Butuh Komitmen Semua Pihak Minimalisasi Kasus HIV/AIDS
Tanggal: Wednesday, 02 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Berita Sore, 31 Oktober 2011

Medan: Dibutuhkan komitmen semua pihak baik pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, maupun masyarakat secara pribadi untuk bersama-sama berupaya meminimalisir meningkatnya kasus HIV/AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara Chandra Syafei di Medan Senin [31/10], mengatakan, meskipun sudah dilakukan dalam bentuk reguler seperti sosialisasi dan strategi rencana aksi untuk menanggulangi HIV/AIDS, namun hal itu dinilai belum cukup.

“Kunci sukses penanggulangan HIV/AIDS adalah komitmen semua pihak baik legislatif, ekskutif, masyarakat dan pihak swasta. Artinya dengan komitmen semua pihak merupakan kekuatan pendorong yang kuat dan memadai untuk penanggulangan penyakit yang belum memiliki obat itu,” katanya.

Untuk itu, lanjut dia, agar terus dibangun komitmen yang kuat dan sinergi dengan berbagai pihak untuk mengurangi kasus HIV/AIDS. Epidemi HIV/AIDS di dunia dari pekerja seks dan narkoba suntik (IDUs atau Intra Drug User) pada usia dibawah 25 tahun.

Sekitar 11,8 juta remaja usia 15-24 tahun adalah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Jumlah ini akan terus bertambah, tiap hari 6.000 remaja terinfeksi HIV.

“Sekitar satu juta pecandu narkoba di Indonesia selain karena penggunaan jarum suntik bersama-sama, juga seks bebas. Kalau tidak segera ditanggulangi, terjadi ledakan HIV di Indonesia,” katanya.

Berdasarkan perkiraan tahun 2009 di Sumut terdapat sebanyak 7.059 ODHA dan yang ditemukan di klinik VCT ada 4462 orang atau 63,2 persen. Dengan perbandingan laki-laki 3 dan wanita 1.68 persen free seks (heteroseksual), 30 persen IDUs dan 1,4 persen perinatal.

Berdasarkan usia di Sumut, yang terinfeksi usia 20-29 tahun sebanyak 52 persen, 30-39 tahun ada 34 persen, 40-49 tahun ada 8,9 persen. Usia ini merupakan usia produktif dalam karir, pendidikan dan pasangan usia subur.

Project Officer Global Fund, Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Andi Ilham Lubis mengatakan, selaian butuh komitmen semua pihak yang juga perlu diperhatikan adalah pembuatan rumah singgah bagi penderita HIV positif.

“Rumah singgah itu terutama bagi mereka ibu dan anak pengidap HIV positif yang tidak mendapat perhatian keluarga atau lingkungan masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan, Sumut sendiri sampai saat ini belum memiliki rumah singgah, sehingga jika terdapat kasus tersebut, pihaknya kesulitan menempatkan ibu dan anak penderita HIV positif.

“Belum semua masyarakat yang mau menerima pengidap HIV positif tersebut dengan alasan yang berbeda-beda. Karena bentuknya rumah singgah maka sifatnya ibu dan anak penderita HIV positif tidak akan ditampung selamanya, karena ada batas waktu,” katanya. (ant)

Sumber: http://beritasore.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5079