24 Warga Terinfeksi AIDS Waspada, Satu Orang Meninggal
Tanggal: Monday, 14 November 2011
Topik: Narkoba


Padang Ekspres, 12 November 2011

Payakumbuh - Jumlah warga Payakumbuh yang terkena virus HIV/AIDS terus bertambah. Jika tahun 2010 warga yang terkena penyakit mematikan itu baru 17 orang, tahun ini sudah menjadi 24 orang. Salah seorang di antaranya, perempuan satu anak, dilaporkan meninggal dunia.

”Ia meninggal setelah terinveksi virus HIV/AIDS yang mengerogoti suaminya. Kita cukup prihatin, apalagi ia meninggalkan seorang anak,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Payakumbuh dr Merry Yuliesday MARS kepada Padang Ekspres, Jumat (11/11).

Merry mengatakan, meningkatnya jumlah penyakit HIV/AIDS dari 17 orang menjadi 24 orang, pada satu sisi bisa dianggap merisaukan. Namun pada sisi lain, jumlah tersebut sebuah kabar cukup baik. Setidaknya, keberadaan Orang Dengan Hiv/AIDS (ODHA) dapat diketahui.

”Dengan diketahui keberadaan ODHA tersebut, maka upaya untuk membantu mereka dan mencegah terjadinya penyebaran virus HIV/AIDS, dapat dilakukan sedini mungkin. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang telah lama kita bentuk, akan dapat bekerja maksimal,” ujar Merry.

Perempuan kelahiran Lahat, Sumsel,15 Juli 1960 itu menjelaskan sebanyak 24 warga Payakumbuh yang terinfeksi HIV/AIDS, mayoritas berusia muda dan pernah menjadi penguna Narkoba. Mereka terinveksi akibat jarum suntik yang dipakai saat mengonsumsi narkoba dan saat melakukan hubungan seksual.

”Ada juga seorang pria usia sekitar 50 tahun yang tidak pernah mengonsumsi narkoba dan tidak pernah melakukan hubungan seksual selain dengan pasangannya, tapi tetap terinfeksi HIV/AIDS. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ia terjangkit AIDS akibat sering akupuntur semasa merantau di Jakarta,” beber Merry.

Makanya, bekas Kepala Puskesmas Sungailansek, Sijunjung dan Kepala Puskesmas Padanggantiang, Tanahdatar ini mengingatkan kepada masyarakat yang keranjingan melakukan akupuntur, agar selalu meminta jarum baru kepada tenaga akupuntur.

”Begitupula saat bekam, kalau bisa gunakan alat bekam yang baru dan steril. Kalau ragu dengan alat yang digunakan untuk bekam maupun akupuntur, sebaiknya hindari melakukan akupuntur tersebut. Dari pada terjangkit nanti virus HIV/AIDS,” ujar Merry.

Selain itu, Merry berharap masyarakat tidak gonta-ganti pasangan seksual atau menyukai sesama jenis. Sebab faktor resiko AIDS itu sangat banyak, termasuk gonta-ganti pasangan, LSL (lelaki suka lelaki), gai, dan pengguna narkoba. ”Jadi, waspadalah selalu,” ucapnya.

Terhadap 24 warga yang menderita HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Payakumbuh sesuai kode etik penanganan pasien HIV/AIDS, tidak dapat membeberkan identitas mereka. Sebab, para pasien HIV/AIDS biasanya juga sudah diberi nickname (julukan), sehingga identitas mereka juga sudah jelas.

Kendati demikian, masyarakat tidak perlu cemas. Sebab HIV/AIDS hanya menular lewat hubungan seksual, transfusi darah, dan penggunaan jarum. Kalau ada isu yang beredar lewat SMS, bahwa HIV/AIDS bisa menyebar lewat tusuk gigi di rumah makan, itu isu menyesatkan.

Kemudian, jajaran Dinas Kesehatan, diminta Merry untuk mengenali dan memahami karakter para ODHA. Jangan ada diskriminasi pelayanan terhadap mereka. Jangan ada upaya memvonis mereka ke tengah-tengah masyarakat, sebab bisa menimbulkan trauma bahkan gangguan kejiwaan.

”Kalau mereka memberi signal kepada teman-teman jajaran Dinas Kesehatan, misalnya dengan mengatakan, Buk, sehabis Ibuk memeriksa saya, tolong sterilkan alat-alat. Jangan marah pula kepada mereka. Berarti mereka sudah memberi sinyal, pahami saja,” pungkas mantan Dirut RSUD M Ali Hanafiah, Batusangkar ini. (frv)

Sumber: http://padangekspres.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5176