pada proses ini, jumlahnya juga menurun. Yakni hanya 9.714 orang. Duma Ida menjelaskan, alasannya mungkin dikarenakan pengunjung VCT belum siap mental untuk melakukan tes.

Penurunan juga terjadi pada masa post tes. Proses ini adalah di mana seorang pengunjung VCT mengetahui hasil tesnya. Tercatat hanya 9.656 yang mengambil hasil tesnya.

Duma menjelaskan, pada proses ini, setiap pengunjung VCT selain diberikan hasil tes juga diberikan pengetahuan. Apabila yang bersangkutan dinyatakan positif, maka dia akan diberikan pengetahuan mengenai langkah selanjutnya yang harus dilakukan.

"Sementara apabila negatif, maka dia akan diberikan pengetahuan untuk terus mempertahankan status negatifnya," katanya ketika ditemui Tribun, Selasa (25/10).

Dari total jumlah pengunjung VCT, orang berisiko yang secara sukarela datang atau pelaku VCT statis, berjumlah hanya 5 persen hingga 10 persen saja.

Sementara lainnya merupakan kalangan berisiko yang didatangi oleh penjangkau, biasanya dari para anggota LSM, dan kemudian dilakukan VCT terhadapnya.

Walaupun tidak secara gamblang mengungkap berapa target kalangan berisiko yang harus melakukan VCT, namun diakuinya bahwa jumlah tersebut masih dibawah target. Berdasarkan test VCT sejak Januari hingga Agustus tersebut, tercatat sebanyak 307 orang dinyatakan positif HIV.

"Jadi secara akumulatif, penderita HIV di Riau sebanyak 677 orang dan pengidap AIDS sebanyak 609 orang," imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Siklus, Priyo Anggoro mengatakan, minimnya orang berisiko yang mau mengakses VCT secara sukarela disebabkan karena beberapa faktor. Di antaranya adalah kurangnya kesadaran masyarakat berisiko akan kesehatan dirinya.

Secara fisik, tidak ada perubahan pada tubuh orang yang terinfeksi HIV. Sehingga yang bersangkutan akan merasa sehat-sehat saja.

Selain itu, kalangan berisiko mungkin juga merasa malu apabila datang ke klinik VCT memeriksakan diri. "Masalah biaya juga merupakan kendala. Karena walaupun biaya VCT gratis, namun mereka harus mendaftar sebagaimana layaknya pasien biasa," bebernya.

Mungkin karena itulah, lanjut Priyo, maka layanan mobile VCT yang dilakukan oleh para anggota LSM lebih banyak menjaring kalangan berisiko.

Mengenai jumlah red line atau persentase orang positif HIV dibandingkan dengan jumlah total pengunjung VCT, Priyo berpendapat hal tersebut bisa dinilai dari sisi positif dan negatif.

Sisi positifnya adalah jumlah red line di Riau hanya sekitar 3 persen. Notabene kecil dari rata-rata red line nasional yang berkisar antara 7 persen hingga 10 persen.

Sementara sisi negatifnya, mengacu pada red line Riau, hal ini bisa juga memunculkan indikasi tidak berhasilnya para penjangkau menggiring orang-orang yang tepat untuk melakukan VCT. Ia menjelaskan, kalangan penjangkau dibebani target sebanyak 25 orang sekali melakukan mobile VCT.

"Jujur saja, adanya target tersebut cukup mengganggu. Sehingga bisa juga kawan-kawan di lapangan menjangkau orang yang kurang tepat," ujarnya.(cr11)

Sumber: http://pekanbaru.tribunnews.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5059