Jambi 17 Besar Kasus HIV/AIDS
Tanggal: Wednesday, 02 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Jambi Independent, 01 November 2011

JAMBI - Perkembangan kasus Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Provinsi Jambi dari tahun ke tahun terus meningkat. Berdasarkan data dari Komisi Penaggulangan HIV/AIDS Provinsi Jambi, pada tahun 2008 tercatat ada 15 kasus HIV dan 51 AIDS di Jambi. Lalu tahun 2009 meningkat menjadi 20 kasus HIV dan 70 AIDS.

Tahun 2010 meningkat lagi menjadi 32 kasus HIV dan 45 AIDS. Sementara tahun 2011, hingga Juni tercatat 29 kasus HIV dan 34 AIDS.

“Penularan HIV/AIDS 70 persen akibat perilaku seks beresiko atau heteroseksual,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jambi Aspan Effendi dalam pertemuan koordinasi Komisi Penanggulangan HIV/AIDS se-Provinsi Jambi di Hotel Novita, kemarin (31/10).

Menurut Aspan, dalam 10 tahun terakhir tercatat 525 kasus HIV/AIDS di Jambi. Dari jumlah tersebut 58 kasus orang meninggal dunia akibat virus yang menyerang kekebalan tubuh tersebut. “Jambi menempati urutan sekitar 17 atau 18 dari 33 Provinsi di Indonesia. Ini artinya, dari segi jumlah penderita (HIV/AIDS), kita cukup banyak,” terangnya.

Dari angka pravelensi rata-rata kasus HIV/AIDS di Provinsi Jambi tercatat 0,5 persen di atas nasional yang hanya 0,2 persen. Namun angka rata-rata ini, kata Aspan, karena penduduk Jambi tidak sebanyak di Jawa Timur saat dibagi dengan jumlah kasus. “Presentasi yang tinggi itu di Irian (Papua), di mana jumlah penduduknya sedikit, penderitanya banyak,” tambahnya.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Nafsiah Benboy mengatakan, kasus HIV/AIDS di Provinsi Jambi yang mencapai angka 525 kasus ini dianggap sebagai keprihatinan luar biasa. “Memang di Provinsi Jambi angka penderita HIV/AIDS 0,5% ini di atas tingkat nasional. Yang penting, mulai hari ini diketahui bahwa penyakit ini bisa dicegah,” katanya.

“Mengingat 70 persen terinfeksi HIV/AIDS dari hubungan seks yang tidak aman, untuk mencegahnya tergantung dari orang di Jambi untuk mengubah perilaku. Karena bisa menular kepada istri atau keluarga. Dengan demikian penyakit HIV/AIDS mulai mengancam keluarga dan diperlukan pencegahannya,” jelasnya.

Menurut Nafsiah, dari proporsi kasus HIV/AIDS baru di Indonesia pada 2006, 82,9 persen terdapat pada lelaki dan 16,9 persen pada wanita. Sedangkan pada 2011, tren wanita terjangkit penyakit ini meningkat menjadi 35,1 persen, dan pada laki-laki turun menjadi 64,9 persen.

Masih terkait respon Layanan Penanggulangan HIV/AIDS di Provinsi Jambi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Andi Pada mengakui sudah ada. Untuk layanan IMS terdapat pada Puskesmas Rawasari, Puskesmas Pijoan Baru Tanjabbar, dan Puskemas Muara Bungo I kabupaten Bungo. Kemudian, untuk Layanan Jarum Suntik terdapat pada Puskesmas Tanjung Pinang Kota Jambi.

Sedangkan untuk Layanan VCT terdapat di RSUD Raden Mattaher, RSUD A Manaf Kota Jambi, RSUD Daud Arif Tungkal, dan RSUD Hanafi Bungo. Lalu, untuk Layanan CST, ada di Rumah Sakit Raden Mattaher, RSUD Hanafi Bungo dan RSUD Daud Arif Kuala Tungkal. Sedangkan Layanan PMTCT hanya terdapat RSU Raden Mattaher dan pelayanan Rumataon Petadon ada di RSJ Provinsi Jambi.

Menanggapi pertanyaan wartawan, apakah para penderita HIV/AIDS mendapatkan kamar yang berbeda ketika dirawat, Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar yang menghadiri acara tersebut mengatakan tidak dilakukan. Menurut dia, pemerintah tidak menyiapkan ruangan khusus ketika merawat penderita HIV/AIDS. “Karena, itu berarti mengasingkan. Yang jelas dokter sudah paham cara menanganinya,” terang Fachrori.

Hal ini dibenarkan juga oleh Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Nafsiah Benboy. Dia menjelaskan bahwa tindakan mengusir penderita HIV/AIDS adalah tindakan diskriminasi. Ini terjadi karena faktor ketidaktahuan dari masyarakat. Oleh sebab itu, lanjut dia, dokter atau petugas tidak bisa sembarangan memvonis dan memberikan informasi seseorang menderita HIV/AIDS, karena banyak terjadi pengusiran terhadap penderita penyakit ini.

“Tindakan pengusiran penderita AIDS adalah bentuk diskriminasi. Tapi kita harus mengerti, bahwa ini terjadi karena ketidaktahuan. Makanya kita berikan informasi dan pendidikan,” tandasnya.

Sumber: http://www.jambi-independent.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5088