Bantuan Asing Berakhir Peringkat Enam, Butuh Keseriusan Penanggulangan HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 15 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Pontianak Post, 15 November 2011

PONTIANAK--Pemerintah daerah diminta mulai menentukan langkah penanggulangan HIV/AIDS. Upaya ini untuk menghadapi berakhirnya program global funding pada 2015 mendatang. “Siapkan strategi harus perlahan mulai sekarang. Merencanakan penanggulan HIV/AIDS tanpa menggantungkan program global funding. Pemerintah daerah mesti mempunyai langkah tepat,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (PPML) Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2MPL) Kemenkes RI, dr Subuh, disela acara Trainer of Trainer (TOT) Manajemen Program Pengendalian HIV/AIDS tingkat nasional, Senin (15/11) di Pontianak

Menurut dia, sebagian dana program global funding mulai diambil alih pusat. Sehingga menuntut keseriusan daerah untuk memiliki kepedulian mengambil kebijakan strategis menekan penyebaran HIV/AIDS.Penyebaran HIV/AIDS di Kalbar tergolong tinggi, menduduki peringkat enam di Indonesia. Kemenkes akan mendorong program Aku Tahu, Aku Bangga. Yakni lebih menekankan pengetahuan menanggulangi bahaya HIV/AIDS tersebar luas. Sekaligus mengoptimalkan sinergisitas berbagai pihak dengan dimotori pemangku jabatan.“Sasaran utama pemahaman mengenai HIV/AIDS adalah kalangan generasi muda. Misal anak sekolah pada jenjang SMP hingga SMA. Supaya tumbuh generasi yang paham dan mengerti sejak dini untuk menanggulangi penyebarluasan HIV/AIDS,” kata Subuh.

Plh Kadis Kesehatan Kalbar, dr Honggo merinci, penyebarluasan HIV dalam lima tahun terakhir cukup tinggi. “Hingga 2011 tercatat 3.228 pengidap HIV. Sementara yang positif AIDS sebanyak 1161. Dan, 374 diantaranya meninggal,” katanya. Secara terpisah, Rizal, aktivis HIV/ AIDS Kalbar, menekankan pemerintah daerah harus segera mengambil peran setelah program global funding berakhir. Paling dibutuhkan adalah keseriusan.

Tidak semata mengharapkan program yang bermuara kepada proyek. “Jangan menjadikan keterbatasan dana sebagai alasan tidak berbuat. Semua tergantung kemauan pemerintah daerah. Kalau ingin menghambat penyebarluasan HIV/AIDS harus mempunyai kemauan yang kuat. Bukan prioritas membicarakan dana,” kata aktivis yang terlibat dalam global funding, ini. Dia menambahkan, berakhirnya program global funding selayaknya disiasati sejak awal. Supaya kedepan tidak kelimpungan. Mengingat penyebarluasan HIV/AIDS adalah fenomena gunung es. Jadi daerah mesti mempunyai kebijakan yang jelas. Tidak semata menintikberatkan kepada intansi kesehatan.(stm)

Sumber: http://www.pontianakpost.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5193