8 Alasan Menunda Vaksinasi pada Anak
Tanggal: Monday, 07 November 2011
Topik: Narkoba


KOMPAS.com, 04 November 2011

Vaksinasi atau imunisasi adalah salah satu cara terbaik untuk memastikan anak Anda tetap sehat dan terlindung dari ancaman penyakit. Namun, banyak orangtua khawatir apakah pemberian vaksin cukup aman jika sang buah hati mengalami pilek, alergi, dan kondisi medis lainnya.

Nyatanya, hampir seluruh imunisasi aman bagi kebanyakan anak-anak. Namun, ada beberapa alasan yang mungkin masuk akal bagi para orangtua untuk menunda atau bahkan tidak memberi vaksinasi kepada anak. Untuk keamanan, konsultasikan kepada dokter anak, manakah di antara alasan-alasan di bawah ini yang relevan dengan anak Anda.

1. Mengalami reaksi parah terhadap vaksin sebelumnya

Salah satu alasan utama untuk menghindari vaksinasi bagi anak adalah reaksi alergi yang parah terhadap vaksin sebelumnya. Demikian menurut Robert W Frenck, Jr, MD, profesor kesehatan anak di Cincinnati Children Hospital Medical Center, Ohio.

Reaksi-reaksi alergi "Hampir tidak pernah terjadi," kata Dr Frenck, tetapi yang muncul bisa berupa gatal-gatal, kesulitan bernapas, atau penurunan tekanan darah. Reaksi serius lain, seperti demam tinggi, sakit kepala, dan kebingungan, juga termasuk kasus langka yang dilaporkan.

2. Alergi telur

Vaksin untuk flu dan virus campak dibuat dalam telur ayam. Namun, pemberian vaksin tersebut masih bisa diberikan kepada anak Anda, bahkan jika ia mengalami alergi telur.

"Salah satu cara untuk memberikan vaksin flu kepada anak-anak yang alergi terhadap telur adalah dengan memberikannya dalam dosis yang kecil," kata dr Andrew Hertz, MD, spesialis anak dari University Hospital Rainbow Babies & Children Hospital, di Cleveland.

Komite Penasihat untuk Progam Imunisasi di AS baru-baru ini merekomendasikan bahwa orang dengan alergi telur boleh mendapatkan vaksinasi flu. Studi telah mencatat bahwa orang-orang bahkan dengan alergi telur tidak mengalami reaksi terhadap vaksin, mungkin karena jumlah protein telur di dalamnya sangat kecil.

3. Demam tinggi

"Jika anak Anda mengalami demam di atas 38,5 derajat celcius, konsultasikan kepada dokter apakah Anda harus menunda vaksinasi," saran dr Hertz. "Anda tidak akan tahu jika demam merupakan efek samping dari vaksin," kata dr Hertz. Namun ia menyarankan, jika Anda menunda vaksinasi karena demam, ingatlah untuk menjadwal ulang.

4. Asma

Anak-anak dengan asma atau mengalami gangguan kondisi paru-paru lainnya harus menjadi orang yang terdepan untuk mendapatkan vaksinasi flu setiap tahunnya. Pasalnya, flu bisa menjadi masalah besar bagi mereka dengan gangguan kesulitan bernapas.

Namun, Anda harus menghindari jenis vaksin flu nasal (vaksin yang disemprotkan) karena vaksin tersebut mengandung virus hidup; tidak seperti vaksin yang disuntik, yang merupakan virus mati. "Ini mungkin akan menyebabkan serangan asma," kata dr Hertz.

5. Steroid dosis tinggi

Jika anak Anda menggunakan kortikosteroid dosis tinggi (yang mematikan reaksi kekebalan terlalu aktif), Anda harus menghindari vaksin virus hidup, termasuk vaksin flu nasal, rotavirus, MMR, varisela (cacar air), dan zoster (herpes), sampai beberapa minggu setelah ia berhenti memakai steroid.

Menurut dr Frenck, steroid dosis tinggi biasanya diminum untuk jangka waktu yang relatif singkat untuk mengobati asma atau kondisi lain. Obat ini dapat menurunkan aktivitas sel-sel imun yang melawan infeksi virus. Namun, dosis rendah steroid yang dihirup tidak masalah dalam vaksinasi.

6. Kekebalan tubuh rendah atau kemoterapi

Anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat kemoterapi, atau mereka yang menerima pengobatan imunosupresif untuk penyakit autoimun seperti peradangan usus atau rheumatoid arthritis (RA), juga harus menghindari vaksin virus hidup. Meskipun membunuh, virus vaksin tetap aman dan diperlukan untuk melindungi anak-anak dengan kondisi seperti itu.

7. HIV-positif

"Secara umum, anak-anak dengan HIV harus mendapatkan vaksinasi selama sistem kekebalan tubuh mereka tidak terlalu terganggu," kata Ciro Sumaya, MD, profesor dari Texas A&M Health Science Center School of Rural Public Health, College Station.

Satu-satunya pengecualian adalah vaksin flu hidup. Jika tidak, asalkan anak dengan HIV memiliki jumlah T-sel dalam rentang yang dapat diterima, maka ia cukup aman untuk dapat menerima vaksin virus hidup, termasuk MMR, varisela, dan rotavirus.

8. Ada orang yang sakit di rumah

Menurut dr Hertz, beberapa jenis vaksin hidup tertentu tidak perlu diberikan kepada anak-anak yang tinggal dengan orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah, baik karena sedang menjalani kemoterapi atau karena memiliki HIV/AIDS, atau sedang mengonsumsi obat imunosupresif.

Secara khusus, anak-anak harus ini menghindari mendapatkan vaksin flu nasal. Secara teori, virus yang berasal dari vaksin nasal ini berpotensi menular dan masuk melalui saluran pernafasan meski jumlahnya sangat sedikit.

Sumber: http://health.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5132