Cegah AIDS!! Kenali Pasangan Sebelum Nikah
Tanggal: Monday, 14 November 2011
Topik: Narkoba


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, 11 November 2011

Asa di Ketapang, kemudian Bintang dan Upik di Pontianak, tertular virus HIV dari ibunya. Sedangkan sang ibu tertular dari ayahnya. Sekretaris Eksekutif KPA Pontianak, Padmi Chendramidi, mengingatkan perlunya keterbukaan di dalam keluarga.

Pada akhir Oktober 2011, Tribun bersama Rizal Adriyansah, aktivis The Global Fund for AIDS, Tubercolosis, and Malaria (GF ATM) Program Kalbar, berkunjung ke rumah Bintang (7) seorang anak pengidap HIV/AIDS di Pontianak.

Bintang tak berhasil ditemui, karena saat itu dia tidak berada di rumah. Sang nenek memperkirakan Bintang sedang bermain ke rumah ayahnya, yang berjarak sekitar 500 meter dari sana.

"Bintang sekarang tambah nakal. Suka main ke rumah bapaknya. Saya khawatir nanti dia kayak bapaknya, pecandu. Sekarang jak Bintang tak mau sekolah, padahal sudah tujuh tahun. Bapaknya tuh malas mengingatkan dia minum obat," keluh neneknya.

Rizal yang dua tahun lalu mengasuh Bintang selama enam bulan, ketika dia masih ditolak keluarga dan tetangganya, amat prihatin mendengar laporan dari neneknya itu.

Dia berharap anak pengidap HIV/AIDS seperti Bintang mendapat pendidikan dan bimbingan yang layak. Jangan sampai kondisi kesehatannya menurun sehingga tak mampu beraktivitas seperti biasa.

"Aduh, Bintang jangan sampai liar. Kalau saya mampu, akan saya masukkan dia ke pondok pesantren. Dia tidak boleh ikut-ikutan liar," ujar Rizal.

Bintang, sebagaimana dijelaskan Rizal, adalah korban dari sikap dan perilaku orangtua yang tak memedulikan nasib anaknya. Kalau orangtua bersikap terbuka, penularan HIV kepada sang anak bisa saja terhindarkan.

Penularan HIV/AIDS dalam satu keluarga, menurut Padmi Chendramidi, Sekretaris Eksekutif KPA Pontianak saat ini masih banyak terjadi.

Hal ini terjadi akibat tidak sadarnya orangtua dengan perilaku yang kemungkinan terinfeksi dan menularkan HIV/AIDS kepada anaknya. "Harus ada keterbukaan dengan pasangan. Ketahui latar belakang dan kondisi kesehatan calon pasangan sebelum menikah, periksa ke VCT," katanya.

"Kalau suami terinfeksi, selalu gunakan kondom ketika berhubungan seks dengan istrinya. Semua orang bisa terinfeksi HIV, termasuk ibu rumah tangga yang mendapat imbas dari suami," ujar Padmi.

Dia menyarankan orang dewasa yang positif HIV/AIDS mengubah pola hidup menjadi baik. Hindari aktivitas yang menurunkan daya tahan tubuh, misalnya seperti dugem. Bagi pecandu narkotika, jangan memakai jarum suntik bergantian.

Pasangan yang positif HIV, masih punya kesempatan memiliki anak. Dengan catatan mengikuti program Preventing Mother to Child Transmission (PMTCT) di bawah pengawasan dokter dan konselor.

"Kalau dilihat kondisi virus lemah, dokter bisa menyarankan suami dengan HIV/AIDS bisa berhubungan seks tanpa menggunakan kondom. Ketika melahirkan, ibu dianjurkan melakukan operasi Caesar, untuk memperkecil kemungkinan penularan HIV. Kemudian disarankan tidak memberikan ASI kepada anaknya," ujar Padmi.

Apabila anak sudah berusia 18 bulan, bisa dilakukan pemeriksaan laboratorium di VCT, agar terdeteksi apakah terinfeksi atau tidak dari ibunya.

Menurut Padmi, ada beberapa anak yang negatif HIV meski orangtuanya positif HIV. Apabila orangtua sadar, maka penularan bisa dicegah.

Hingga kini, pada umumnya pendampingan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) hanya difokuskan kepada orang dewasa. Padahal saat ini makin banyak anak pengidap HIV/AIDS, korban penularan dari orangtuanya.

Berdasarkan data GF-ATM Program Kalbar, hingga April 2011 terdapat 107 anak-anak pengidap HIV yang menjalani perawatan. Sepuluh di antaranya telah meninggal dunia.

Kemungkinan banyak yang belum terdata dan mendapat perawatan karena tidak tahu kalau dia positif HIV. Hingga April 2011 orang dewasa se-Kalbar yang mendapat perawatan HIV sebanyak 1.890 laki-laki dan 725 perempuan. Sedangkan pengidap AIDS yang meninggal dunia 235 laki-laki dan 54 perempuan.

Aktivis GF ATM Program Kalbar, Rizal Adriyansah, berharap di Kalbar bisa terselenggara pendampingan menyeluruh bagi anak pengidap HIV/AIDS. Ia mencontohkan pendampingan seperti yang dilakukan Lentera Anak Pelangi di Jakarta.

Sumber: http://pontianak.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5170