Penanggulangan HIV-AIDS Terkendala Infrastruktur
Tanggal: Monday, 14 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Pikiran Rakyat, 13 November 2011

GARUT - Minimnya infrastruktur pelayanan bagi orang dengan HIV-AIDS (Odha) di Kab. Garut menjadi kendala penanggulangan kasus HIV-AIDS di Kab. Garut. Padahal, jumlahnya terus bertambah setiap tahun, dan perlu penanganan serius yang bisa memberikan pelayanan kesehatan bagi mereka.

Hal itu diakui Kabid. Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kab Garut, Drs Dede Romansyah, Minggu (13/11). "Belum adanya pusat pelayanan terpadu bagi Odha menjadi kendala penanggulangan HIV-AIDS di Kab. Garut," katanya.

Data sementara, terhitung sejak tahun 2007 hingga November 2011, di Kab. Garut terdapat 136 penderita HIV-AIDS. Dari jumlah penderita tersebut, 103 diantaranya merupakan pengidap AIDS, sedangkan 33 lainnya mengidap HIV.

Sulitnya pendataan menyebabkan tidak menutup kemungkinan masih ada yang terjangkit virus tersebut kendati pihaknya belum mengetahuinya. Maka dari itu pihaknya akan terus melakukan pemantauan yang dilakukan dengan berbagai pihak seperti Dinas kesehatan, Agkesra, Dinas sosial maupun masyarat terlasuk LSM peduli HIV-AIDS. "Untuk mengetahui jumlah yang belum terdata serta upaya pencegahan, kami juga tengah gencar melakukan penyuluhan advokasi baik lintas sektor maupun terhadap masyarakat," tuturnya.

Karena tidak ada pusat pelayanan kesehatan bagi ODHA, maka para penderita harus meluangkan waktu minimal satu kali dalam sebulan untuk mengunjungi klinik di RS Hasan Sadikin Bandung. Meski obat cairan anti retro viral (ARV) yang harus mereka konsumsi ditanggung pemerintah, namun mereka harus memiliki biaya transportasi untuk melakukannya. "RSU di Garut belum siap untuk menyediakan infrastruktur berupa area khusus bagi mereka baik untuk konsultasi kesehatan maupun pemeriksaan diri. Akhirnya, ODHA terpaksa harus bolak-balik Garut-Bandung," tuturnya.

Selain itu, terjadi perubahan status pada penderita ODHA karena para anak kini masuk pada tahapan remaja. Kondisi tersebut tentu perlu perhatian khusus untuk membantu mereka dalam masalah kesehatan. Diterangkannya, dari 60 orang pasien terjangkit HIV/Aids, kebanyakn penderitanya adalah kaum laki-laki. Sedangkan penularannya tercatat paling banyak akibat penggunaan Narkoba dengan memakai jarum suntik, disamping pergaulan sek bebas bahkan tidak menutup kemungkinan akibat faktor lain seperti keturunan ataupun transplansi darah dan tatto.

Petugas dari Balai Kesehatan Paru (BKP) Kab. Garut dr. Dahlia Qadarsih didampingi aktivis dari Garut Family Care (GFC) Linda Pebrianti menyebutkan, dari jumlah penderita HIV-AIDS di Garut, kini 56 diantaranya telah meninggal. Penyebab penderita mengidap HIV-AIDS, menurut Dahlia, 80% diantaranya tertular HIV-AIDS melalui jarum suntik, 15% akibat hubungan seksual, dan 5% akibat penularan dari ibu ke anak selama proses mengandung, melahirkan, hingga menyusui.

Diungkapkannya, penderita HIV-ADIS di Kab. Garut paling banyak berjenis kelamin laki-laki dengan usia antara 20 hingga 30 tahun. Sedangkan penderita di bawah umur (bayi), akibat penularan dari ibu berjumlah 11 anak, 3 di antaranya meninggal dunia. Penderita HIV-Aids di Garut lebih banyak terdapat di kawasan Garut Kota.

Dahlia juga menerangkan, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh pada manusia. Sedangkan AIDS merupakan kumpulan infeksi yang masuk kekebalan seseorang yang dirusak oleh HIV. "Harus dipahami, HIV adalah virus sedangkan AIDS adalah kumpulan penyakitnya. Jadi AIDS bukan suatu penyakit tertentu, melainkan penyakit yang menyerang organ tubuh manusia pada saat manusia itu terserang virus HIV," tuturnya.

Masih menurut Dahlia, HIV-AIDS ditularkan melalui empat cairan yakni darah, cairan mani, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI). Atau dapat dikatakan pula, HIV-AIDS ditularkan melalui hubungan seksual dan jarum suntik. "Oleh karena itu, saya ingatkan agar menghindari hubungan seksual bebas, serta menjauhi penggunaan narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik. HIV-AIDS umumnya menyerang manusia yang berumur antara 20-30 tahun. Itulah salah satu alasan kenapa pencegahan HIV-AIDS harus dilakukan sejak dini," tuturnya.

Untuk lebih membuat para peserta lebih mudah mengerti, dalam kesempatan tersebut pemateri juga memutarkan film dokumenter yang menceritakan tentang pola hidup tidak beraturan dan berisiko sebagai penyebab tertularnya HIV/AIDS. (A-158/A-147)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5180