800 Pelacur ABG, Jajakan Diri Lewat Internet
Tanggal: Sunday, 30 October 2011
Topik: Narkoba


Pos Kota, 30 Oktober 2011

JAKARTA – Mengkhawatirkan. Persaingan pelacur di Jakarta dalam memburu pria hidung belang tidak hanya dilakukan wanita yang sudah berpengalaman. Ternyata cewek ABG (anak baru gede) banyak mengais rezeki menjadi pelacur dengan cara lebih canggih yakni memanfaatkan internet.

Kecanggihan internet yang bisa melayani persahabatan seperti facebook, twitter, email saat ini banyak digunakan ABG untuk mencari mangsa alias menjajakan cinta.

Buka itu saja, ABG juga banyak menjajakan cinta menyambangi tempat hiburan malam. Mereka ikut membaur bersama ratusan ABG lainnya yang terlebih dulu bekerja di spa, panti pijat, diskotek, karaoke, hotel, dan lainnya

Berdasarkan catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (PA), tercatat ada sekitar 800 gadis ABG yang terlibat dalam kegiatan pelacuran. Rata-rata usia gadis muda ini berkisar antara 14 tahun hingga 17 tahun.

“Mereka di antaranya bekerja di berbagai tempat hiburan seperti spa, panti pijat, karaoke, diskotek, hotel, dan lainnya. Mereka juga memanfaatkan jaringan internet yang sudah mewabah hingga ke pelosok-pelosok,” kata Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, Sabtu (29/10).

Menurut Arist, terjunnya ABG ke dunia prostitusi ini sangat memprihatinkan. Selain membuat masa depan yang bersangkutan hilang, juga dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah baru, misalnya saja semakin merebaknya kegiatan pelacuran dan rawannnya penyebaran HIV/AIDS.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, gadis ABG ini banyak memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam menjaring pria hidung belang. “Mereka di antaranya ada yang menawarkan dirinya melalui facebook, email dan lainnya. Karena itu, polisi harus bertindak tegas untuk mengungkap kasus ini,” tegasnya.

Arist menyambut baik apa yang sudah dilakukan oleh jajaran Polres Jakarta Selatan yang menangkap pria hidung belang, mucikari dan germo yang terlibat dalam pelacuran ABG.

“Para gadis ABG ini hanya korban, jangan dijadikan sebagai tersangka. Tetapi germo, mucikari, pria hidung belang maupun pengusaha yang menyediakan ABG sebagai pelacur harus juga ditangkap,” tandasnya.

Maraknya praktek prostitusi gadis ABG ini, diakui Arist tidak lepas dari banyaknya laporan yang masuk ke Komnas PA terkait masalah tersebut. Dalam 10 bulan, sejak awal Januari 2011 hingga pertengahan Oktober 2011, pihak Komnas PA menerima 232 laporan pelacuran ABG.

“Kebanyakan laporan tersebut dilakukan orang tua maupun keluarga dekat sang gadis yang tidak terima anaknya terjun sebagai pelacur. Kami langsung merekomendasikan laporan itu ke instansi terkait, misalnya kepolisian atau Dinas Sosial. Jika yang berkaitan dengan hukum, harus ditindaklanjuti,” tandasnya.

KEMUDAHAN FACEBOOK

Perkembangan teknologi internet, baik yang dilakukan melalui komputer pribadi, warnet maupun HP rupanya dimanfaatkan ABG ini dalam mencari mangsa. Salah seorang pengguna internet, Yudha Kurniawan, warga Cideng, Jakarta Pusat, mengakui banyak dijumpai gadis ABG yang terang-terangan menawarkan diri untuk diajak kencan melalui facebook maupun email.

“Mereka biasanya berdalih berkenalan dan ajak ketemuan di restoran, mal, pusat perbelanjaan, bioskop atau lainnya. Setelah ketemu dan merasa cocok, biasanya para ABG ini juga bisa diajak kencan dengan bayaran antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu,” ujarnya.

Selain itu, banyaknya penggunaan HP yang selama ini dikenal dengan tarif yang sangat murah, maupun kemudahan berkomunikasi melalui BBM atau Blackberry Messenger yang banyak digunakan para ABG, membuat transaksi bisnis esek-esek di kalangan ABG ini semakin mudah.

“Biasanya di antara teman yang sudah mengetahui PIN BBM seseorang, ada yang saling menginformasikan kalau gadis ABG itu bisa dipakai. Mereka langsung bisa kontak atau menghubungi si gadis untuk kencan,” tuturnya.

Selain melalui teknologi internet, para gadis ABG ini saat ini juga banyak yang bersaing dengan pelacur yang mempunyai jam terbang tinggi dalam mencari hidung belang, di areal prosituti liar. Tanpa rasa malu mereka mejeng mencari mangsa sejak pukul 23.30 hingga pukul 05.00.

Ini terlihat di Jalan Tubagus Angke, Jakarta Barat, dari arah Pesing menuju Jembatan Dua, Jakarta Utara, kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan lainnya. Demi gengsi memiliki HP Blackberry, iPad, laptop atau barang mewah lainnya mereka rela menjual tubuhnya meski usai masih tergolong muda.

PENCEGAHAN DINI

Agar pelacuran para gadis ABG ini semakin berkembang, Arist berharap peran serta orang tua dalam memperhatikan anak-anaknya sangat diperlukan. “Berikan anak kasih sayang agar terjalin hubungan yang harmonis antara keluarga. Anak bisa merasa terlindungi di dalam keluarga,” katanya.

Sebelumnya, kasus pelacuran yang melibatkan ABG ini diungkap petugas Polres Jakarta Selatan di Jalan Siaga Raya, Pasar Minggu, (Pos Kota, 28/10). Tiga orang ditahan yakni mucikari, germo dan pria hidung belang, yang ternyata mempunyai jabatan bergengsi sebagai notaris.

Para ABG yang dikoordinir germo Bu Nunung ini rela menjual tubuhnya hanya dengan bayaran Rp300 ribu. Namun pada kenyataannya mereka menerima Rp200 ribu karena dipotong sang germo Rp100 ribu dengan alasan untuk fee.

GAYA HIDUP

Terkait maraknya pelacuran yang melibatkan gadis ABG, menurut Kriminolog UI, Erlangga Masdiana, hal itu bisa terjadi karena minimnya lahan untuk mencari nafkah.

Selain itu, kata dia, pemerintah dinilai kurang tegas untuk mengatasi masalah protitusi. Akibatnya, keberadaan mereka makin banyak dan tumbuh subur di kota-kota besar seperti Jakarta.

Pengaruh gaya hidup diperkotaan, lanjut Erlangga juga bisa mempengaruhi setiap orang untuk melakukan hal apa saja. Jadi tidak pandang bulu baik itu masih di bawah umur jika mereka terpengaruh gaya hidup yang serba mewah apapun dilakukan. (tiyo/m1/adin/b)

Sumber: http://www.poskota.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5073