Mantan Junkies Itu Kini Aktivis anti-Narkoba
Tanggal: Sunday, 30 October 2011
Topik: Narkoba


Sriwijaya Post, 29 Oktober 2011

SUDAH sejak 1997-an, dua sahabat, BY (34) dan R (33), mengonsumsi narkoba. Saat itu, mereka ikut sebagai pengguna (junkies) segala jenis narkoba yang mudah sekali didapatkan.

“Tapi sekarang kami sudah bersih dari narkoba dan sekarang aktif dalam program kegiatan pemerintah menanggulangi penggunaan napza melalui jarum suntik agar tidak terkena HIV/AIDS,” jelas BY saat ditemui di sela kegiatan mereka di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumsel, di Jl Kolonel H Barlian, Jumat (28/10) siang.

BY mengaku, ia ikut sebagai pengguna karena ajakan temannya saat duduk di bangku SMA. “Dulu, kalau nggak pakai obat dibilang nggak gaul,” ujarnya. Awalnya ia mencoba ganja, kemudian pil koplo, putaw, sabu dan ineks.

Akibatnya, ia menjadi seorang junkies dan selalu menggunakan narkoba beberapa hari dalam satu minggu. Ia mengaku, jika tidak menggunakan narkoba, akan terasa dampak pada tubuhnya. R, teman BY, menuturkan, para pengguna biasanya takut akan air dan jarang sekali mandi. Hidup mereka tidak teratur karena penggunaan narkoba.

“Uang juga habis. Satu minggu bisa beberapa kali pakai dan harga obatnya yang boleh dibilang mahal. Satu kali pakai bisa habiskan uang Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta,” jelas R. Namun mereka mengaku susah untuk lepas dari jeratan narkoba jika tidak ada kesadaran dari diri sendiri serta dukungan orang-orang terdekat.

“Dulu, tahun 2004 saya sudah mengurangi penggunaan putaw. Tapi, kembali pakai di tahun 2005 karena gabung lagi dengan sesama penggunanya. Ba-ru tahun 2006, saya kembali fokus untuk lepas dari jeratan narkoba berkat dukungan teman-teman yang sudah bersih dari narkoba,” jelas BY.

Selama proses pembersihan dari narkoba, BY dan R diwajibkan untuk mengonsumsi obat pengganti narkoba. Obat tersebut harus dikonsumsi setiap hari dan harganya juga cukup mahal.

“Dulu, obat penggantinya bernama subutex, seperti kapsul dan harganya Rp 80 ribu sebutirnya. Bisa dibayangin kan, dalam satu tahun berapa pengeluarannya,” ujar BY. Kemudian, jenis obat pengganti berganti nama menjadi subuxan dan sekarang berganti lagi menjadi metadon berbentuk sirup.

“Obat-obat ini didapatkan di tempat rehabilitasi narkoba seperti di RS Ernaldi Bahar,” ujar R. Setelah menjalani pengobatan, mereka memiliki tanggungjawab moril untuk melakukan hal yang sama dengan para pengguna lainnya yang masih aktif menggunakan narkoba. Mereka melakukan konseling dan melakukan pendekatan dengan pengguna. Mereka juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat terutama kalangan pelajar dan mahasiswa tentang bahaya narkoba.

“Cukup kami saja yang merasakan. Itulah pentingnya penyuluhan kepada masyarakat mengenai dampak penggunaan narkoba,” ujar R. Mereka berharap, pencegahan penggunaan narkoba bisa dilakukan sejak dini dalam keluarga yang menjadi tanggungjawab orangtua.

“Tidak ada kata sembuh bagi orang yang sudah menggunakan narkoba. Kami istilahkan bersih dari narkoba. Melepas ketergantungan itu, tidak langsung me-nyetop penggunaan narkoba tapi secara bertahap mengurangi penggunaannya,” jelas BY.

Saat ini, keduanya aktif mengkampanyekan penyuluhan bahaya narkoba terutama pengguna narkoba suntik (penasun) agar tidak terjangkit HIV/AIDS. Mereka tergabung dalam LSM Palembang Care Centre (PCC), yang menjadi ujung tombak pemerintah dalam mengkampanyekan agar tidak terjangkit HIV/AIDS. (mg4)

Sumber: http://palembang.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5071