Penanggulangan HIV/Aids Butuh Perda
Tanggal: Monday, 07 November 2011
Topik: HIV/AIDS


FAJAR Online, 04 November 2011

MAKASSAR -- Peningkatan jumlah penderita HIV AIDS di Sulawesi Selatan semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang dikumpulkan, Komisi Penanggulan Aids Provinsi (KPAP) Sulsel menyimpulkan, dalam lima tahun terakhir penularan HIV AIDS di provinsi ini meningkat signifikan. Ini membuat, penularannya sudah mengarah pada tahap epidemi berikutnya: general epidemi.

Sebuah tahap di mana penularan HIV AIDS bukan hanya terjadi di kawasan orang-orang beresiko, seperti tempat-tempat prostitusi. Ditemukannya pengidap HIV AIDS yang berstatus sebagai ibu rumah tangga dan anak bayi yang baru lahir menunjukkan, HIV AIDS juga telah tersebar di wilayah publik, dan masuk ke pemukiman masyarakat umum. Bahkan, dalam satu tahun terakhir, dilaporkan beberapa kantong darah yang dikumpulkan di Rumah Sakit, mengandung virus HIV.

Bukan hanya itu, KPA juga telah menemukan beberapa pengidap yang tertular secara multiple transmision. Dalam artian, penderita tersebut sudah berulang-ulang terinfeksi HIV.

Ini terungkap dalam diseminasi dan sosialisasi aksi dan strategi daerah dalam pencegahan dan penanggulangan (P2) HIV AIDS oleh KPAP Sulsel, di ruang redaksi Harian FAJAR, Kamis 3 November.

Dalam seminar tersebut, KPAP meluncurkan sebuah buku strategi dan rencana P2 HIV Aids yang berisi tentang langkah strategis penanggulangan Aids hingga 2015.

Anggota tim penyusun buku tersebut, Dr Arlin Adam, saat memberi pengarahan, menjelaskan, pada 1990 sampai 1995, penderita HIV AIDS hanya datang dari kalangan pekerja seks di kota metropolitan (Makassar). Tahun 1995 hingga 2000, HIV AIDS mulai menyebar ke basis basis kota. Mulai ditemukan di Pare-pare, Bulukumba, dan kota-kota lain," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris KPAP Sulsel, Saleh Radjab, menambahkan, jumlah penderita HIV Aids meningkat signifikan. "Pada akhir tahun lalu, jumlah penderita HIV AIDS mencapai 3899 orang. Jumlah ini meningkat sampai 16 persen di bulan Juni tahun ini, yaitu 4533 penderita," ujarnya. Dia mengatakan, jika diabaikan, jumlah penderita AIDS dalam enam bulan ke depan bisa meningkat sampai 32 persen.

Bagaimana menanggulanginya? Diseminasi yang dihadiri oleh perwakilan masing-masing instansi terkait tersebut, juga membicarakan sejumlah strategi dalam lima tahun ke depan. Strategi berupa tugas yang dibagikan kepada pemerintah dan masing-masing Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) di setiap Kabupaten Sulsel.

"Target kita adalah, masyarakat bisa tahu lima hal, yaitu apa itu HIV, apa AIDS, bagaimana penyebarannya, bagaimana penularannya, dan di mana penyakit ini menyebar," tambah Arlin.

Cara yang dilakukan adalah, melakukan sosialisasi seintensif mungkin, khususnya di kampus-kampus dan sekolah, tempat berkumpulnya banyak kalangan dewasa muda. "Target kita pada tahun 2015 90 persen kalangan muda memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang HIV AIDS," ujarnya.

Selain itu, sebanyak 80 persen dari kalangan pekerja seks yang menjadi key population, dapat dijangkau KPA. "Dari jumlah itu, 60 persen di antaranya bisa ubah sikap dan perilakunya (behavior change)," tambah dia.

Beberapa audiens yang hadir, mengusulkan perlunya dukungan pemerintah setempat di masing-masing daerah, dengan membuat sebuah peraturan daerah dengan mengalokasikan anggaran khusus untuk penanganan dan penanggulangan HIV AIDS kepada KPA-nya masing-masing. "Masih ada 14 kabupaten di Sulsel yang KPA-nya belum berjalan dengan baik karena belum ada Perda yang mengatur, sehingga belum punya anggaran," tambah Arlin. (sbi/pap)

Sumber: http://www.fajar.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5118