Pelaku seks menyimpang semakin blak-blakan
Tanggal: Wednesday, 02 November 2011
Topik: Narkoba


Kontan.com, 01 November 2011

Seorang pasien menemui psikolog seks Zoya Amirin di ruang kerjanya pada suatu siang. Pria itu, sebut saja Mister X, mengeluhkan keharmonisan rumah tangganya terganggu. Penyebabnya, dia merasa gairah untuk berhubungan seks dengan istrinya mulai menurun.

Alasan penurunan gairah itu lantaran Mister X ingin melakukan hubungan seksual bersama lebih dari satu orang dalam satu kesempatan alias threesome. "Kalau saya melakukan itu, apa kemungkinan terjeleknya?" tanya Mister X kepada Zoya.

Kasus keinginan melakukan threesome ini tak sekali dua kali ditemui Zoya saat praktik. Bahkan, Zoya mendapati persoalan seksualitas pasien yang menyimpang itu jumlahnya cukup banyak dan sangat beragam. "Saya tidak pernah menyarankan orang untuk melakukan threesome, tapi mereka datang sudah dengan keinginan itu," kata Zoya.

Selain threesome, ada juga pasien yang ingin bertukar pasangan. Mereka umumnya sudah lama punya keinginan terpendam itu, tapi baru menemukan orang yang tepat untuk dimintai saran. Kini, orang lebih terbuka dalam menyampaikan permasalahan seksual, walau keinginan yang menyimpang.

Menghadapi kasus seperti itu, Zoya menggali persoalan psikologi yang dialami si pasien. Dia menjelaskan baik dan buruknya termasuk kemungkinan munculnya kecemburuan dari pasangan resmi. Bila masih ingin, Zoya meminta pasien datang dengan istrinya serta calon pasangan threesome.

Psikolog cantik ini mengingatkan keputusan jadi tidaknya threesome berada di tangan sang pasangan suami istri. Sebab, realisasi keinginan seksual ini justru dapat menempatkan hubungan mereka pada jurang perceraian. Belum lagi, bahaya penyakit kelamin yang justru merugikan mereka.

Kelainan psikologis

Zoya melihat, perilaku seks menyimpang ini sangat dipengaruhi persoalan psikologi si pasien, tak sekadar reaksi atas penurunan gairah seks yang dirasakan. Contohnya, dari hasil pemeriksaan dokter, hormon seseorang normal tapi libido tidak bisa naik. Artinya, kata Zoya, ada persoalan psikologi.

Perilaku seks menyimpang ini dapat menimpa siapapun. Jadi, keinginan tersebut tak hanya dialami oleh orang dengan kelas ekonomi menengah ke atas. "Kejanggalan seperti itu dapat muncul pada semua orang dari semua kalangan," tegas Boyke Dian Nugraha, seksolog Klinik Pasutri.

Faktor lingkungan, kata Boyke, merupakan pemicu utama timbulnya penyimpangan seksual. Seorang anak yang dibesarkan pada lingkungan yang tidak kondusif dapat tumbuh dan besar dengan pemikiran yang salah terkait kegiatan seksual.

Katakanlah si ayah berselingkuh, Boyke mencontohkan, anaknya dapat menilai bahwa seorang lelaki dapat berhubungan dengan lebih dari satu perempuan. "Faktor lingkungan merupakan pemicu utama munculnya penyimpangan seksual. Kontribusinya bisa 70%," papar Boyke.

Selain faktor lingkungan, perilaku seks yang menyimpang ini juga dapat terjadi karena faktor hormon. Misalkan, seorang lelaki yang ingin berhubungan intim dengan sesama lelaki. Keinginan tersebut dapat muncul karena lelaki tersebut telah terpapar hormon estrogen secara berlebihan.

Sebuah kenikmatan yang dilakukan tanpa memperhatikan batasan moral dan agama tentu akan mengandung risiko yang besar. Pada titik ini, Boyke mengingatkan, penderita penyimpangan seksual ini berpotensi besar terkena penyakit seksual.

Beberapa penyakit seksual yang menghantui dan dapat merenggut nyawa adalah HIV AIDS atau kanker leher rahim pada perempuan. "Belum lagi kalau terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Siapa yang akan mengurus anak tersebut jika dilahirkan? Atau jangan-jangan malah digugurkan," papar Boyke.

Untuk itu, Boyke berpesan, orangtua seharusnya memberikan contoh dan edukasi yang baik kepada anak-anaknya. Karena, perilaku seks yang menyimpang bukan baru-baru ini saja terjadi. Apalagi akses informasi sudah sangat terbuka saat ini.

Dengan keterbukaan tersebut, lanjut Boyke, orang semakin berani atau tidak malu lagi untuk mengungkapkan apa yang mereke rasakan, termasuk keinginan seks yang menyimpang tersebut. "Maka timbullah kesan semakin banyak kasus penyimpangan seks tersebut. Padahal sudah terjadi sejak dulu," ujar Boyke.

Edukasi serta penerapan moral dan agama yang baik, ungkap Boyke, bisa menjadi dasar dalam pertumbuhan seorang anak. Dia dapat memiliki pola pikir yang sehat dan bertanggungjawab dalam urusan kegiatan seksual ketika beranjak dewasa.

Sumber: http://lifestyle.kontan.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5099