Penderita HIV/AIDS rentan kurang gizi
Tanggal: Thursday, 03 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Waspada Online, 02 November 2011

MEDAN – Banyak penderita HIV/AIDS mengalami gangguan pada gizi yang diakibatkan adanya infeksi yang dialami penderita penyakit tersebut.

“Permasalahan HIV/AIDS di Sumatra Utara merupakan permasalahan yang kompleks. Paling banyak penderita HIV mengalami gangguan pada gizi yang terjadi karena adanya infeksi,” kata Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI) Sumatera Utara, Umar Zein di Medan.

Ia juga mengatakan penegakan diagnosa tuberkulosis (TBC) terhadap anak penderita HIV di Sumut khususnya di Kota Medan belum maksimal. Misalnya ada seorang anak yang yang batuk berkepanjangan selama 3 minggu berturut-turut.

Namun saat dibawa untuk diperiksa dan menjalani perawatan di rumah sakit petugas medis spesialis anak hanya menjelaskan bahwa pasien tersebut hanya mengalami batuk biasa. Namun, saat dibawa dokter spesialis, diketahui bahwa bocah tersebut menderita HIV dan positif mengidap penyakit TB sebagai infeksi opurtunistik atau penyakit penyertanya.

“Pada umumnya, jika penderita HIV mengalami gangguan kesehatan seperti batuk, yang paling dominan untuk melakukan penegakan diagnosanya seperti photo thorax, gejala klinisnya seperti batuk lebih dari dua minggu dan gizinya, ini sudah mewakili,” katanya.

Ia hanya berharap, kepada seluruh tim medis rumahsakit, menemukan penderita HIV yang mengalami penyakit penyerta, agar menangani pasien tersebut dengan membentuk tim.

“Untuk tim yang menegakan diagnosa TB bagi penderita HIV, biasanya penegakan diagnosa dilakukan oleh dokter spesialis paru, bagian gizi, dan dokter spesialis penyakit dalam juga bisa,” katanya.

Kepala Seksi Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Sumut mengatakan, Sukarni, mengatakan, ada delapan sistem scoring yang dilakukan dalam penegakan diagnosa TB anak penderita HIV.

Seperti adanya kontak dengan penderita TB. Misalkan di rumahnya ada penderita TB, jika ada berarti nilainya tiga. Uji tuberkulin dengan mantoux test, jika positif maka nilainya tiga.

“Penegakan diagnosa lain dengan cara melakukan pemeriksaan gizi si pasien, demam tanpa jelas, batuk lebih dari dua minggu, pembesaran kelenjar limfe dibelakang telinga, ketiak dan selangkangan, pembengakan tulang atau sendi, panggul, dan lutut,” katanya.

Jika dari pemeriksaan scoring sistem yang dilakukan petugas kesehatan mendapatkan jumlah 6 atau lebih, maka penegakan diagnosa dievaluasi sebagai TB. “Jika sudah seperti ini, maka pasien akan menjalani perawatan dengan meminum obat selama 6 hingga 9 bulan dan ini tergantung dari tipe yang diderita pasien tersebut,” katanya.

Sumber: http://www.waspada.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5108