6 Penyebab Pria Ogah Pakai Kondom
Tanggal: Wednesday, 02 November 2011
Topik: Narkoba


KOMPAS.com, 02 November 2011

JAKARTA - Penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi telah terbukti dapat mencegah kehamilan dan mengurangi risiko penularan Infeksi Menular Seksual (IMS).

Penggunaan karet pengaman ini pun mudah, selain harganya lebih terjangkau ketimbang jenis kontrasepsi lain. Namun sayang, penggunaan kondom di masyarakat nyatanya masih sangat rendah dibandingkan jenis kontrasepsi lain, yakni kurang dari 10 persen.

Menurut Koordinator Pelayanan Medis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesiaa (PKBI) DKI Jakarta, Bondan Widjajanto, banyak alasan yang melatarbekangi redupnya popularitas kondom.

Setidaknya ada 6 (enam) alasan mengapa pemakaian kondom di kalangan pria masih minim :

1. Kontrasepsi "hanya untuk perempuan (isteri)"

Selama ini, penggunaan kontrasepsi kerap dibebankan kepada kaum perempuan. Padahal, pria juga mempunyai peran penting dalam mencegah kehamilan dan penularan infeksi penyakit menular seksual. Apalagi jika melihat kenyataan di lapangan bahwa pria sebagai individu yang paling berisiko menularkan penyakit infeksi menular seksual karena perilaku seksual yang cenderung berisiko.

2. Tidak nyaman (sensasi berkurang)

Kebanyakan pria malas menggunakan kondom karena merasa kenikmatan dan sensasi saat berhubungan seksual berkurang. Padahal, desain kondom yang saat ini diproduksi sudah sangat tipis, elastis dan tahan lama sehingga tidak menghilangkan sensitivitas secara keseluruhan.

3. Stigma kondom sebagai alat seks bebas

Tidak benar jika ada anggapan yang mengatakan penggunaan kondom sebagai pendorong seks bebas. Masih adanya anggapan keliru di masyarakat yang berangangapan bahwa penggunaan kondom mendukung seks bebas membuat sosialisasi dan penerapannya tidak berjalan lancar.

4. Kondom gagal cegah kehamilan

Kegagalan kondom dalam pencegahan kehamilan timbul lebih karena pemahaman yang kurang di masyarakat. Kegagalan kondom lebih sering disebabkan pemakaianya yang tidak benar, bukan karena mutu kondom itu sendiri. Beberapa penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, sekitar 30-60 persen pria mengaku selalu menggunakan kondom, tetapi di antara mereka yang menggunakan kondom belum tentu memakainya secara benar.

"Turunnya keefektifan kondom lebih disebabkan pada faktor manusia. Jadi jangan gunakan kuku saat menyobek bungkusnya, jangan taruh di dompet, dan sebelum digunakan harus dilihat dulu kedaluarsanya," kata Bondan saat kunjungan media ke PT. Mitra Rajawali Banjaran, Bandung, Selasa, (1/11/2011).

5. Mudah lepas, pecah atau sobek

Kondom telah diuji dengan ketat di laboratorium. Kondom tergolong produk kesehatan dan pengujiannya berada di bawah Departemen Kesehatan. Pada waktu diproduksi di pabrik pun kondom akan melalui serangkaian pengujian ulang sebelum dikemas. Beberapa studi di AS menunjukkan bahwa angka kondom pecah kurang dari 2 persen.

"Untuk memenuhi Standar Mutu Internasional (ISO 4074) tiap helai kondom yang diproduksi harus melalui uji elektronis, karena itu tidak mudah robek," kata Bondan.

6. Virus HIV dapat menembus kondom

Ada anggapan bahwa kondom mengandung lubang-lubang yang bisa dilalui HIV. Hal ini memang benar kalau kondom terbuat dari bahan alami seperti usus domba. Tetapi kondom jenis itu sudah jarang diproduksi. Kondom lateks, yang lazim ditemukan di pasaran, cukup kuat dan sudah diuji untuk menahan mikro-organisme termasuk sperma dan HIV.

"Kondom memang ada pori tapi sangat kecil sekali. Studi laboratorium membuktikan, bahwa kondom yang terbuat dari lateks sangat kedap untuk mencegah masuknya HIV," tandasnya.

Sumber: http://health.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5101