HIV Tak Tembus Pori-pori Kondom
Tanggal: Thursday, 03 November 2011
Topik: HIV/AIDS


KOMPAS.com, 02 November 2011

JAKARTA — Penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi dinilai cukup efektif mencegah kehamilan, terutama menekan risiko penularan infeksi menular seksual (IMS) seperti HIV/AIDS.

Namun, salah persepsi kerap muncul di masyarakat. Kondom lateks dianggap memiliki pori-pori yang dapat dilalui oleh virus penyebab AIDS. Padahal, karet pengaman yang telah memenuhi standar internasional itu memiliki pori-pori sangat kecil dan tidak mudah bocor.

Menurut koordinator pelayanan medis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI Jakarta, Bondan Widjajanto, penularan akibat pemakaian kondom lebih karena faktor kesalahan dalam menggunakannya.

"Kondom aman. Kebocoran kondom sejauh ini lebih dikarenakan kedaluwarsa dan penyimpanan kurang baik, seperti terkena panas baik oleh matahari maupun karena ditaruh di dompet. Jadi lebih karena human error," kata Bondan di Bandung, Jawa Barat, Selasa, (1/11/2011).

Penelitian laboratorium membuktikan, kondom lateks sangat efektif dalam pencegahan penularan penyakit menular, termasuk HIV, karena lubang pori-pori pada kondom lateks terlalu kecil untuk dapat dilalui oleh virus tersebut.

"Kondom lateks memiliki pori-pori 5 mikron (0,00002 inci), 10 kali lebih kecil dari sperma. Sedangkan studi laboratorium membuktikan bahwa kondom yang terbuat dari lateks sangat kedap untuk mencegah masuknya HIV, virus penyebab AIDS," jelasnya.

Bondan mengatakan, peran kondom sebagai alat pencegah HIV sangatlah penting, terutama bagi kalangan yang berisiko seperti kaum waria, pekerja seks, gay, pengguna narkoba, dan mereka yang sudah positif AIDS atau terinfeksi HIV. Sementara untuk masyarakat luas, kondom sebagai alat kontrasepsi dinilai lebih sehat karena minim efek samping.

"Kondom memiliki keuntungan melindungi dari IMS, tidak memengaruhi hormon, serta minim menimbulkan alergi, di samping juga harganya yang relatif murah," cetusnya.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta Hj Rohana Manggala mengatakan, pihaknya akan terus mengampanyekan penggunaan kondom. Salah satunya dari sudut kebijakan, dengan memasukkan fokus pasokan dan pendistribusian kondom sebagaimana tertuang dalam Program Pencegahan Penularan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS).

PMTS merupakan upaya pemutusan mata rantai penularan HIV melalui hubungan seks yang berisiko dengan melakukan intervensi struktural, selain juga lewat pendekatan terintegrasi pada populasi kunci di tempat-tempat hiburan.

"Dalam menurunkan tingkat HIV, kami gencar melakukan program PMTS yang menekankan pada perubahan perilaku. Hasil yang dicapai cukup signifikan," katanya.

Rohana mencatat, gencarnya program PMTS dan PABM (Pemulihan Adiksi Berbasis Masyarakat) telah berhasil menekan jumlah kasus infeksi HIV di DKI Jakarta.

Mulai tahun 1987 hingga bulan Juni 2011, lanjutnya, secara kumulatif angka kasus HIV AIDS bisa ditekan hingga 9.784 kasus, dengan rincian 4.957 HIV dan 4.827 AIDS. Sementara jumlah kasus HIV dan AIDS baru di DKI Jakarta pada tahun 2011 hingga Juni adalah 675 HIV dan 509 AIDS, dengan angka kematian 109. Angka tersebut cenderung menurun ketimbang data tahun 2010, di mana ditemukan 1.433 kasus HIV dan 1.310 AIDS baru, dengan angka kematian 280.

"Imbauan penggunaan kondom utamanya adalah untuk pencegahan penularan penyakit seksual semata, bukan iklan ataupun sponsor. Hal ini lebih kepada kegiatan menjaga masyarakat agar lebih berhati-hati kepada dirinya dalam perilaku berkehidupan di masyarakat," ujarnya.

Sumber: http://health.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5106