Taiwan Tolak TKI Pembawa Cacing Permasalahan saat ini standarisasi pelayanan dat
Tanggal: Wednesday, 16 November 2011
Topik: Narkoba


VIVANews, 15 November 2011

Masalah kesehatan para TKI menjadi sorotan berbagai negara di mana mereka akan bekerja. Setiap negara yang membutuhkan TKI mempunyai standar kesehatan minimal yang harus dipenuhi para TKI yang akan berangkat.

“Contohnya Taiwan negara ini mengharuskan para TKI melampirkan hasil lab yang menyatakan TKI bebas cacing,” kata DR Ellin, Deputi Bidang Kesehatan Penyiapan Pemberangkatan TKI BNP2TKI, di Cianjur, Selasa 15 November 2011.

Permasalahan saat ini standarisasi pelayanan data kesehatan ini cenderung belum sama. ”Tidak semua lab mempunyai fasilitas ini. Dan untuk melakukan pemeriksaan ini dibutuhkan teknik khusus dengan biaya yang berbeda. Jangankan cacing, Taiwan itu nggak mau TKI bawa telur cacing di tubuhnya yang nantinya akan menetas di sana,” ujarnya.

Laboratorium yang ditunjuk saat ini hanya bersaing masalah harga tanpa mempedulikan kualitas sehingga hasilnya sering dipertanyakan. Untuk mengantisipasi ini BNP2TKI telah mengeluarkan sertifikat khusus bagi para TKI. Sertifikat ini akan didapatkan oleh para TKI dari laboratorium kesehatan yang telah ditunjuk.

Saat ini BNP2TKI sedang melakukan studi kelayakan ke berbagai mitra pelayanan kesehatan yang selama ini ada. Selain studi bidang kesehatan, BNP2TKI akan melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin ke lembaga yang ditunjuk sebagai mitra kerja ini.

“Ini penting dilakukan karena bila lengah pasti ada penyelewengan. Kita temukan kasus di lapangan untuk uji kesehatan ini ada jokinya. Satu joki bisa enam kali diperiksa darah dan dirontgen. Saya tegur mereka termasuk petugasnya, kita beri sanksi,” tegasnya.

BNP2TKI berharap para penyedia jasa pelayanan kesehatan untuk bersaing secara sehat sehingga tidak bermasalah ke depannya. Saat ini untuk general cek up para TKI dikenai biaya Rp75.000 per orang ini tidak rasional untuk memberikan pelayanan maksimal. “Untuk film rontgen itu satunya Rp40.000 itu pun kalau beli banyak. Kalau sudah diproses paling murah itu harganya Rp50.000, masa sisanya buat banyak pemeriksaan lainnya,” ujarnya.

Pemeriksaan paru-paru penting karena semua negara tujuan TKI menolak para TKI yang mempunyai masalah dengan paru-paru mereka. Penyakit ini dianggap akan menurunkan produktivitas para TKI yang bekerja selain ditakuti sebagai penyebar penyakit ini di negara tempat para TKI bekerja nantinya.

Tes lain yang menjadi kontroversi adalah tes HIV/AIDS dan Hepatitis untuk pemeriksaan jenis penyakit ini dibutuhkan kemampuan dan fasilitas khusus tidak semua laboratorium memilikinya. Dan ada pelayanan khusus bagi mereka yang akan melakukan uji ini terutama HIV/AIDS.

Sumber: http://nasional.vivanews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5197