Selayaknya Keluarga yang Mengasuh
Tanggal: Tuesday, 15 November 2011
Topik: Narkoba


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, 14 November 2011

Anak dengan HIV/AIDS tidak hanya membutuhkan pengobatan. Mereka dan keluarganya memerlukan pendampingan dari segi pemenuhan gizi, perawatan kesehatan, dan psikososial. Di Indonesia, baru Lentera Anak Pelangi yang melakukan hal tersebut.

Pada umumnya, pendampingan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) hanya difokuskan kepada orang dewasa. Padahal, saat ini makin banyak anak dengan HIV/AIDS, korban penularan dari orangtuanya.

Berdasarkan data The Global Fund for AIDS, Tubercolosis, and Malaria (GF ATM) Program Kalbar, hingga April 2011 terdapat 107 anak-anak pengidap HIV yang menjalani perawatan. Sepuluh di antaranya telah meninggal dunia.

Sayang, Kalbar belum punya lembaga seperti Lentera Anak Pelangi Unika Atmajaya di Jakarta. Lembaga ini menjalankan program pendampingan bagi anak terdampak HIV, baik mereka yang terinfeksi, maupun yang tidak terinfeksi tetapi terdampak secara psikososial dan ekonomi dari orangtuanya.

"Kata lentera maknanya untuk menerangi, pelangi artinya berwarna-warni. Jadi harapannya kami dapat menjadi terang dalam kegelapan mereka, serta memberi warna-warni bagi hidup anak-anak ini," ujar ujar Natasya Evalyne, Koordinator Divisi Psikososial dan Pendidikan Life Skill Lentera Anak Pelangi, Sabtu (5/11/2011).

Menurut dia, program ini lahir dari respon kebutuhan yang ada. Kebanyakan program untuk HIV/AIDS diperuntukkan bagi orang dewasa, tidak ada bagi anak-anak. Padahal, makin banyak anak-anak terpapar HIV dari orangtuanya. Selain dari sisi kesehatan, mereka juga merasakan dampak secara psikologis, ekonomi, dan sosial.

Lentera Anak Pelangi bukan yayasan atau Lembaga Swadaya Masyarakat. Lembaga ini terbentuk sejak Februari 2009 di bawah bimbingan Prof Irwanto sebagai Program Koordinator yang sudah lama bergelut di bidang HIV/AIDS dan anak.

Tiga staf Lentera Anak Pelangi yang tersisa mendampingi 120 anak. Sebanyak 29 di antaranya adalah anak dengan positif HIV. Dari jumlah tersebut, 90 persen adalah anak dari keluarga kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Kegiatan yang dilakukan adalah kunjungan ke rumah secara intensif, melakukan pemeriksaan status gizi berupa pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan atas serta observasi warna kulit dan mata anak-anak tersebut secara berkala.

Sebagai pendampingan dari sisi nutrisi gizi, anak-anak diberi susu formula yang sesuai dengan kebutuhan tiap anak. "Kami tidak memberi satu merek produk susu kepada semua anak. Tergantung mereka cocok dan suka susu apa," kata Natasya.

Anak-anak tersebut dan keluarganya diberikan layanan kesehatan gratis tiap bulan yang dilaksanakan di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta, ditangani tiga dokter volunteer. Program berkelanjutan ini dilakukan karena dampak dari HIV/AIDS, seperti mata rantai yang saling berkaitan.

Kalau orangtuanya sakit-sakitan, tidak bisa bekerja. Anaknya jadi tidak terpenuhi kebutuhan gizi. Padahal pemenuhan gizi sangat penting untuk kekebalan tubuh anak HIV positif, agar kondisi kesehatannya tidak memburuk.

Pada 2009-2010, Lentera Anak Pelangi didanai UNDP-DKIA dan didukung oleh KPAN. Tapi, dukungan tersebut hanya setahun. Kini, Lentera Anak Pelangi hanya mendapat bantuan dana dari kelompok sosial yang bergerak di bidang isu-isu tentang anak. "Itu pun hanya setahun. Kami harus berjuang keras, cari bantuan yang bisa didapat," ujar Natasya.

Dia merasa kesulitan untuk membuat jejaring dengan komunitas lain yang concern pada bidang HIV/AIDS. Tiap komunitas memiliki agenda tersendiri, tidak ada yang difokuskan kepada anak ODHA. Koordinasi dengan lembaga pemerintah pun, dikatakan Natasya, belum berjalan baik.

Mengenai konsep pendampingan, Natasya menuturkan Profesor Irwanto sebagai pendiri Lentera Anak Pelangi sangat tidak setuju terhadap bentuk pendampingan berupa shelter, atau panti asuhan khusus bagi anak dengan HIV/AIDS. Sewajarnya anak lebih baik bersama keluarga yang bisa mengasuhnya.

"Bisa dibayangkan kalau ada panti asuhan khusus anak dengan HIV/AIDS. Masyarakat pasti tahu kalau penghuninya adalah anak dengan HIV/AIDS semua. Pasti akan menimbulkan masalah diskriminasi, karena warga takut bergaul dengan anak-anak di panti asuhan tersebut," tuturnya.

Lentera Anak Pelangi mencoba untuk memberdayakan keluarganya. Paman dan bibinya diedukasi, apabila suatu saat nenek atau kakek yang mengurus anak dengan HIV/ AIDS meninggal dunia, ada anggota keluarga bisa meneruskan pengasuhan.

"Kami juga tidak punya dana besar untuk membuat panti asuhan. Pasti diperlukan dokter, suster, dan tenaga ahli untuk merawat anak-anak dengan HIV/AIDS. (dian lestari)

Sumber: http://pontianak.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5191